Jumat, 03 September 2010
Imlek Momentum Persatuan Keluarga (1) PDF Cetak E-mail
 Dibaca: 86 kali.
Ditulis oleh Redaksi   
Minggu, 14 Februari 2010 09:49

Catatan Anly Cenggana

Bumi selalu berubah tiada henti dari detik ke menit, menit ke jam, dan dari jam ke hari. Perubahan-perubahan yang terjadi dari masa ke masa, tumbuhan akan semakin besar, satwa terus berpopulasi semakin besar, manusia akan semakin dewasa dan matang dalam segala tindakan, demikian juga berubah mengikuti waktu.


Kini kalender Imlek akan segera berubah dari 2560 menuju 2561. Rasanya barusan merayakan Imlek beberapa waktu yang lalu, namun kini akan segera berganti lagi. Inilah kenyataan betapa cepatnya rotasi waktu berubah. Namun apakah telah terpikirkan oleh kita apa yang sudah kita lakukan setahun yang lampau? Maka daripada itu hendaknya kita selalu introspeksi diri atas lewatnya waktu yang tidak akan pernah kembali. Namun penting bagi kita untuk merenungkan dan mengoreksi diri untuk melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat di masa mendatang.


Hari Raya Imlek merupakan hari raya bagi etnis Tionghoa beragama Khonghucu diseluruh jagad raya. Dengan banyaknya orang Tionghoa yang tersebar di seluruh belahan bumi, maka konon dikatakan bahwa dimana matahari terbit di situlah ada orang Tionghoa. Oleh karena itu, dengan sendirinya bagi setiap orang Tionghoa akan merayakan pergantian tahun barunya dimanapun mereka berada. Salah satu wujud kongkrit perayaan pergantian tahun bagi warga Tionghoa adalah dengan adanya keramaian Chinese Town dengan segala atribut pernak-pernik yang didominasi lampion/lentera warna merah dan kuning mas dan disertai dengan membanjirnya jeruk lokam musiman dimana-mana yang juga turut memeriahkan perayaan tahunan dan peristiwa ini selalu dipublikasikan yang disimbolkan dengan dua belas jenis makhluk hidup.


Nuansa Imlek ini terasa meriah dimanapun, karena momentum ini dimanfaatkan oleh seluruh pelaku usaha dengan memperdagangan segala keperluan untuk menyambut Hari Raya Imlek, baik dengan membuat stand dagangan khusus keperluan Imlek dalam konteks “animo Imlek” dan dengan berbagai tawaran paket menyambut Hari Raya Imlek yang menarik.


Dunia usaha juga turut aktif dalam memasang sejumlah atribut untuk menyambut Hari Raya Imlek. Peran serta usahawan yang cukup meriah dengan mengadakan malam persatuan keluarga secara massal yang dikelola para pengusaha kuliner/restoran. Kepekaan dunia usaha terhadap momentum hari besar keagamaan tidak lain adalah untuk mendapatkan simpati pengunjung dengan membenahi dekorasi yang indah menawan agar damai dikunjungi dengan harapan dapat menghidupkan para pelaku usaha.


Dengan ramainya pelaku usaha, maka kelangsungkan hidup pengelola usaha akan sejahtera dan dapat memajukan usahanya dikemudian hari. Sejumlah pengusaha juga merintis usaha untuk keramaian kota menjelang Imlek dengan diadakannya acara bazaar di beberapa ruas jalan seperti bazaar yang diadakan di sekitar wilayah Nagoya Batam dengan menggelar festival Imlek. Upaya-upaya yang dilakukan tersebut diharapakan dapat mewujudkan kawasan pecinan yang dapat berpartisipasi dalam rangka menggerakkan nadi kota yang hidup dan dinamis.


