batampos.co.id – Pelaksanaan meet and greet dan screening Buffalo Boys berlangsung meriah di Mega Mall Batam Centre, Sabtu (21/7). Film ini mendapat tempat di hati sebagian besar penonton yang memadati Studio XXI, kemarin sore.

Pujian dan kritik membangun pun mengalir dari para penonton usai film usai .”Filmnya keren sekali. Produksi lokal dengan rasa Hollywood. Menakjubkan,” ujar salah satu penonton, Cucum Suminar kepada koran ini.

Sama halnya dengan Danan Sumirat. Warga Batam Center ini mengemukakan film ini secara visual sangat keren. Demikian juga aksi laga yang seru antar pemainnya yang terlihat natural dengan perpaduan pedesaan Jawa zaman dahulu yang indah.

“Tapi ada satu yang menggelitik. Drama personal di dalamnya kurang menggigit. Namun secara umum, untuk film action produksi Indonesia, ini sudah baguslah. Apalagi diproduksi di Batam lagi. Keren banget. Saya bangga Kinema Studios sudah mampu memproduksi film berkelas internasional seperti ini,” ungkap Danan.

Batam Pos juga berkesempatan mengikuti screening film bertema percampuran action, fiksi dan sejarah ini. Diawali dengan latar gurun di California, Amerika pada 1860, para tokoh utamanya diperkenalkan dalam sebuah kereta. Adalah Jamar (Ario Bayu) mengadakan pertarungan judi dengan pria berbadan besar (Conan Stevens). Pertarungan itu disaksikan adiknya, Suwo (Yoshi Sudarso) dan juga pamannya Arana (Tio Pakusadewo).

Jamar dan Suwo merupakan putra ningrat, Sultan Hamza (Mike Muliadro), kakak kandung dari Arana. Sultan tewas di tangan penjajah Belanda bernama Van Traach. Kematiannya disaksikan sendiri oleh Arana saat mereka melarikan diri dari tanah Jawa ke Amerika.

Enam bulan setelah judi tarung di atas kereta itu, Arana bersama dua ponakannya ini pun pulang kembali ke tanah kelahiran mereka di Jawa yang masih dijajah Belanda, membalaskan dendam atas kematian ayah dan abang yang begitu mencintai Pulau Jawa.

Selama 104 menit film ini berlangsung, ada begitu banyak aksi pertarungan fisik yang sadis di dalamnya. Pilihan percakapan antar pemain di dalam film ini menggunakan dua bahasa, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Sudah dilengkapi substitle yang sangat bersahabat bagi penonton penyandang disabilitas atau berkebutuhan khusus.

Sutradara Mike Wiluan menyebutkan film ini dengan bangga ia persembahkan sebagai film nasional Indonesia yang diangkat dari fantasi. “Kami mengembangkan banyak sekali unsur Indonesia di film ini. Mulai dari wardrobe batik dan kain khas Indonesia lainnya yang dikenakan pemain, scene di berbagai tempat sejarah seperti di Candi Prambanan, di Benteng Tua di Ambarawa, dan juga beberapa scene lainnya yang dikerjakan di Kinema Infinite Studios sendiri di Nongsa, Batam,” ujar Mike.

Mike juga mengatakan, film ini diproduksi oleh Infinite Frameworks bekerjasama dengan Zhao Wei Films.

“Proses pembuatan film ini memakan waktu 40 hari. Untuk latar scene di Kinema proses pembuatannya seminggu. Film ini menggabungkan action, thriller, komedi, dan juga drama. Ada banyak emosi di film ini,” ujarnya.

Selain melibatkan banyak aksi dalam penayangannya, juga mengandung nilai sejarah dimana zaman penjajahan dulu betapa Indonesia dikuasai Belanda dari segala sudut. Selain itu, ada juga nilai moral dari film ini, yakni ungkapan Seruni kepada suaminya Arana dan ponakannya Jamar saat mereka dikepung Belanda, bahwa ‘dendam adalah hak, tapi mengampuni akan membuat batin lebih tenang dan bahagia‘.

Tak hanya itu, film ini juga secara tak langsung mengkritisi kultur patriarki yang dianut sebagian besar masyarakat, yang terlalu mengekang perempuan.

Berapa biaya pembuatan film ini? Mike tidak mau menyebut angka. Hanya saja secara eksplisit ia menyebutkan mengeluarkan dana yang besar.

“Sangat banyak. Tapi tidak melebihi budget yang saya sediakan,” ungkapnya.

Film ini sendiri telah tayang di seluruh bioskop di Indonesia sejak 19 Juli lalu. Penayangannya sedikit lebih lama dibanding di Kanada dan Amerika dan langsung mendapat respon positif dengan poin 7,8 versi IDMB. (cha)


loading...