|
 Ramadhan alias Madon, Syarifuddin, dan Hendra Kusuma (tengah), tiga dari tujuh perampok money changer PT Gemini Valasindo di Toko Simba Ruko Aviari, Sagulung, Batam akhirnya berhasil ditangkap bersama sebagian barang buktinya. Komplotan Rampok Lintas Daerah dan Negara
BATAM (BP) - Tiga dari tujuh pelaku perampokan tempat penukaran uang
(money changer) PT Gemini Valasindo di Toko Simba Ruko Aviari,
Sagulung, 9 November lalu dibekuk Tim Direktorat Reskrim Polda Kepri,
di tempat dan waktu berbeda.
Ketiganya adalah Syarifuddin alias Arif (26), Mohammad Ramadhan alias
Madon alias Kyai (30) dan Hendra Kusuma alias Angga alias Iwan Kurus
(30). Ketiganya merupakan anggota komplotan rampok lintas provinsi dan
negara.
Tim yang dipimpin Kasat III Ditreksrim Polda Kepri, Kompol Herry Heryawan dan Kanit I Sat II Ditreskrim Kompol Edward memburu pelaku hampir tiga pekan. Yang pertama dibekuk adalah Syarifuddin, 26 November lalu di Perumahan Rindang Villa, Batuaji Batam. Dari pemeriksaan Syarifuddin, polisi berhasil mengungkap pelaku lainnya yang berjumlah enam orang. Mereka adalah Ramadhan, Hendra, Mr B (DPO), Tm (DPO), IG (DPO), dan Pa (DPO).
Dari mulut Syarifuddin, polisi mengetahui bahwa tersangka lain berada di Palembang. Tim ini langsung bergerak dan berhasil menangkap Angga. Bila dicek di KTP-nya yang bersangkutan memiliki nama Hendra Kusuma. Saat dipertemukan dengan tesangka Syarifuddin, ia langsung mengakui ikut terlibat dalam perampokan di money changer PT Gemini Valasindo, Batuaji.
Angga sendiri merupakan residivis. Pada tahun 2000 terlibat kasus penjambretan di depan Hotel Pelangi Batam dan telah divonis 2 tahun penjara. Kemudian tahun 2002 terlibat curanmor di Kampung Utama Lubukbaja dan divonis 2 tahun 1 bulan. Sedangkan tahun 2005 terlibat penjambretan di Jalan Yos Sudarso depan Kantor Politeknik Batuampar dan divonis 2 tahun 6 bulan.
Pengembangan polisi di Palembang kemudian mendapatkan nama anggota komplotan lain yakni Madon atau Mohammad Ramadhan. Madon termasuk salah satu daftar pencarian orang (DPO) kasus perampokan yang terjadi Polres Baturaja, Sumatera Selatan. Madon pun dibekuk, Sabtu, 29 November 2008. Penangkapan lelaki yang tubuhnya lumayan subur ini, melibatkan jajaran Reskrim Polda Sumsel. Polisi terpaksa menembak lututnya lantaran mencoba melawan saat akan ditangkap.
Wakapolda Kepri Kombes Syahrial Ahiar mengatakan, komplotan ini tergolong licin. ”Mereka selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain. Bahkan, ada sekitar 100-an kasus perampokan di Malaysia yang diduga melibatkan komplotan mereka,” kata Syahrial didampingi Kapoltabes Barelang Kombes Slamet Riyanto dan Wakil Direktur Reserse Kriminal Polda Kepri AKBP Sulistiono kepada wartawan di Mapolda Kepri, Nongsa, Rabu (10/12).
Beberapa aksi kejahatan yang dilakukan komplotan ini, antara lain pembobolan ATM BCA di Simpang Tembesi 2006 silam, pencurian dengan kekerasan di Bengkong, curas di Perumahan Anggrek Mas II, Batam Centre dan perampokan money changer PT Gemini Valasindo, di Toko Simba Ruko Aviari, Blok B1 No 3A, Sagulung. Dari ATM BCA, mereka berhasil menggasak duit sebesar Rp200 juta, di Bengkong Rp14 juta, Anggrek Mas II Rp16 juta dan money changer PT Gemini Valasindo sebesar Rp300 juta.