Semua akan terasa hampa jika tanpa adanya keramaian rutinitas dari warga kota itu sendiri. Hal semacam ini dapat kita jumpai dimana-mana pada alun-alun atau pendopo di setiap kabupaten/kota dengan adanya halaman yang luas dan taman yang indah. Dari situlah setidaknya turut menghidupkan dinamika sebuah kota.  Semakin semarak dan dinamis. Akan tetapi, hal tersebut hendaknya diikuti dengan penataan yang ideal sesuai dengan lokasi dan ciri khas dari sebuah daerah.


Menjelang Hari Raya Imlek dunia transportasi diramaikan dengan arus mudik bagi kaum yang merayakannya. Mudik ini merupakan kebutuhan setiap orang yang merayakan hari kemenangannya untuk berkumpul dengan keluarga dan orang-orang yang disayangi yang terjadi tiap hari besar keagamaan apapun. Pada dasarnya, mudik bukan hanya sebagai lalu lalang orang saja, melainkan terdapat makna yang sangat mendalam dan penting dalam membentuk keutuhan keluarga. Umumnya terjadi dengan mendatangi keluarga yang lebih tua, dalam hal ini dimaksudkan adalah anak-anak bahkan cucupun kumpul bersama kakek/nenek pada malam menjelang Hari Raya Imlek.


Pada malam inilah yang merupakan nuansa terpenting bagi setiap keluarga sebagai lambang “persatuan keluarga”. Lambang persatuan keluarga disimbolkan dengan makanan “Steamboat/Luan Lo” yang terdiri dari berbagai macam makanan yang disukai, yang terdiri atas aneka sayuran dan makanan olahan, sari laut, dengan bentuk bulat yang melambangkan keutuhan keluarga dan segenap keluarga bersatu padu dalam menikmati jerih payah setahun yang lalu dengan falsafah jikala memperoleh rezeki dinikmati bersama dan sebaliknya menghadapi rintangan akan dipikul bersama.
Persatuan Keluarga


Keberadaan orang tua merupakan faktor penting dalam membina “persatuan keluarga”. Sebagai anak harus mampu menunjukkan tingkah laku bakti/berbakti kepada orang tua. Semasa orang tua masih ada kesempatan yang terbaik untuk mengungkapkan laku bakti, maka di saat hari nan bahagia setiap anak akan datang dan kumpul bersama orang tua. Di sinilah letak kebahagiaan yang tiada taranya bagi semua orang tua di dunia. Setiap orang tua akan sangat senang jika melihat buah hatinya telah berkumpul bersama dengannya. Dalam suasana ini setidaknya terdapat banyak makna, yang antara lain adalah;


1. Terbinanya “kerukunan” di antara saudara dan kerabat. Hal ini penting karena biasanya para saudara hidup terpancar antara satu sama lain sehingga sangat sulit untuk kumpul bersama. Oleh sebab itu, maka untuk membina keeratan dan kekerabatan dalam keluarga sangatlah diperlukan. Jika tidak pernah berkumpul maka sangatlah sulit untuk merajut hubungan yang komunikatif,


2. “Kekompakan” Dalam keluarga, hal ini penting untuk dilestarikan, karena dengan adanya kekompakan di antara sanak saudara dalam melakukan segala sesuatu maka segala hal yang dilakukan akan terasakan ringan.


3. Saling lebih “mengenal” sanak famili satu sama lainnya. Hal ini sangatlah realistis bahwa masing-masing saudara mempunyai keluarga sendiri-sendiri sehingga hidup berjauhan dengan kerabat family lainnya, sehingga tidak memungkinkan untuk saling mengenal lebih jauh bahkan akan tidak mengenal sama sekali jika tidak adanya upaya untuk acara kebersamaan dalam momen-momen yang ada.


4. Menumbuh kembangkan sikap saling “tolong menolong”. Bahwa di antara saudara-saudara yang sudah saling mengenal lebih mendalam akan karakter masing-masing maka memungkinkan adanya saling bahu membahu dan tolong menolong di kala diperlukan. Dapat dibayangkan jika tidak adanya komunikasi atau jarang berkomunikasi antar sesama anggota keluarga, maka rasanya tidaklah memungkinkan diantara saudara-saudara akan terjadi tolong menolong.


