Iklan

batampos.co.id – Pusat gempa ada di Lombok Utara, tapi korbannya merata di semua wilayah Pulau Lombok. Mereka tersebar di kampung-kampung, mengungsi di tanah kosong dengan tenda seadanya. Kini, dua hari setelah gempa, warga mulai kekurangan stok makanan. Air bersih juga makin sulit didapatkan. Warga membutuhkan selimut dan tenda untuk berteduh.

Iklan

Seperti yang dialami warga Dusun Limbungan Selatan, Desa Taman Sari, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat. Di kampung itu, hampir semua rumah warga luluh lantak. Warga hanya bisa pasrah dengan kondisi itu. Rumah mereka tidak bisa ditempati lagi. Untuk sekedar berteduh, beberapa keluarga berkumpul dan membuat tenda dari terpal dan bambu. Bahkan untuk mandi, mencuci dan buang air, warga membuat MCK dadakan.

Tapi kini para korban mulai resah. Persediaan makanan yang mereka kumpulkan mulai menipis. Beras, gula, minyak goreng, dan lauk pauk makin sedikit. Tidak akan cukup untuk beberapa hari ke depan. Amaq Suli, pria yang sehari-hari bekerja serabutan itu bingung, panganan sudah hampir habis. Ia dan tujuh anggota keluarga hanya memiliki 10 biji lontong untuk dimakan bersama. ”Ini lontong sisa kemarin, kami tidak berani habisikan, biar ada buat makan besok,” kata pria paruh baya itu.

Lontong itu dibeli istrinya seharga Rp 10 ribu. Lontong itu menjadi pengganti nasi karena beras sudah tidak ada. Masrah sang istri mengaku, ia membeli lontong dari sisa hasil menjual cilok sebelum terjadi gempa. ”Ini sekedar buat ganjel perut,” katanya pasrah.

Amaq Suli mengaku belum mendapat bantuan dari pemerintah. Sejak gempa menghancurkan rumahnya, tidak ada bantuan yang datang. Baik dalam bentuk makanan, minuman maupun tenda. Keluarga Suli tidak seberuntung keluarga lain, saat Lombok Post menemuinya siang kemarin, keluarga ini belum punya tenda. Pada malam hari mereka mengaku kedinginan. ”Mudahan ada yang bisa bantu kami,” katanya dengan nada iba.

Amaq Suli, warga Dusun Limbungan Selatan Desa Taman Sari, Lombok Barat menunjukkan sisa –sisa lontong untuk dimakan selama beberapa hari ke depan.
FOTO: SIRTU/LOMBOK POST

Hal yang sama juga dikeluhkan Abdulrahim. Sejak hari pertama gempa ia dan 11 kepala keluarga lainnya bergotong royong membuat tenda dari terpal. Di sana mereka makan dan tidur bersama sekitar 50 orang dengan anak-anak. Kini stok makanan sudah hampir habis. Itupun makanan yang disumbangkan keluarga dan kerabatnya. ”Mana listrik mati, rumah kami rusak,” keluhnya.

Ia mengaku sangat kecewa. Hingga kemarin belum ada bantuan datang. Karena kesal, ia dan warga lainnya baru saja menyampaikan protes kepada kepala desa setempat. Warga mendesak agar bantuan segera disalurkan.

”Di sini banyak anak kecil, kasihan kalau malam mereka kedinginan,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah cepat tanggap. Bantuan mestinya tidak hanya disalurkan ke Lombok Utara saja, tetapi mereka yang ada di Lombok Barat juga sama-sama membutuhkan. Hal serupa dikeluhkan Mahsan, warga Dusun Pemegatan, Desa Taman Sari. Kampung mereka belum mendapat perhatian sama sekali. Padahal rumah satu kampung roboh seperti warga lainnya. Meski kampungnya cukup jauh dari jalan besar, berada di pinggir hutan, mereka juga butuh bantuan segera. ”Tenda kami tidak ada, di sana banyak orang tua dan anak-anak kasihan sekali,” keluhnya.

Ia sudah menyampaikan protes ke pemerintah desa, tapi sepertinya tidak bisa terlalu banyak berharap. Mereka hanya ingin kebutuhan dasar itu terpenuhi. ”Bagaimana coba, tolong kita dibantu,” katanya.

Kecamtan Gunung Sari masih satu jalur dengan Lombok Utara yang menjadi pusat gempa. Teruk-truk bantuan dari Mataram hanya melintasi desa mereka. Desa Taman Sari sendiri bisa diakses menggunana sepeda moto atau mobil, hanya saja lokasinya ada di bagian pedalaman, lebih dekat dengan hutan.

Malam sebelumnya, Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi meminta agar semua korban gempa mendapatkan bantuan. Termasuk yang mendesak adalah bantuan makanan dan tenda. Dapur umum juga sudah dibuat di beberapa titik dengan melibatkan banyak pihak.

Hanya saja karena dampak gempa cukup luas ke beberapa daerah. Hampir semua warga belum berani pulang ke rumah. Sehingga kemungkinan besar masih ada yang belum tersentuh. Pemerintah akan berupaya agar semua kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan tenda tempat berteduh akan dipenuhi. ”Kalau memang dirasakan masyarakat kita 12 jam belum mendapat makanan, kami minta maaf, tapi setelah itu terus kita perbaiki,” katanya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB H Muhammad Rum meminta aparat desa, dan BPBD kabupaten aktif melaporkan data dan kondisi warga terdampak. Mereka harus tetap melaporkan ke Posko Komando Tanjung. Bila pemerintah setempat tidak aktif mendata dan tidak melaporkan, maka bantuan dari pusat dan provinsi tidak bisa disalurkan. ”Penyaluran bantuan tidak boleh liar, semua harus sesuai data,” tegasnya.

