Anindya Bakrie (kenakan tanjak) bersama para peserta Rapimprov IV Kadin Kepulauan Riau 2018.
foto: instagram

batampos.co.id – Perusahaan konglomerat besar Bakrie Group berminat menanamkan modalnya di Batam. Namun dengan satu syarat, pemangkasan birokrasi yang memberikan kepastian dalam berusaha.

“Kami selalu mencari peluang dimana-mana. Baik itu urusan properti, urusan tambang. Lalu manufaktur,” kata CEO PT Bakrie Global Anindya Bakrie di Bintan, Sabtu (5/8) usai mengikuti Rapat Pimpinan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kepri.

Ia kemudian mengungkapkan bahwa dulu Bakrie Group ingin berbisnis properti di Batam. Namun masih banyak persoalan terutama masalah birokrasi yang membuatnya ragu berinvestasi.

“Dulu sempat melihat kemungkinan main di properti. Tapi belum ada yang konkrit (birokrasi,red) disini,” paparnya.

Putra sulung pengusaha ternama Aburizal Bakrie ini mengatakan sudah sepantasnya Batam menjadi ujung tombak perekonomian. Pertumbuhan ekonominya harus lebih tinggi dari nasional.

“Itu baru benar. Apalagi karena potensi kedekatannya dengan Singapura yang merupakan sisi baiknya,” jelasnya.

Ia juga mengikuti perkembangan situasi ekonomi di Batam. Batam menurutnya sudah sangat majemuk tingkat diferensiasi industrinya.

“Untuk industri berbasis pelabuhan. Galangan kapal dari dulu jadi favorit. Belum lagi Pak Habibie ingin elektronik di Batam. Sekarang properti juga sudah tumbuh,” ungkapnya.

Diferensiasi industri merupakan hal yang bagus karena Batam punya banyak lini industri yang bisa diandalkan. Saat industri yang satu mengalami penurunan, Batam masih bisa bergantung dari industri lainnya.

Namun, keunggulan tersebut bisa menjadi senjata makan tuan jika pemerintah tak bijaksana dalam tentukan arah kebijakan kedepan.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Organisasi Keanggotaan dan Pemberdayaan Daerah ini juga melihat persoalan di Batam berada pada birokrasi.

“Hal yang terpenting itu birokrasi gampang. Karena orang mau investasi itu harus berpikir panjang,” jelasnya.

Jika birokrasi dipangkas, maka tinggal menyusun rumusan perizinan dan insentif menari.

“Kalau misalnya di sini tak atraktif. Tak ada alasan Dolar masuk ke sini. Intinya apapun itu, pangkaslah birokrasi. Buatlah bisnis semakin mudah,” harapnya. (leo)

Respon Anda?

komentar