5. Meletakan pondasi kebersamaan saling “kerja sama”. Dalam menunjang kegiatan usahanya, hal ini sangatlah penting dalam membangun ekonomi keluarga agar semakin besar dan bahkan saling menunjang dari usaha yang satu dengan lainnya, bahkan bisa hingga menuju tingkat konglomerasi.


6. Menanamkan pondasi (sikap mendidik) kepada anak-anak agar selalu mengedepankan rasa “cinta kasih kepada orang tua”.  Hal ini diharapkan sebagai motivasi menjadi harapan di kemudian hari bagi para orang tua yang sudah manula dengan harapan anak-anak mereka akan turut melestarikan kegiatan yang positif ini, meskipun dengan biaya yang relatif tinggi yaitu jika dibandingkan dengan berkomunikasi dengan orang tua atas fasilitas kemajuan teknologi muktahir telekomunikasi dewasa ini seperti telepon, email maupun visualisasi fasilitas teknologi lainnya yang justru biayanya jauh lebih murah.


7. Dengan berkumpulnya anak-anak, orang yang paling bahagia adalah orang tua kita masig-masing. Hal ini kiranya dapat dirasakan oleh kita semua baik sebagai anak maupun sebagai orang tua. Dengan membahagiankan orang tua setidaknya kita telah berbuat bakti kepada orang tua dalam artian luas.
Silaturahmi


Menyambut hari raya merupakan nuansa penuh suka cita, di mana hati kawan-kawan yang merayakan akan terasakan riang gembira tiada tara, sejuk bagaikan embun di pagi hari, damai di hati bagaikan memeluk dunia yang diikuti dengan ungkapan positif dengan segala hal yang baik-baik seperti dari sisi usaha sukses, kesehatan yang baik, keselamatan tiada rintangan, usia panjang bagaikan gunung selatan di daratan China serta rezeki yang berlimpah ruah bagaikan luasnya lautan China Utara.


Sebagai teman dan sahabat tentu saja momen ini tidak dilupakan untuk saling silaturahmi sebagai tanda jalinan persahabatan. Setidaknya bisa melepaskan rasa kangen kepada sahabat yang mungkin beberapa waktu belum sempat untuk bertemu. “Kawan-kawan datang dari jauh tidakkah itu sangat menyenangkan” demikianlah yang disampaikan Nabi Khonghucu. Saya yakin kita akan sepakat dengan hal ini akan tetap ada di dalam sanubari hati kita setiap kali bertemu kawan-kawan apalagi yang sudah lama tidak bertemu dan baru sempat bertemu kembali. Maka daripada itu acara reunipun selalu digalakkan satu sama lain yang selalu kita ikuti selama ini. Bersilaturahmi memang penting untuk membina persahabatan di antara kita, setidaknya dengan saling memberi pengalaman akan perjalanan beberapa waktu lalu.


Akhir kata penulis mengucapkan selamat merayakan “Hari Raya Imlek” ke-2561 ‘’Gong Xi Fa Chai Wan Se Ru Yi Shen Yi Sing Long’’. Semoga Yang Maha Kuasa senantiasa membimbing, melindungi dan merahmati kita semua agar dimudahkan rezeki, panjang umur, sehat, sejahtera dan sukses selalu. Dan di tahun Shio Macan gagah ini dapat memberikan kekuatan prima kepada kita semua dalam menghadapi setiap tantangan kehidupan sehari-hari yang penuh rintangan, dengan ketangguhan kita untuk mampu bertahan dan merencanakan kebijakan dalam menata hari esok dengan penuh harapan dan marilah kita raih bersama-sama. Sekian dan terima kasih.


*Penulis adalah pengamat agama Khonghucu di Indonesia, berdomisili di Batam

 

Add comment


Security code
Refresh