Bila data jelas maka bantuan akan cepat disalurkan. Menurutnya persediaan logistik dan kebutuhan dasar lainnya mencukupi, tinggal disalurkan. Tapi syaratnya data penerima harus jelas.

Rum mengingatkan, pemerintah kabupaten tidak boleh enggan datang ke Posko Tanjung, karena itu posko provinsi yang menjadi lokasi komando bagi semua daerah. BNPB tidak mungkin menggelar rapat di semua kabupaten. ”Kalau malas mengurus warganya tidak usah dipilih lagi,” tegasnya.

105 Warga Meninggal Dunia

Terpisah, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa 7,0 SR mencapai 105 orang. Terbanyak di Lombok Utara dengan 78 orang meninggal, Lombok Barat 16 orang, Kota Mataram 4 orang, Lombok Timur 3 orang, Lombok Tengah 2 orang, serta dua korban lainnya dari Kota Denpasar,Bali. Data sementara juga menunjukkan 236 orang luka-luka. Ribuan rumah rusak serta ribuan warga mengungsi. Ia memastikan, semua korban adalah warga negara Indonesia(WNI). ”Belum semua data masuk,” katanya.

Sementara untuk proses evakuasi warga yang terjebak masjid roboh di Desa Landing-landing, Kecamatan Tanjung Lombok Utara, petugas berhasil menyelamatkan 1 orang korban, sementara dua orang meninggal dunia atas nama Sugiyo alias Amaq Murni, 65 tahun dan satu orang belum teridentifikasi. Hingga sore kemarin, proses evakuasi masih terus dilakukan Basrnas, TNI dan Polri.

Disamping itu, proses evakuasi wisatawan di tiga gili hingga Senin (6/8) lalu, 4.636 orang baik wisatawan asing maupun warga lokal sudah dievakuasi ke Pulau Lombok. 3.673 orang dibawa ke Pelabuhan Bangsal, 193 orang ke Pelabuhan Lembar, dan 770 orang ke Pelabuhan Benoa. Hingga siang kemarin evakuasi masih terus dilakukan menggunakan 11 kapal. Dalam proses evakuasi ada dua orang meninggal dunia, tapi Sutopo memasitikan tidak ada warga asing jadi korban meninggal.

Dalam pencarian dan penyelamatan serta evakuasi korban gempa, tim Basarnas membagi menjadi lima titik. Sektor A di masjid Desa Landing-landing Kecamatan Tanjung, ditemukan 1 orang selamat dan 2 meninggal. Sektor B di Puskesmas Tanjung, tim menemukan dua korban meninggal dunia, dan diperkirakan masih ada korban lain.

Sektor C di Desa Supek, Muara Penjalin, diduga satu korban tertimbun. Sektor D di Masjid Bangsal Pemenang, diduga ada korban tertimbun, dan sektor E di Gili Trawangan, Gili Meo dan Gili Air. ”Masih ada warga lokal dan wisman yang perlu dievakuasi,” katanya.

Masih Ada 21 Desa Terisolir

Dalam keterangan resminya, Sutopo juga menyebutkan ada 21 desa terisolir dan membutuhkan bantuan. Di Lombok Utara ada delapan desa diantaranya Desa Bayan Beleq, Desa Mumbul Sari, Desa Medane, Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan. Desa Teniga dan Desa Tegal Maja Kecamatan Tanung, Desa Tukak Bendu Santong, Desa Salut Kecamatan Kayangan. Warga membutuhkan makanan, terpal, selimut, air bersih, penerangan, obat-obatan dan tenaga medis.

Tiga desa di Kecamatan Gunung Sari Lombok Barat yakni Desa Mekar Sari, Desa Kekait, dan Desa Wadon. Warga membutuhkan tenda, tikar, selimut, makanan, obat-obatan, genset, dan tenaga medis.

Sementara 10 desa lainnya ada di Desa Obel-obel, Desa Belanting, Desa Dara Kunci, Desa Madayin, dan Desa Bagik Manis di Kecamatan Sembalia. Kemudian Desa Sajang, Desa Sembalun Lawang, Desa Sembalun Timba Gading, Desa Sembalun Bumbang, dan Desa Bilok Petung di Kecamatan Sembalun. Warga membutuhkan makanan, selimut, air mineral, makanan siap saji, MCK, obat-obatan, dan trauma healing.

Kendala yang dihadapi dalam penanggulangan bencana gempa Lombok antara lain, listrik yang masih padam di Lombok Utara dan sebagian Lombok Timur. Pemadaman dikarenakan beberapa infrastruktur jaringan dan gardu rusak. Layanan komunikasi juga terganggu karena jaringan seluler sempat terputus.

Lima jembatan akse bantuan rusak, diantaranya Jembatan Tempes yang menghubungkan Kecamatan Kayangan dan Bayan. Jembatan Lokok Duren yang menghubungkan Kecamatan Kayangan dengan Kecamatan Gangga. Serta Jembatan Sokong yang mengalami kerusakan pada balok induk 15 cm.

Kendala lain, hingga saat ini belum ada sumber air untuk MCK di Desa Obel-obel, sebab mata air dan sumur di Lombok Timur kering. ”Kegiatan ekonomi masih lumpuh total masyarakat mengandalkan bantuan logistik,” katanya.

Terjadi 230 Gempa Susulan

Hingga kemarin gempa susulan pasca gempa 7,0 SR terus terjadi sebanyak 230 kali hingga pukul 08.00 Wita. Kondisi itu membuat warga masih cemas dan sebagian besar mengungsi ke lapangan terbuka. Apalagi siang kemarin, terjadi gempa susulan 5,5 SR kembali mengguncang Lombok. (ili)