Iklan

Namanya Maria Butina. Cantik. Seksi. Berbahaya. Dia adalah definisi sempurna femme fatale dari Rusia. Senin (16/7), dia menjalani hearing perdana atas dakwaan spionase. Perempuan 29 tahun itu diyakini menjadi mata-mata yang merugikan Amerika Serikat (AS).

Iklan

’’Saya datang dari Rusia. Kalau Anda jadi presiden, bagaimana kebijakan luar negeri yang Anda terapkan terhadap negara saya?’’ tanya Butina sebagaimana dilansir The Guardian. Saat itu Donald Trump belum menjadi presiden. Butina mewawancarai tokoh 72 tahun itu di Las Vegas pada Juli 2015.

Pertanyaan tersebut mungkin sudah lama dilupakan publik AS. Namun, tidak demikian dengan jawaban Trump. ’’Saya rasa, hubungan saya akan semakin dekat dengan Putin,’’ ujarnya ketika itu.

Ajang Freedomfest menjadi saksi jawaban Trump yang sampai saat ini masih membuat publik Negeri Paman Sam bertanya-tanya. Yakni, apakah dia dan Putin benar-benar punya hubungan dekat.

Sebenarnya, kehadiran Butina ke acara yang dihelat di Negara Bagian Nevada itu juga mengundang tanya. Mengapa dia harus jauh-jauh datang dari Rusia hanya untuk menanyakan kebijakan Trump? Apalagi, saat itu Trump bukan siapa-siapa. Dia hanyalah pebisnis kaya raya yang suka berbicara ngawur soal politik dan pemerintahan.

Namun, setahun sebelum pemilihan presiden (pilpres) AS digelar, Butina seolah-olah sudah tahu bahwa Trump akan menjadi pemimpin Gedung Putih. Dia begitu getol menjalin relasi dengan orang-orang di sekitar Trump. Salah satunya lewat National Rifles Association (NRA), kumpulan warga sipil pemilik senjata api.

Itulah yang membuat Butina ditangkap akhir pekan lalu. Dia dituduh memata-matai AS demi kepentingan Rusia. Selain lewat NRA dan berinteraksi dengan orang-orang dari Partai Republik, dia juga menuntut ilmu di AS. Sejak 2016, dia tercatat sebagai mahasiswi University of American di Washington DC.

Namun, jaksa pemerintah yakin status itu hanyalah kedok. Dengan menjadi mahasiswi, Butina punya alasan untuk mendekati orang-orang di sekitar Trump. Apalagi, dia cukup tenar di kalangan Republikan karena beberapa kali ikut kongres NRA. Reputasinya sebagai penggemar senjata api pun tak diragukan lagi. Sebab, dia merupakan salah seorang pendiri organisasi Right to Bear Arms di Rusia.

Organisasi yang lahir pada 2012 itu mengantarkan Butina pada pertemanan elite dengan politikus-politikus AS. Salah satunya Paul Erickson. Berdasar investigasi yang masih berjalan sampai sekarang, Butina kedapatan beberapa kali mengirimkan surat elektronik (surel) kepada tokoh konservatif yang juga anggota NRA tersebut. Isi surel-surel itu juga beragam. Mulai membahas senjata sampai politik.

Dalam salah satu surelnya, Butina menyatakan bahwa Trump akan memenangkan pilpres AS. Dalam surat bertajuk proyek diplomasi, dia mengibaratkan dirinya sebagai pakar propaganda KGB pada era Perang Dingin. Klaim itu tidak diabaikan AS. Apalagi, dia juga punya hubungan baik dengan Wakil PM Rusia Dmitry Rogozin yang beberapa kali hadir dalam acara Right to Bear Arms.

Maria Butina

Alan Gottlieb dan istrinya, Julianne Versnel, aktivis senjata Rusia, mengingat Butina sebagai sosok yang provokatif. Setidaknya terlihat dari gaya berpakaiannya. ’’Jika tidak memakai kemeja yang kancingnya tertutup semua sampai atas, dia mengenakan baju yang tiga kancing teratasnya dibiarkan terbuka,’’ ungkap Versnel.

Pasangan itu mengaku sering diundang makan malam oleh Butina dan Alexander Torshin. Torshin adalah mentor Butina sekaligus pejabat senior di Bank Sentral Rusia. Kedekatan Butina dengan Torshin itu membuat AS semakin yakin bahwa perempuan dengan senyum menggoda tersebut memang mata-mata.

’’Dia adalah perempuan yang tahu benar bagaimana memanfaatkan kecantikannya dan kemudaannya. Dia selalu sukses menjadi pusat perhatian dalam setiap percakapan,’’ kata Gottlieb. Kini dengan dakwaan serius yang disandangnya, Butina terancam hukuman 10 tahun penjara.

Namun, pengacara Butina, Robert Driscoll, yakin kliennya tidak bersalah. Dia menyatakan bahwa Butina hanyalah perempuan yang kebetulan tertarik pada dunia politik dan ingin menjalin hubungan baik dengan pejabat AS.

’’Saya akan berusaha membersihkan namanya,’’ tegas Driscoll. (bil/c5/hep)