Petugas cargo Bandara Hang Nadim Batam sedang melakukan pengangkuta barang kiriman baik yang mau naik maupun yang turun dari pesawat. | Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Bandara Internasional Hang Nadim mencatat pertumbuhan jumlah barang di kargo untuk rute domestik meningkat di tahun ini. Namun, untuk rute internasional mengalami penurunan.

Dari data Hang Nadim, hingga kini barang yang masuk dan keluar melalui kargo dari awal tahun hingga Juni sebanyak 26,8juta kilogram. Sedangkan rute internasional sebanyak 223,6ribu kilogram.

“Ada peningkatan, tapi tidak terlalu signifikan,” kata Direktur BUBU Hang Nadim Batam, Suwarso, Jumat (3/8).

Suwarso menuturkan barang yang masuk atau keluar melalui kargo Hang Nadim hampir sama banyaknya. “Masuk itu 13juta kilogram, keluar juga 13juta kilogram,” ungkapnya.

Tahun 2017, setiap bulannya barang yang masuk maupun keluar melalui rute domestik rata-rata 1,5juta kilogram. Sedangkan tahun ini, rata-rata 2,1 juta kilogram. Sementara itu melalui jalur internasional tahun 2017 rata-rata perbulannya 203ribu kilogram. Tahun 2018 ini hanya 37ribu kilogram perbulannya.

“Peningkatan ini karena tahun ini semakin banyak toko-toko online shop. Sehingga lalulintas barang di kargo menjadi lebih padat dibandingkan tahun lalu,” ucap Suwarso.

Barang-barang online shop yang dikirim keluar maupun datang ke Batam itu berupa sepatu, baju, dan tas. Sementara pengiriman barang-barang hasil industri di Batam, disebutkan Suwarso masih minim. “Beberapa waktu lalu itulah, pengiriman pipa melalui pesawat antonov,” ujarnya.

Selain itu, setiap minggunya ada pengiriman chip hasil produksi perusahaan di Mukakuning ke Singapura.

“Kalau pengiriman ini, sudah ada pesawat tersendiri disediakan,” tuturnya.

Sebenarnya, kata Suwarso pengiriman hasil industri melalui Hang Nadim lebih murah dibandingkan melalui Singapura. Karena untuk pengisian bahan bakar lebih murah 2 persen di bandingkan di Bandara Changi.

Landing fee lebih murah 10 persen dan parkir lebih murah 15 persen,” katanya.

Saat ditanya terkait banyaknya keluhan masyarakat lambatnya pengiriman barang. Suwarso menuturkan itu bukanlah karena kesalahan di kargo. Namun saat ini untuk pengiriman JNE, TIKI atau jasa pengiriman lainnya, tidak bisa lagi naik pesawat Lion Air.

“Karena kini mereka sudah ada jasa pengiriman sendiri, Lion Parcel. Jadi untuk dikirim itu tentu mereka mengutamakan jasa pengiriman mereka sendiri,” tutur Suwarso.

Akibat tidak bisa lagi naik pesawat Lion Air Group. Suwarso menuturkan beberapa jasa pengiriman beberapa kali terpaksa harus mencarter pesawat.

“Khusus untuk mengirim saja, kalau gak salah itu JNE carter Boeing 737 400. Beberapa maskapai untuk mengakomodir permintaan jasa pengirimin ini, kadang mengerahkan pesawat berbadan besar seperti Airbus A 330,” ucap Suwarso. (ska)

Respon Anda?

komentar