ilustrasi

batampos.co.id -Tujuh nama yang masih duduk di DPRD Kepri memilih untuk meninggalkan DPRD Kepri pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 mendatang.

Berdasarkan Daftar Calon Tetap (DCT) Pemilihan Legislatif Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kepri, dipastikan ada 39 kandidat petahana yang kembali bersaing untuk duduk di DPRD Kepri priode 2019-2024 mendatang.

“Khusus untuk Pileg DPRD Kepri, memang sejumlah nama yang saat ini duduk di DPRD Kepri tidak lagi mencalonkan diri di Pileg DPRD Kepri 2019 mendatang,” ujar Komisioner KPU Kepri, Arison menjawab pertanyaan Batam Pos, Jumat (21/9) di Tanjungpinang.

Menurut Arison, ada sejumlah nama yang memilih untuk maju di jalur perseorangan. Mereka adalah Surya Makmur Nasution dan Sukri Fakhrial. Keduanya maju ke DPD.

Sedangkan yang maju di tingkat DPR RI adalah Huznizar Hood dan Susilawati.

Masih kata Arison, dalam DCT yang sudah diumumkan, pihaknya tidak menemukan adanya nama Amir Hakim Siregar Abdurrahman, dan Wan Norman Edi.

“Sedangkan dewan yang pindah partai tetap dinilai sebagai kandidat petahana,” papar Arison.

Mantan Ketua KPU Bintan itu menyebutkan nama-nama dewan yang pindah partai, namun mencalonkan lagi.

Mereka adalah, Syarifah dan Tengku Afrizal Dachlan yang sekarang maju melalui Partai NasDem. Kemudian ada nama Raja Astagena maju melalui Partai Demokrat.

“Politik itu pilihan, maju atau tidak itu juga pilihan. Apalagi persoalan pindah partai,” tutup Arison.

Terpisah, Akademisi Sekolah Yinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Tanjungpinang, Endri Sanopaka mengatakan, peluang kandidat petahana tetap terbuka. Menurutnya, nama-nama yang berpeluang duduk tentunya adalah mereka yang pandai merawat konstituennya. Apalagi dalam menatap kampanye, kandidat petahana punya dana aspirasi untuk menghadapi itu.

“Mereka yang pandai merawat konstituen peluangngnya sangat terbuka. Tetapi yang tidak ada perhatiannya, alamat tidak akan terpilih kembali,” ujar Endri Sanopaka.

Belum lama ini, Ketua Komisi I DPRD Kepri, Abdurrahman mengatakan alasannya untuk tidak mencalokan diri. Yakni ingin istirahat dari dunia politik. Keputusannya itu juga untuk memberikan laluan bagi kader-kader PKS untuk duduk di DPRD Kepri.

“Ingin istirahat saja dari keramaian politik. Yang penting kita punya regenerasi kader. Sehingga tidak kehabisan figur,” ujar Abdurahman.(jpg)

Advertisement
loading...