Penambang pasir ilegal masih beraktifitas mengambil pasir menggunakan mesin dompeng cara disedot lalu memasukkan ke dalam lori di Tembesi, Sagulung, Senin (6/8). Padahal tim terpadu sudah merazia tetap saja para penambang pasir ilegal ini nekat mengambil pasir. Seperti ini harus ada ketegasan dari pemerintah. Ini akibat ada kelonggaran dan tidak ketegasan mangkanya penambang ini nekat mengambil pasir yang merusak lingkungan dan Dam Tembesi. F Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Aktifitas tambang pasir di dekat Dam Tembesi kembali beroperasi. Padahal sudah dua kali ditertibkan oleh Direktorat Pengamanan Badan Pengusahaan (Ditpam BP) Batam.

Penertiban terakhir sebulan yang lalu namun itu tak merubah apapun. Aktifitas illegal itu malah kian marak seperti kebal hukum.

Camat Sagulung Reza Khadafi kembali angkat suara. Dia berharap agar ada tindakan tegas dari pihak yang berwenang sehingga kerusakan lokasi tangkapan air itu tidak bertambah parah. “Sudah rusak parah lingkungan di sana. Jangan diperparah pagi. Ini harus ada tindakan yang tegas,” ujar Reza, Selasa (7/8).

Menindak lanjuti persoalan itu Reza mengaku pihaknya akan kembali menyurati instansi pemerintah terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam dan Ditpam BP Batam agar aktifitas itu segera dihentikan.

“Kami akan komunikasikan lagi karena penertiban-penertiban sebelumnya tak ada efek,” katanya.

Penghentian aktifitas tambang pasir itu diakui Reza sangat diperlukan untuk menjaga lingkungan tangkapan air ataupun pemukiman warga di sekitarnya. Jika aktifitas itu dibiarka maka dam Tembesi yang menjadi cadangan air warga Batam akan kembali dangkal sebab tanah sisa limbah dari aktifitas tambang dibuang ke lokasi dam. Begitu juga dengan lingkungan perbukitan di lokasi tambang terancam punah sebab akan dikeruk habis oleh para penambang.

“Banyak dampaknya. Kalau ada kajian lingkungan melalui amdal mungkin ada solusinya,” tutur Reza.

Masyarakat sekitar juga berharap yang sama. Aktifitas tambang pasir yang sudah lama berlangsung itu harus segera dihentikan sebab merusak lingkungan.

“Setiap hari mereka kerja. Lama-lama rata semua bukit ini sampai ke jalan raya sana,” tutur Erwin, warga Tembesi.

Pantauan di lapangan, aktifitas tambang pasir darat itu terus berlanjut sampai siang kemarin. Puluhan truk pengangkut pasir keluar masuk ke lokasi tambang. Para pekerja dengan beberapa unit mesin penyedot pasir juga selalu ramai di lokasi tambang. Pasir hasil tambang diantar ke berbagai toko material bangunan yang ada di kota Batam. Informasi yang didapat pasir darat tersebut dijual Rp 800 ribu pertruk roda enam. (eja)

Respon Anda?

komentar