Iklan
Arnita Rodelina Turnip (Istimewa/facebook)

batampos.co.id – Lisnawati, ibu Arnita, bercerita panjang soal bagaimana semangat anaknya dalam belajar. Sejak kecil Arnita memang dikenal sebagai anak yang bijak. Dia beserta tiga adiknya dikenal aktif beribadah di Gereja. Tepatnya di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS).

Iklan

Di gereja itu salah satu pengurusnya adalah Deliansen Saragih Turnip, sang ayah Arnita.

“Dia selalu tampil kalau ada kebaktian gereja. Kalau ada kesenian dia selalu tampil. Foto-fotonya juga masih saya simpan,” kata Lisnawati kepada JawaPos.com, Rabu (1/8).

Dengan aktif berkegiatan di gereja, Arnita pun sering diajak pendeta untuk mengikuti perlombaan tentang pengetahuan tentang Injil. Ketika menginjak usia remaja dan menjelang tamat di SMA, sulung dari empat saudara itu mengikuti seleksi penerimaan program Beasiswa Utusan Daerah (BUD) di Kabupaten Simalungun.

Dari seleksi itu dia dinyatakan lulus. Gadis anggun itu diterima di Fakultas Kehutanan-Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun akademik 2015/2016.

Menjelang berangkat ke Bogor mengikuti kuliah di IPB, sambung Lisnawati, Arnita menghadapi pergejolakan pemikiran. Dia banyak mempelajari tentang Islam. Tiga bulan bulanan.

Akhirnya pada September 2015 Arnita mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi berpindah keyakinan dengan memeluk agama Islam.

Setelah menjadi seorang muslimah, penampilannya berubah. Arnita yang dulu tidak berjilbab, kini berhijab syar’i. Hijab itu hampir menutupi seluruh badannya. Hal itu menunjukkan dirinya semakin dia serius berislam.

Lebih jauh Lisnawati bercerita, sebetulnya beberapa hari jelang Arnita memutuskan jadi mualaf sang ayah sempat berupaya menghalangi sikapnya itu.

Deliansen Saragih Turnip menolak anak sulung berbeda keyakinan dengannya. Apalagi pria yang biasa dipanggil Turnip sehari-hari tercatat sebagai salah satu pengurus di Gereja Kristen Protestan Simalungun.

Deliansen sempat mewanti-wanti Arnita, jika pindah agama. Hal itu akan berpengaruh pada pendidikannya di IPB.

“Kuliahmu pasti akan terganggu. Saya tahu bagaimana bupati (Bupati Simalungun) kita itu,” sebut Lisna menceritakan perkataan sang suaminya.

“Ayahnya pernah menyarankan Arnita untuk tamat dulu di IPB dan baru masuk Islam,” ujar Lisna.

Kendati sang ayah menolak tapi Lisna berpikiran tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk melarang si anak untuk berpindah keyakinan.

“Akhirnya ayahnya mengalah,” kenangnya.

Kini setelah Arnita memeluk Islam, sang orang tua merasa mendapat cobaan besar. Sebab kini kuliah anaknya di IPB terputus. Selain itu si anak tengah berupaya berjuang di rantau orang untuk membekali hidup. Dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Arnita berjualan secara online, mengajar les, dan sempat membuka usaha Laundry.

Jasa cuci pakaian itu dinamai Turnip Laundry. Usaha Arnita ini juga yang membuat hati sang ayah luluh. Dia melihat marganya dipakai jadi nama dalam bisnis. Sehingga, Lisna bersama suami berusaha untuk mengembalikan anaknya kuliah lagi di IPB.

“Jadi bapaknya itu teringat, dia tidak terima Arnita masuk Islam. Tapi ternyata dia (Arnita) masih ingat. Dibawanya nama marga. Dari situlah bapaknya kemarin baik lagi hatinya ke Arnita. Ternyata anaknya masih sayang,” katanya.

Arnita Rodelina Turnip (Istimewa/facebook)

Sang ayah akhirnya menerima Arnita yang mualaf. Saat Arnita pulang ke Simalungun, sang ayah memeluknya.

“Arnita ini anak kebanggaan kami. Sangat sayang kepada kami kepada adik-adiknya. Kalau kemana-mana dia pasti diingatnya untuk beli oleh-oleh. Walaupun uangnya sedikit pasti disisihkannya beli oleh-oleh buat kami,” beber Lisna penuh lirih.

Sebagaimana diketahui, Arnita merupakan mahasiswi Fakultas Kehutanan IPB yang diterima pada tahun akademik 2015/2016. Ketika menjalani kuliah dia awalnya didanai dari Pemkab Simalungun melalui BUD.

Dari perjanjian kerja sama IPB dengan Pemkab Simalungun, Arnita dibiayai kuliahnya hingga semester sembilan. Perjanjian itu dapat berjalan hingga tuntas dengan catatan di selalu mendapatkan indeks prestasi (IP) di atas 2,5. Sementara di dua semester kuliah dia selalu mendapat IP 2,71.

Sementara hak Arnita dari BUD itu, selain dibayarkan uang kuliah tunggal (UKT)-nya, diajuga mendapatkan uang saku sebanyak Rp 6 juta per semester. Uang saku itu langsung ditransferkan ke rekening Arnita, sedangkan UKT dibayarkan Pemkab Simalungun ke IPB.

Ternyata di semester dua tahun akademik 2015/2016, Arnita tidak lagi menerima uang saku. Pada memasuki semester tiga UKT Arnita tidak dibayarkan lagi oleh Pemkab Simalungun melalui BUD.

Padahal Arnita sudah terlanjur mengisi kartu rencana studi (KRS) secara online di IPB. Akibatnya dia tidak ada masuk kelas dan statusnya sebagai mahasiswa nonaktif.

(pra/JPC)