Taman Bermain, Tempat Sosialisasi, dan Psikologis Anak Berkembang



Chahaya  Simanjuntak
Wartawan Batam Pos

chahayaSAYA pernah mendengar  iklan  detergen begini, ”Biarkan anak-anak anda kotor (dalam artian yang sebenarnya)”. Iya, jangan pernah melarang saat mereka bermain, dengan begitu otak mereka akan terstimulasi mengetahui dan berupaya membersihkan diri saat mereka tahu mereka kotor usai bermain, lalu berkomunikasi dengan Anda meminta bantuan dibersihkan. Secara bersamaan itu sudah membantu tumbuh kembang­nya dalam bersosialisasi dengan lingkungan dan berdampak psikologi yang baik dengan diri sendiri.

Ada salah satu iklan produk susu  anak yang saya sukai, Life is an adventure. Disitu, anak-anak bebas bermain, berpetualang sesuai keinginannya. Benar, dari mereka kecil, sosialisasi dan lingkungan bisa mempengaruhi siapa mereka setelah besar nanti.

UUD Tahun 1945 Negara Republik Indonesia pasal 31  ayat 1 menyatakan Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak. ‘Pendidikan yang layak’ bukan hanya dari segi formal saja, tapi negara juga harusnya menyediakan sarana pendidikan non formal lainnya, seperti taman bermain umum yang bisa dipakai seluruh warga negara, termasuk anak.

Menyikapi kurangnya taman bermain di Batam, harusnya Pemerintah Kota Batam jeli. Batam sebagai kota heterogen yang sibuk, menuntut anak untuk hidup mandiri lebih cepat dibandingkan perkembangan usianya. Betapa tidak, kesibukan kerja kedua orang tua untuk pemenuhan hidup sering membuat waktu berkualitas bersama anak minus.

Anak yang seharusnya aktif belajar alam sekitar dari orang tua, kini banyak terpapar area orang dewasa dengan gaya hidup ala city urban. Saat anak berangkat ke sekolah, orang tua sudah berangkat kerja. Saat anak pulang sekolah, orang tua masih di tempat kerja. Saat anak sudah tidur, orang tua baru pulang kerja. Minimnya waktu bertemu orang tua, sangat berdampak bagi psikologis mereka. Alhasil nanti, cepat atau lambat, Batam akan menghasilkan anak-anak yang pasif, apatis, dan egoisme tinggi,  minus sosialisasi, malas, individualis, sulit berkonsentrasi, bahkan ketergantungan akut terhadap teknologi yang berdampak tentu saja bagi masalah kesehatan juga.
Ganti peran orang tua dari pengasuh saja tak cukup membentuk siapa mereka.

Bagaimana mengatasinya? Beri waktu saat hari libur berkunjung ke taman bermain umum. Ajak mereka berkomunikasi, bersenda gurau, tertawa bersama. Berdiskusi sambil menikmati aneka jenis permainan dan olahraga di dalam taman tersebut. Namun, di Batam, ini sangat sulit terpenuhi. Taman bermain dengan fasilitas lengkap, ah fasilitas standar saja susah ditemui alias tidak ada. Jadi, bagaimana bisa orang tua dan anak membentuk komunikasi dengan lingkungan? Alhasil mereka berpindah ke sosialisasi yang itu-itu saja, mall to mall atau melakukan perjalanan keluarga selain di rumah. Itu bagi kalangan berduit, bagaimana bagi kalangan menengah ke bawah?

Batam perlu membuat taman bermain anak. Engku Putri yang digadang-gadang menjadi taman kota, pusat bermain umum mengembangkan hobi dan kreativitas masih belum bisa dinikmati maksimal oleh semua kalangan dan anak. Taman Kolam di Sekupang, tak layak dijadikan taman bermain anak karena kurangnya fasilitas pendukung dan sudah terpola menjadi tempat nongkrong anak muda. Jadi dimana lagi? Pemerintah Kota perlu memikirkan ini. Memberikan, kalau bisa prioritas 5 persen anggaran untuk membangunnya.

Batam merupakan kotamadya administratif, yang terdiri dari 12 kecamatan. Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan, usia rata-rata penduduk, usia produktif 17-45 tahun, ini berarti angka kelahiran dan penduduk anak juga tinggi, dan harusnya ada fasilitas umum dari pemerintah yang bisa menampung mereka.

