Pembunuh-Eng-Lie
Terdakwa pembunuh Engli dan dua anaknya

 

BATAM (BP) – Majelis hakim Pengadilan Negeri Batam menjatuhkan vonis hukuman mati pada Reno Efendi, 19, pembunuh Eng Li, 40, dan dua anaknya Charissa Leonis alias Anfun, 15, dan Charvies alias Alung, 9, pada persidangan, Kamis (8/1). Majelis hakim menilai perbuatan Reno menghilangkan nyawa Eng Li dan kedua anaknya sangat tak manusiawi.

”Perbuatan itu telah direncanakan karena terdakwa merasa sakit hati. Namun sebelum pembunuhan terjadi terdakwa masih ada waktu untuk tidak melakukan hal itu. Tapi perbuatan tersebut masih dilakukan sehingga menghilangkan nyawa orang lain,” kata majelis hakim yang diketuai Cahyono didampingi hakim Alfian dan Neni saat membaca surat putusan.

Mendengar putusan hakim itu, Reno langsung tertunduk lesu. Didampingi kuasa hukumnya Bernard Uli Nababan, Reno tak dapat menyembunyikan raut penyesalan di wajahnya. Namun penyesalan itu tidak bisa membuat Eng Li dan dua anaknya kembali hidup, setelah ia bunuh beberapa bulan lalu. Ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dalam surat putusan yang dibacakan secara bergantian, majelis hakim menilai Reno terbukti bersalah setelah mendengar keterangan saksi dan terdakwa.

Majelis hakim juga sependapat dengan jaksa penuntut umum (JPU) Aji Sastrio bahwa terdakwa harus dihukum sesuai perbuatannya.

“Terdakwa menghabisi nyawa Eng Li dengan cara menjerat menggunakan tali strika. Terdakwa juga menginjak-injak kepala Eng Li hingga korban tak bergerak. Setelah itu, terdakwa mengikat kedua anak korban dan sempat mencabuli Charissa. Usai mengambil harta korban, terdakwa menyiram solar dan membakar rumah korban,” jelas Cahyono.

Cahyono mengatakan sebelum menjatuhi hukum untuk Reno, majelis hakim telah melakukan musyawarah dan menentukan hukuman yang pantas. Pertimbangan itu dilihat dari hal yang memberatkan dan meringankan. Hal yang memberatkan yang dilakukan Reno adalah membunuh dengan cara yang sadis, sangat tak manusiawi, membabi buta, dan sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Tak hanya itu, korban juga dalam satu lingkungan keluarga sehingga menimbulkan luka mendalam bagi sanak famili yang ditinggalkan. “Perbuatan terdakwa di luar batas-batam kemanusiaan. Hal yang meringankan tidak ada,” terangnya.

Menurut Cahyono, Reno terbukti melakukan pembunuhan berencana sebagaimana diatur dalam pasal 340 KUHP.

“Menyatakan terdakwa telah terbukti dan meyakinkan melakukan pembunuhan berencana. Menjatuhi hukuman pidana mati untuk terdakwa. Dan menegaskan terdakwa tetap ditahan,” tegas Cahyono.

Reno tak mengeluarkan sepatah katapun usai majelsi hakim membacakan putusannya.

“Kami pikir-pikir selama tujuh hari. Kebetulan keluarga terdakwa tak ada di sini, jadi kami ingin berkoordinasi dengan keluarga menerima atau akan banding,” terang Bernard kepada majelis hakim.

Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) Aji Satrio menyatakan terima putusan tersebut karena sudah sesuai dengan tuntutan sebelumnya. Usai persidangan, terdakwa yang coba diminta tanggapannya atas putusan tersebut tidak mau bicara. Petugas Polisi yang mengawal terdakwa langsung membawanya ke dalam mobil tahanan dan dibawa ke rutan dengan pengawalan ketat.

Sekadar mengingatkan, pembunuhan sadis itu berawal dari rasa sakit hati Reno yang merupakan karyawan korban di toko bangunan. Reno mengaku sering dimarahi dan dianggap remeh korban sehingga menjadi bahan olokan rekan-rekan kerjanya. Hingga pada Maret 2014lalu, perkataan Eng Li membuatnya kehilangan akal sehat.
Reno lalu merencanakan untuk membunuh Eng Li untuk melampiaskan sakit hatinya. Ketika semua karyawan pulang, terdakwa bersembunyi di dalam gudang. Setelah suasana sepi, berbekal pisau, Reno mulai melancarkan aksinya. Dengan menggunakan tangga, Ia menuju lantai dua. Namun sayang, saat itu pintu dalam keadaan terkunci. Reno pun memutuskan untuk mematikan lampu yang ada di bagian dapur.

Mengetahui lampu dapur padam, Eng Li keluar dari lantai dua. Reno pun memanfaatkan hal itu untuk menyelinap ke dalam kamar Eng Li. Setelah menyalakan lampu dapur Eng Li kembali ke kamar. Reno yang melihat Eng Li memasuki kamar, langsung menyergap serta mengacungkan pisau dan mengancam agar korban tidak berteriak.

Eng Li sempat menawari terdakwa uang sebesar Rp 5 juta yang ada di dalam lemari untuk melepaskannya. Tergiur dengan tawaran Eng Li, Reno langsung menyuruh Eng Li yang sudah dalam keadaan terikat menuju lemari untuk mengambil uang.

Korban yang mengenali identitas Reno membuat terdakwa panik. Terdakwa langsung mengambil kabel strikaan dan melilitkan ke leher korban hingga korban meninggal. Sedangkan dua anak Eng Li disekap di dalam kamar.

Usai memastikan Eng Li tewas, terdakwa mengambil perhiasan dan barang berharga milik korban. Namun sebelum meninggalkan rumah, terdakwa menyiram bensin hingga membakar rumah beserta ruko milik Eng Li.
Kebakaran itu membuat Eng Lie dan dua anaknya meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan. (she)

Respon Anda?

komentar