batampos.co.id – Di Maroko baru-baru ini ada kebijakan larangan pemasaran dan penjualan burqa (cadar). Khususnya pakaian perempuan muslim yang super tertutup yang hanya menyisakan bagian mata yang terlihat.

Padahal Maroko merupakan negara berpenduduk muslim yang jumlahnya mencapai 99 persen.

Kementerian Dalam Negeri Maroko mengatakan, tujuan larangan penggunaan cadar karena terjadi kekhawatiran atas keamanan.

Seperti dilansir US News, para perempuan yang memakai cadar ditakutkan akan dapat menyembunyikan identitas mereka jika terlibat dalam keanggotaan militan.

Tak hanya itu perempuan yang mengenakan cadar juga dicurigai melakukan kejahatan, termasuk pencurian. Di luar masalah keamanan negara, kekhawatiran nyata bagi pemerintah moderat Maroko adalah penyebaran radikal, SalafistIslam.

Salafisme telah dikaitkan dengan ISIS dan terorisme di Afrika Utara.

Perhatian Maroko terhadap terorisme diperparah oleh fakta mereka menerima sekitar 10 juta pengunjung setahun dan sebagian bergantung pada pendapatan pariwisata untuk pengembangannya. Pemerintahnya percaya bahwa melarang burqa akan membatasi ekspresi Islam radikal dan akan membantu menahannya.

Sebagian kecil perempuan di Maroko yang merupakam sebuah negara di mana modernitas dan tradisi hidup bersama dan yang raja, Mohammed VI, memupuk Islam moderat mengenakan cadar. Padahal sebelum cadar, The jellaba yang merupakan jubah berkerudung adalah pakaian bersejarah perempuan Maroko

Secara tradisional dikenakan dengan cadar yang disebut litham dan dipakai bersama mereka menutupi wajah dan tubuh wanita, kecuali matanya. Selama perjuangan kemerdekaan, khususnya pada 1940-an, djellaba adalah simbol nasionalisme dan perisai identitas.

(trz/JPC)

Respon Anda?

komentar