batampos.co.id  – Pemerintah sudah resmi menaikkan harga gas industri, khususnya untuk wilayah Batam. Kenaikannya sekitar 52 persen. Namun kenaikan harga dilakukan dalam dua tahapan dan berlaku untuk kontrak baru.

“Sesuai dengan surat yang disampaikan oleh Dirjen Migas kepada PLN Batam pada 10 September 2018, kenaikan harga gas akan dilakukan dalam dua tahapan,” kata Kepala Departemen Perencanaan PLN Batam, Kirana.

Kirana menjelaskan, tahap pertama kenaikan harga itu berlaku mulai Oktober 2018 hingga September 2019. Besarannya 25 persen.

Kemudian mulai Oktober 2019 hingga Oktober 2021 harga akan naik lagi sebesar 27 persen. Hingga 2021 mendatang, total persentase kenaikan harga gas bumi mencapai 52 persen dari harga saat ini sebesar 3,8 dolar AS pe MMBTU atau naik menjadi 5,8 dolar AS per MMBTU.

“Tapi PLN Batam minta ke Dirjen Migas agar kenaikan harga gas dilakukan dalam tiga tahapan. Yaitu tahun pertama tetap 4,64 dolar AS per MMBTU. 2020 dinaikkan menjadi 5,25, terakhir di tahun 2021 menjadi 5,8 dolar AS,” kata Kirana.

Meski ada kenaikan harga gas, Kirana memastikan PLN belum berencana menaikkan tarif listrik. Setidaknya dalam waktu dekat ini.

Padahal, kata dia, dengan kenaikan harga gas pada tahap pertama sebesar 25 persen per Oktober nanti, biaya pokok produksi (BPP) PLN Batam diperkirakan akan naik hingga 6 persen.

Saat ini, dengan harga gas 3,8 dolar Amerika per MMBTU, total BPP mencapai Rp 1.380/kWh, sementara tarif listrik ke pelanggan sebesar Rp 1.444/kWh.

“Marginnya hanya 4,6 persen,” jelasnya.

Jika nanti harga gas mencapai 5,8 dolar Amerika per MMBTU, maka BPP PLN Batam diperkirakan menjadi 1.552/kWh. Maka, jika PLN tidak menaikkan tarif listriknya, PLN akan merugi karena marginnya mencapai minus 6,9 persen.

Kirana menambahkan, saat ini PLN Batam sudah mendapatkan kepastian alokasi gas bumi dari Ditjen Migas Kementerian ESDM. Alokasi gas ini diperoleh dari perpanjangan kontrak Cophi Batam I-IPP yang akan berakhir pada Oktober 2018 ini dan kontrak Cophi Batam II-PLN yang akan habis pada Juli 2019 mendatang.

Untuk kontrak Cophi (ConocoPhilips) Batam II-PLN, PLN Batam akan mendapat pasokan gas bumi di ConocoPhillips di Grissik, Sumatera Selatan, sebesar 40 BBTU per hari. Harganya 5,8 dolar AS per MMBTU.

Sementara pada kontrak jual beli gas lainnya, PLN mendapat alokasi gas sebesar 30 BBTU per hari hingga 2021 mendatang. Harganya lebih murah, yakni 5,44 dolar AS per MMBTU.

Seoarng petugas Perusahaan Negara Batam Hitler Simatupang melakukan pemeriksaan Metering Regulating Station (MRS) PGN Megamall Batamcenter, Rabu (22/11/2017). infeksi tersebut untuk memastikan kualitas dan tekanan gas yang sampai ke pelanggan. F Cecep Mulyana/Batam pos

Tarif Listrik Jangan Naik

Terpisah, Wakil Gubernur Kepri Isdianto mengatakan Pemerintah Provinsi Kepri mengusahakan tarif listrik tidak naik saat ini.

“Gubernur pastilah sedang berusaha untuk itu (tidak menaikan tarif listrik),” katanya, Rabu (19/9).

Ia memahami kondisi ekonomi masyarakat yang serba sulit saat ini. Apabila tarif listrik naik, tentunya akan berdampak langsung ke masyarakat. Karena kenaikan listrik ini juga dapat mengerek harga-harga barang atau bahan pokok kebutuhan rumah tangga.

“Pastilah, listrik naik, semuanya naik. Ini kami sedang berusaha agar tarif ini tidak naik,” ungkapnya.

Kalaupun kebijakan kenaikan tarif listrik ini tidak dapat dihindari, maka Pemprov Kepri berusaha menekan kenaikan ini tidak terlalu tinggi. “Kalaupun ada tidak akan sebesar kenaikan gas elpiji juga,” ujarnya.

Terkait dengan lobi-lobi, Isdianto mengatakan sudah dilakukan berbagai pendekatan. Selain itu berbagai opsi sedang dicarikan oleh pemerintah, agar kenaikan gas ini tidak membebani kehidupan masyarakat.

Sementara itu, Gubernur Kepri Nurdin Basirun enggan berbicara tentang kebijakan yang akan diambilnya terkait dengan kenaikan harga gas industri. “Sudah, sudah. Kemarin kan sudah ngomong,” kata Nurdin saat ditemui di Datarang Engku Putri Batam Center, Batam, kemarin. (ian/ska)

Advertisement
loading...