batampos.co.id – Industri halal tengah mencari jalan agar bisa berkembang di Indonesia, khususnya Batam. Kementerian Perindustrian telah belajar ke Malaysia agar bisa menggodok regulasi yang diperlukan untuk mengembangkan kawasan industri halal.

“Sebenarnya saat ini kami masih dalam tahap membuat regulasi. Malaysia adalah contoh yang tepat. Karena sudah 30 tahun berjalan dengan baik. Dari sisi regulasi dan infrastruktur juga sangat mendukung sekali,” kata Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian Ignatius Warsito, Jumat (3/8) di Wisma Batamindo.

Ia kemudian mengatakan kawasan industri halal adalah kawasan industri tempat berkumpulnya perusahaan-perusahaan yang produknya sudah berlabel halal.

Selama ini industri halal yang mengantongi sertifikat halal seperti Danone, Nestle, Orang Tua Group dan lainnya terpencar-pencar. Padahal jika terkonsentrasi di satu titik, maka proses rantai pasok barang (supply chain) dan distribusi akan semakin lancar dan efisien.

“Regulasi yang berjalan di Malaysia, industri halal disana hanya boleh mengambil komponen produksi dari industri halal lainnya yang berlokasi di tempat yang sama,” katanya.

Indonesia kata Warsito mencoba untuk mengadopsinya. Keuntungan yang jelas terlihat adalah sesama industri halal disana akan saling melengkapi dan saling membutuhkan. Dan ini menciptakan persaingan yang sehat dan menciptakan iklim investasi yang bagus.

“Disamping itu, juga memastikan agar produknya tidak terkontaminasi dari luar. Di dalam kawasan industri halal, tentu komposisi bahannya lebih terjamin,” jelasnya.

Pemerintah katanya akan coba mengadopsi sejumlah regulasi industri halal di Malaysia. Contoh yang lain adalah pemberian insentif pajak seperti Tax Holiday selama 10 tahun bagi industri halal yang masuk kawasan industri halal di Malaysia.

“Malaysia itu pusat industri halal terbesar di dunia. Contohnya adalah di Pantai Indah Industrial Park di Selangor. Mereka menjalin kerjasama dengan Singapura sebagai pusat distribusi produknya,” ucapnya.

ilustrasi

Hingga saat ini kata Warsito, produk halal Malaysia banyak yang diekspor ke China. Warsito mengatakan bahwa China saat ini sudah menjelma sebagai salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

“Namun produk halal bukan hanya digemari oleh negara yang banyak penduduk muslimnya. Tapi juga oleh negara non muslim karena komposisi bahannya yang teruji kualitasnya,” ungkapnya lagi.

Produk halal saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Bukan hanya disukai negara muslim saja tapi juga diincar oleh negara non muslim. Produk halal sudah menjadi standar mutu di dunia dan diakui penduduk dunia karena komposisi bahannya yang lebih ramah ke tubuh manusia.

“Sudah ada ketentuan bahwa produk halal itu harus seperti apa. Sudah seperti menjadi ISO sendiri yang diterapkan dan diakui dunia,” katanya.

Di tempat yang sama, Ketua Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri Ok Simatupang mengatakan sejumlah kawasan industri di Batam dan Bintan sudah mempersiapkan lahan untuk pengembangan kawasan industri halal.

“Sudah banyak investor yang datang kemari untuk mencari peluang investasi produk halal. Namun terbentur kenyataan bahwa di Indonesia, regulasinya belum ada sama sekali,” ungkapnya.

Secara garis besar, produk halal yang diminati ada empat kategori. Pertama, produk makanan dan minuman. Kedua produk kosmetik. Ketiga produk obat-obatan dan keempat adalah produk fashion lifestyle.

“Dan yang paling digemari adalah makanan dan minuman karena bahannya sudah terjamin. Bahkan banyak produsen produk halal datang dari negara non muslim seperti Nestle dari Swiss atau Danone dari Prancis,” ujarnya.

Mengambil pelajaran dari Selangor merupakan pilihan tepat. Karena sejak 30 tahun berdiri, mereka sudah meraup investasi sebesar 19 Miliar Dolar Amerika.

“Kami berharap pemerintah bisa segera adopsi saja. Pengalaman Malaysia sudah 30 tahun lamanya. Dan kami juga berharap agar jangan ada lagi regulasi yang menyulitkan pengusaha,” paparnya.(leo)

Advertisement
loading...