Parade Tari Kepri 2013 Kini Mulai Cerdas



BACKDROP panggung itu warna hitam. Logo Provinsi Kepri, diikuti oleh logo kabupaten kota tersusun apik secara vertikal. Di tengah atas kain hitam itu, terdapat tulisan Parade Tari Daerah 2013, sedangkan tulisan Dinas Kebudayaan sebagai penyelenggara di bagian di bawah, persis bagian tengah yang kosong muncul identitas penampil dengan menggunakan proyektor ketika pembawa acara membacakan sinopsis yang akan tampil. Ada kesan, panggung parade tari di halaman Gedung Daerah Tanjungpinang Sabtu, 18 Mei malam itu tampil (sedikit) lebih profesional.

Luar biasa. Kata-kata ini pantas dialamatkan pada 15 karya tari dengan 12 koreografer yang ikut ambil bagian pada malam itu.  Konsep karya yang mereka usung ke panggung membuktikan mereka kini mulai cerdas. Koreografi di daerah ini tidak sepi, bahkan bak jamur yang tumbuh subur ketika musim hujan datang. Intinya, pertunjukkan malam itu telah menjadi indikasi, para koreografer muda di Kepri punya kemampuan yang perlu diasah, baik  koreografi, penggalian akar tradisi serta usaha pencarian gagasan karya yang baik. Sayang, kebanyakan dari mereka di beberapa daerah kabupaten dan kota masih (terpaksa) menjalani proses kreatif musiman. Hal ini terjadi karena kelangkaan wadah dan forum koreografi itu sendiri. Barangkali ini menjadi catatan penting dan mendesak untuk dikaji oleh pihak-pihak yang berkompeten.

Potensi penari yang dimanfaatkan oleh masing-masing koreografer, mendekati keseimbangan satu sama lainnya. Kendati, pada banyak bagian, ada kehadiran penarinya yang belum lagi mengarifi seni tari sebagai pengekspresian jiwa yang mempengaruhi segala bentuk psikis atau psikologis dari gerak dan isi tari yang dipagelarkan. Namun perlu pula dicatat, keinginan mereka yang besar untuk keluar dari konvensi mereka lakukan. Seolah ada kesan, mereka mulai merambah kewilayah seni pertunjukan yang sesungguhnya yang tidak lagi dibatasi oleh waktu, musik, dan kostum yang serba glamor. Akan tetapi mereka mulai berani memberontak ingin keluar dan memberikan penafsiran lebih luas terhadap tradisi yang membesarkannya.

Gawe tahunan ini mendatangkan 3 eksekutor. Mereka adalah Wiwik Sipala, Dosen di Institut Kesenian Jakarta dan Konsultan Seni Pertunjukan Indonesia. Kemampuan dan kematangan seorang Wiwik di dunia tari tidak perlu diragukan lagi. Kedua, Evi Martison. Tidak banyak yang tahu, kalau Evi Martison adalah seorang penari dan koreografer. Dia juga sebagai penata musik handal di tingkat Nasional. Juri ketiga Raja Murad. Sebagai seorang seniman dan budayawan lokal, ia telah lama dan tahu dengan perkembangan koreografi di Tanah Melayu. Melihat komposisi ketiga eksekutor ini, tanpa disadari, kepala Dinas Kebudayaan menyadari, bahwa menilai karya tari, ada dua disiplin ilmu. Oleh karena itu menilai tari bukan hanya pada gerak saja, melainkan juga musik sebagai pengiringnya.

Beberapa saat sebelum pengumuman hasil lomba, Wiwik Sipala mengatakan kemampuan para penari jika ditinjau dari teknik, ekspresi dan perkembangan karya telah banyak mengalami kemajuan. Satu catatan yang mungkin perlu dipertimbangkan ke depan adalah kecenderungan koreografer membuat sinopsis yang terkesan berat dan panjang, yang pada gilirannya ketika tema tersebut diangkat ke panggung menemui banyak kendala, akhirnya tanpa disadari masing-masing berjalan secara sendiri-sendiri.

Fenomena lain dari parade tari kali ini adalah kehadiran penari-penari muda, penari belia, miskin pengalaman, teknik menari anak sekolahan (SMP/SMA) yang baru saja bergabung kental terasa. Penari yang baik adalah harus mampu memproyeksikan isi atau jiwa tarian. Kalau ini belum dirasakan kehadirannya di atas panggung, agaknya karena usia mereka yang masih muda itu. Hal-hal ini banyak dirasakan pada karya tari pada malam itu. Salah satu jalan keluar dan  mendesak dilakukan adalah melakukan proses secara kontinyu. Artinya, mereka menari bukan hanya untuk sebuah iven saja.

