BATAM (BP) – Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Energi Sumber Daya Mineral (Disperindag ESDM) Kota Batam menilai kelangkaan gas elpiji ukuran 3 kilogram (kg) dalam beberapa pekan terakhir, disebabkan ulah para spekulan. Sebab, selama ini distribusi lancar dan kuota gas satu bulan sekitar 800 ribu tabung aman.
Kabid ESDM Disperindag Kota Batam, Amiruddin mengatakan para spekulan ini membeli gas dalam jumlah besar.

”Distribusi lancar dan dengan kuota saat ini kalau tidak ada spekulan-spekulan yang bermain saya rasa bisa mencukupi kebutuhan gas (3 kg) di Batam,” ujarnya saat dihubungi, kemarin (6/1).

Selain itu, kata dia, kelangkaan juga dipicu oleh aksi sejumlah pihak yang membeli gas elpiji 3 kg lalu menyulingnya ke tabung gas 12 kg. Bahkan, dia menduga mereka bermain dengan pangkalan-pangkalan untuk dapat membeli gas bersubsidi ini. ”Untuk mengatasinya kami sedang menyusun protap pengawasan terhadap pendistribusian tabung gas elpiji 3 kg ini agar tidak ada lagi penyelewengan,” ujarnya.

Selain ulah spekulan tersebut, kelangkaan juga dipicu kuota gas elpiji 3 kg untuk Batam yang sangat terbatas. Untuk itu, dalam waktu dekat, Disperindag akan meminta penambahan kuota ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri. ”Saat ini kami sudah minta ke pihak provinsi agar membicarakan penambahan kuota gas elpiji 3 kg di Batam ke pihak Pertamina,” tuturnya.

Dia mengatakan, berdasarkan hitung-hitungan Disperindag bahwa kuota 800 ribu tabung dalam sebulan yang diberikan saat ini, sudah tidak mencukupi lagi akibat pertubuhan penduduk yang begitu cepat. Selain itu, banyak warga yang beralih dari ke gas 3 kg setelah harga untuk tabung ukuran 12 kg dinaikkan.

Amiruddin menambahkan bahwa kuota gas elpiji 3 kg untuk Kota Batam masih menggunakan kuota tahun 2009, yakni sebanyak 800 ribu tabung perbulan. ”Untuk mencukupi kebutuhan gas elpiji 3 kg Kota Batam, perlu adanya 900 ribu tabung dalam sebulan. Jadi kami minta tambahan kuota sebesar 100 ribu tabung lagi,” jelasnya.

Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Batam, Budi Mardianto menegaskan, dalam waktu dekat pihaknya akan mengundang seluruh stakeholder terkait kelangkaan gas elpiji 3 kg ini, seperti Pertamina, agen maupun pangkalan, serta Disperindag untuk sama-sama mencari solusi. ”Pertemuan nantinya intinya kami ingin tahu apa langkah mereka, apakah Pertamina mau menambah kuota atau seperti apa,” ujarnya.

Rutin Diantar
PT Dhiyah Kerosene Pratama selaku agen yang memasok gas 3 kg ke pangkalan seperti di SPBU Bengkong Sarmen menyatakan pihaknya rutin mengantar gas tabung berbentuk melon itu sebanyak tiga kali dalam seminggu. Dalam sekali antar, pihaknya menurunkan 80 tabung gas elpiji 3 kg.

”Setiap Senin, Rabu, dan Jumat kami antar seperti biasa, pekan lalu juga begitu jadi tak mungkin kalau dibilang kosong hingga tiga pekan,” kata M Nur, Manager Operasional PT Dhiyah Kerosene Pratama, Selasa (6/1).

Meski begitu, pihaknya mengaku tak tahu jika terjadi kelangkaan gas melon di wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir. Hanya saja, dia menduga ada peralihan pengguna elpiji kemasan 12 kg ke gas 3 kg lantaran adanya kenaikan harga yang mengakibatkan disparitas harga terlampau jauh.

Suplai Tetap
Sementara itu, PT Pertamina Kepri mengatakan sembari menunggu usulan resmi yang akan diajukan Pemprov Kepri ke pusat terkait jumlah kuota gas 3 kg untuk tahun 2015, suplai saat ini tetap berlangsung normal.

”Kita sesuaikan dengan konsumsi sehari-hari untuk Batam seperti pada bulan-bulan sebelumnya,” ujar Agung Nurhananto Putro, Sales Executive Pertamina Kepri, kemarin.

Pihaknya juga menyatakan sanggup menyediakan gas elpiji 3 kg sesuai kebutuhan masyarakat, termasuk jika terjadi lonjakan permintaan. Asalkan, kata Agung, permintaan itu berdasar usulan yang diajukan Disperindag dan ESDM Kota Batam.

Lebih lanjut, Agung mengatakan pihaknya hingga saat ini masih mencari format yang tepat untuk pendistribusian gas elpiji 3 kg ke masyarakat. Sejauh ini, Pertamina juga telah melakukan monitoring distribusi elpiji 3 kg dari agen sampai pangkalan dengan aplikasi SIMOL3K (Sistem Monitoring Penyaluran Elpiji 3kg).

”Dengan sistem itu kita bisa pantau jika ada jumlah pelanggan baru. Tapi secara umum, kita menjaga supaya masyarakat tidak beralih (dari 12 kg ke elpiji 3 kg),” katanya.

Sistem itu juga dipadu dengan metode pembayaran cash less (non-tunai) agar bisa dimonitor jumlah penyaluran gas melon yang disesuaikan dengan angka pembayaran dari pangkalan ke agen. (cr3/rna/gas)

Respon Anda?

komentar