Nyatanya, keberadaan taman bermain anak sulit ditemukan di Batam. Alhasil para orang tua pun memanfaatkan  taman bermain tingkat pendidikan usia dini seperti playgroup, TK dan sejenisnya. Padahal di sana, tak semua anak bisa menikmatinya, tergantung dari kemampuan ekonomi si orang tuanya.

Usia dini anak-anak merupakan periode emas pembentukan siapa mereka, pertumbuhan fisik, kecerdasan, hubungan emosional dengan lingkungan dan diri yang ditunjukkan dalam sosialisasi di taman bermain. Arena bermain anak banyak ditemukan di mal, tapi inikan tidak semua anak mampu menikmatinya. Batam perlu lahan terbuka hijau untuk bermain anak yang dapat dengan mudah dijangkau semua kalangan.

Voice of Amerika pernah mengadakan survei perbandingan ruang bermain anak di Indonesia dan Amerika di 2012 lalu. Hasilnya menyimpulkan rata-rata ruang bermain anak Indonesia hanya 2.000 meter persegi per anak, atau  hanya seperlima dari ruang bermain anak-anak  di wilayah Amerika dan Eropa, sekitar  10.000 meter persegi per anak.

Jika menilik dari kepadatan penduduk, sempitnya lahan bermain di Batam, disebabkan kurangnya keseimbangan pembangunan di berbagai kecamatan, sehingga adanya tempat bermain untuk anak di kawasan permukiman menjadi hal yang langka dan sulit diperoleh, padahal seharusnya, pemerintah menyediakannya. Ironis.

Saat ini, pembangunan taman bermain anak harusnya dapat diaplikasikan di area taman kota. Selain menjadi wahana rekreasi bagi anak, juga meningkatkan lahan terbuka hijau yang semakin defisit. Semestinya keberadaan ruang terbuka hijau yang ideal di setiap kawasan, 30 persen dari total luas wilayah kota, tapi ini tak akan terjadi di Batam akibat banyak lahan sudah beralihfungsi. Yang harusnya hutan lindung dijadikan pusat perbelanjaan, yang harusnya taman kota dijadikan pusat bisnis dan rumah tinggal oleh berbagai kelompok kepentingan. Ini menciptakan paradigma aspek kehidupan dan perilaku di perkotaan, tak terkecuali pada anak.

Kurangnya kesempatan bagi anak mengobservasi dan mengeksplorasi alam dan sekitar secara langsung, bisa menciptakan generasi Nature Deficit Disorder bagi negara ini. Para anak akan mengalami gangguan kesehatan mental dan fisik akibat minimnya  sosialisasi terhadap lingkungan dan alam sekitar. (Richard Louv dalam bukunya The Last Child in the Woods).

Selain kemiskinan dan kemajuan teknologi, terjadinya perilaku Nature Deficit Disorder ini dikarenakan kurangnya perhatian dan dukungan pemerintah dalam menyediakan taman bermain anak. Seharusnya, anak yang lahir pada generasi sekarang, yang disebut generasi platinum ini, sangat beruntung. Di mana alam dan kemajuan teknologi dan informasi sejalan. Hanya saja, ketidakpekaan pemangku jabatan dalam menyediakan ruang terbuka  dan pemikiran instant para orang tua yang mencekoki mereka dengan aneka games dan smart multimedia membawa dampak negatif bagi perkembangan anak.

Bagaimanapun fungsi alam sekitar sangat besar peranannya dalam membantu perkembangan anak dan menciptakan rasa peduli terhadap lingkungan. Lingkungan alami akan memungkinkan anak bergerak bebas, sehingga menjaga kesehatan fisik, mental dan sosial dalam hal berinteraksi dengan sekitar.

Taman bermain  merupakan salah satu upaya menjaga dan melestarikan pola hidup anak sebagai aset bangsa yang akan memainkan peranan negara di masa depan. Pembangunan dan perbaikan taman kota sebagai lahan bermain anak di Batam perlu mendapatkan dukungan semua pihak, baik pemerintah dan masyarakat. ***



Komentar Pembaca

komentar