Tari Isak Memandang Petang misalnya. Karya dari sanggar seni Lentera ini tampil dengan tafsir dan eksplorasi yang luar biasa. Kalau saja garapan ini ditarikan oleh penari yang piawai dan matang pengalaman, teknik yang baik, saya meyakini uang tunai Rp 20 juta yang disiapkan oleh panitia itu akan diboyong ke kabupaten Natuna. Karya tari Isak Memandang Pentang ini tidak hanya kaya dan bermain dengan bentuk, melainkan sudah merambah ke ranah isi. Kesetiaan mereka akan tradisi mulai diuji. Kecerdasan koreogarfer dengan kematangan konsep jelas terbaca. Penata musik juga demikian, gaya garap dan pola yang dipakaipun mampu memberikan nuansa yang enerjik pada penari. Artinya, musik diberikan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh garapan tari. Sekali lagi, mereka (memang) kurang diuntungkan dengan kemampuan penari yang masih muda belia.

Tari Kinayat Sindiran Pesan ke TMII Jakarta

Tidak bisa dipungkiri, tari yang sajiannya meriah nampaknya lebih disenangi. Sebaliknya karya tari yang tenang, anggun masih kurang mendapat sambutan. Kesan lain dari penampilan tari pada malam itu, beberapa garapan tari belum bisa melepaskan dari sifat suka-ria, tanpa usaha menghadirkan bobot. Akibatnya, komposisi gerak yang sudah cukup baik dan kuat menjadi cair. Demikian pula halnya dengan penari wanita yang selalu mengumbar senyum, penari laki-laki banyak menguras tenaga. Ada kesan energi diberikan lebih dari pada yang dibutuhkan.

Berbeda dengan  tari Kinayat Sindiran Pesan. Garapan yang mengadopsi cerita dari Tufat Al’Nafis ini (sedikit) tampil memukau. Keunggulan lain garapan ini adalah rapi secara penyajian dan beberapa kali memberikan kejutan-kejutan melalui ruang gerak di atas panggung. Selain itu,  karya ini didukung oleh penari yang cukup mumpuni dari teknik. Namun, Sunardi sebagai koreografer harus lebih arif, karena ruang kreatifitas masih terbuka lebar terutama pada penggunaan properti. Karena penggunaan kain sebagai properti agak rentan, apa sebab? kain boleh dikatakan telah sering menjadi sumber inspirasi bagi koreogafer selama ini. Pernyataan ini bukan mengatakan Sunardi itu plagiat.

Sekali lagi, tidak! Penulis hanya mau mengatakan, tidak ada jalan lain, koreografer harus mengeksplorasi, mencari dan memberi  penafsiran-penafsiran baru. Jujur saja, jika keunggulan karya ini hanya bertumpu pada bentuk dan mengenyampingkan pendalaman isi, maka karya ini tidak akan berbicara banyak di tingkat nasional.

Di sisi lain dua  jempol kita hadiahkan kepada koreografer lokal yang karyanya tanpa kita sadari telah berhasil menyalib koreografer pesanan dari luar. Mereka adalah koreografer harapan Kepri, potensi yang mereka miliki menjanjikan, Sebut,  Said Febrian pegawai Dinas Pariwisata Bintan dengan karya Bangsal Cine utusan Lingga. Kenakalan idenya menggarap tentang kehidupan orang China merantau ke Singkep lalu membuat perkampungan yang kemudian dinamakan Bangsal Cine bertengger dijuara 2.

Keberhasilan dua karya tari dari Lingga ini tidak didapatkan begitu saja. Melainkan melalui sebuah proses panjang. Jika di Tanjungpinang kita kenal Gawai Seninya, maka Lingga ada Rampai Seni Budaya Melayu (RSBM). Kegiatan ini ditaja setahun sebelum pelaksanaan parade tari di tingkat provinsi. RSBM ala Lingga ini sekaligus menjawab dan  mematahkan isu tak sedap yang berkembang sesaat setelah pengumuman pemenang oleh dewan juri.

Intinya, plagiat yang dituduhkan ke karya tari Kinayat Sindiran Pesan dan Bangsal Cine pupus sudah. Karena jelas-jelas dua garapan ini muncul jauh sebelum Provinsi Riau mengadakan parade tari. Di samping Febrian ada Heru Ihksan pegawai Dinas Pariwisata Tanjung Pinang dengan karyanya Ngenang utusan Bintan meraih harapan 1. Koreografer harapan Kepri itu tidak hanya Febrian dan Ihksan saja, melainkan masih ada nama-nama mahal lainnya, sebut Yudi Tengker Anambas, Raju Mahendra Tanjungbalai Karimun, Ari Givo Batam dan sederet nama lainnya.

Penata tari itu tidak dilahirkan, akan tetapi bakat memang harus ada. Keterampilan menata gerak dan memadukannya dengan unsur pentas yang lain, jelas diperoleh melalui latihan dan pengalaman. Persoalannya, bagaimana memanfaatkan bahan yang ada secara arif dan kreatif, tidak meniru, akan tetapi juga tidak asal baru. Sebagai penata tari pemula, mereka memang harus menjaga irama kreatifnya dengan selalu pentas dan mencipta. Karena dengan jalan itulah sebuah proses pencarian jati diri karya yang sesungguhnya.***

FAISAL AMRI SMA 4 Batam

Faisal Amri, S.Pd
Koreografer dan Guru Di SMA N 4 Batam



Komentar Pembaca

komentar