BATAMKOTA (BP) – Pengadilan Negeri (PN) Batam dipastikan akan menggelar sidang pra-peradilan kasus dugaan kekerasan seksual anak di bawah umur oleh oknum kepolisian Ipda NH hari ini, Selasa (6/1). PN Batam telah menyiapkan hakim tunggal untuk memimpin sidang tersebut.

”Pra-peradilannya akan dipimpin hakim Merrywati,” kata Siti Fatimah, Panitera Muda Pidana PN Batam, kemarin (5/1).

Siti mengatakan, sidang pra-peradilan ini memiliki konsep semi-perdata. Sidangnya hanya dihadiri pihak pemohon dan termohon. Pihak pemohon adalah keluarga korban yang diwakili kuasa hukum. Sementara pihak termohon adalah pihak kepolisian.

”Tidak ada Jaksa Penuntut Umum di sini,” ujarnya lagi.

Sidang pra-peradilan ini menindak-lanjuti permohonan dari keluarga korban. Syahril, selaku kuasa hukum keluarga korban, mendaftarkan permohonan pra-peradilan pada Senin (29/12) lalu. Sidang pra-perdilan ini bertujuan mendorong pihak kepolisian untuk melanjutkan penyidikan terhadap Ipda NH yang sudah berstatus tersangka.

Dari berkas permohonan pra-peradilan tersebut diketahui Ipda NH telah berstatus tersangka sejak 18 September 2014. Ia tertangkap tangan melakukan kekerasan seksual terhadap ID di Hotel Sayang Nagoya.

Penangkapan dilakukan oleh lima orang polisi dari unit Kepolisian Sektor Batuampar dan dua orang keluarga korban. Ipda NH kemudian dibawa ke Mapolresta Barelang dan diperiksa di unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).

Syahril mengatakan, pihaknya telah mendatangi Mapolresta Barelang pada Senin (22/12) lalu. Pada hari yang sama saat ia ditunjuk sebagai kuasa hukum bagi DF, ayah kandung ID.

Di Mapolresta Barelang ia mempertanyakan kejelasan kasus. Ia menetapkan batas waktu hingga Kamis (25/12) lalu. Namun, hingga batas waktu terlampaui, tindak-lanjut kasus itu masih belum jelas.

Keluarga, kata Syahril, berharap ada itikad baik dari pelaku. Setidaknya, ada permintaan maaf. Namun, hingga saat ini, permintaan maaf itu tidak ada. Padahal, Ipda NH masih menjalankan tugasnya di kesatuan tersebut seperti sedia kala.

”Sudah tiga bulan dari tanggal tersebut lho. Ini dia (NH, red) masih dibiarkan melenggang santai saja,” ujarnya.
Syahril mengaku telah siap mengikuti sidang, hari ini. Ia akan berangkat langsung dari Jakarta pada pukul 06.00 WIB. ”Karena sampai saat ini saya masih berstatus sebagai kuasa hukum korban, saya masih melanjutkan sidang pra-peradilan ini. Kami siap,” katanya.

Syahril mengatakan, keluarga berharap Ipda NH segera ditahan. Ia mengajukan Pasal 82 Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagai pasal yang dilanggar oleh Ipda NH. Oknum perwira polisi tersebut akan diancam dengan hukuman penjara paling lama 15 tahun. (ceu)

Respon Anda?

komentar