Selain Kepri, mereka juga terlibat perampokan di Kota Bumi Lampung, Baturaja Sumatera Selatan, Jakarta dan Malaysia. Dalam menjalankan aksinya, mereka tak hanya bertiga, melainkan dibantu tiga rekannya yang kini masuk daftar pencarian orang (DPO) Polda Kepri.
Selain enam orang itu, masih ada Mr B, lelaki keturunan Tionghoa asal Tanjungpinang yang disebut sebagai otak atau perancang setiap aksi perampokan yang mereka jalankan. ”Mr B ini yang memantau dan menggambar situasi sebelum aksi perampokan mereka lancarkan,” tukas Wakapolda.
Tak hanya sebagai aktor, Mr B yang diduga kabur ke Malaysia ini juga menjadi pemodal utama. Ia tak segan menggelontorkan duit hingga jutaan rupiah untuk sewa kamar hotel maupun mobil demi memuluskan aksi kejahatan yang mereka lakoni. ”Sebelum hasilnya didapat, semua pakai duit dia dulu,” katanya
Perampokan money changer di Aviari paling menggegerkan warga Batam. Wakapolda Kepri mengatakan, dalam menjalankan aksi di tempat penukaran valuta asing tersebut, komplotan ini menggunakan dua mobil. Masing-masing Mitsubishi Lancer dan Toyota Corona. Dua roda empat itu disewa menggunakan uang Mr B. Saat beraksi, Mr B berada di dalam mobil Toyota Corona. Sementara, enam anak buahnya, termasuk Madon, Syarifufin dan Angga di mobil Mitsubishi Lancer.
Setelah sempat mengintai korbannya selama beberapa jam, Mr B menginstruksikan anak buahnya bergerak. Tepat pukul 22.00 atau sesaat sebelum rolling door di tempat oleh karyawan PT Gemini Valasindo itu ditutup, salah seorang dari mereka menyelinap sambil membawa uang sebesar 500 Ringgit, pura-pura tukar duit.
Begitu korban sibuk melayani, anggota lainnya bergegas masuk dan langsung mengacungkan pistol serta golok ke kepala korban. Kemudian, rolling door segera ditutup dan korban diikat dengan plakban. Setelah itu, komplotan ini menggasak seluruh duit yang tersimpan dalam brankas. Mr B sendiri terus memantau dalam Toyona Corona putih yang ia tumpangi.
Sekitar 15 menit kemudian, komplotan ini kabur sambil membawa uang senilai total Rp300 juta. Untuk menghilangkan jejak, mereka langsung mengembalikan mobil sewaaan itu dan menggantinya dengan mobil lain jenis Kijang Inova. Mereka pun tak langsung bubar. Malam itu, komplotan ini bersenang-senang. ”Mereka ke Diskotek Pacific menghambur-hamburkan uang,” ujarnya.
Sebagian hasil rampokan digunakan foya-foya, sedang sebagian lagi dibagikan Mr B kepada para anggotanya. Polisi sendiri punya tugas cukup berat menaklukan sang pimpinan rampok yang konon sedang gentayangan di Malaysia. ”Kita kerjasama dengan polisi di sana. Di Malaysia pun kasusnya cukup banyak. Ada sekitar 100-an kasus perampokan toko emas dan money changer yang melibatkan Mr B ini. Doakan saja mudah-mudahan dia cepat ditangkap,” harap Wakapolda.
Sementara itu, Tony, salah satu karyawan money changer PT Gemini Valasindo yang ditemui wartawan di tempat kerjanya kemarin mengatakan belum mengetahui kalau pelaku sudah tertangkap. ”Saya tidak tahu kabar itu. Kalau pun ada perkembangannya pasti tahunya dari koran,” katanya
Saat disinggung tentang kejadian perampokan yang dialaminya, ia sempat terdiam. Lalu menjawab. ”Urusan itu (kasus perampokan, red) biar bos saya yang urus. Sekarang saya tak mau memikirkan masa lalu, yang penting saat ini,” ujarnya.
Waktu ditanya apakah money changer tempat ia bekerja telah di pasang CCTV, ia langsung menjawab, dalam waktu dekat akan dipasang. Bosnya sudah berencana memasang alat itu. Namun ia belum tahu kapan pastinya. (ros/amx/mat)
|