BATAM (BP) – Pertamina Kepri akan melakukan terobosan untuk mengatasi seringnya terjadi kelangkaan gas elpiji 3 kilogram (kg). Pertamina sedang menggagas melakukan distribusi tertutup terhadap pembelian gas bersubsidi ini dengan menggunakan kartu khusus.

gas-melon---f-johannes-(3)Marketing Branch Manager Pertamina Kepri, Aji Anom mengatakan gagasan distribusi tertutup salah satu cara untuk mengatasi kelangkaan gas elpiji 3 kg. Nantinya, kata dia, lewat kesepakatan bersama dengan pemerintah, hanya masyarakat yang dinyatakan layak untuk menggunakan gas melon saja yang akan mendapatkan suplai gas 3 kg ini.

”By name by address (berdasar nama dan alamat), siapa yang beli itu disesuaikan dengan nama yang terdata dan diketahui, jadi tepat sasaran,” kata Aji Anom usai melakukan inspeksi mendadak (sidak) bersama Komisi II DPRD Provinsi Kepri ke agen dan pangkalan di Batam, Jumat (9/1).

Menurutnya, pola distribusi tertutup ini menyerupai distribusi solar subsidi menggunakan kartu fuelcard, dimana pihak Pertamina memiliki data konsumen yang akan membeli barang yang mereka distribusikan. Sehingga, distribusi gas melon ini lebih terukur dan tepat sasaran.

Sedangkan dalam waktu dekat ini, perusahaan plat merah itu berencana menggelar operasi pasar di Batam dengan tiga titik lokasi, yakni Bengkong, Batuampar dan Sekupang pada hari Minggu (11/1). Sedangkan untuk daerah Bintan, rencana akan digelar pada Sabtu (10/1).

”Masing-masing titik satu lori atau 560 tabung, jadi total sudah ada 2800 tabung di seluruh Kepri, Batam sekitar 1680 tabung,” kata Agung Nurhananto Putro, Sales Executive Pertamina Kepri.

Dari operasi pasar ini, pihaknya akan mengukur dan mengevaluasi jumlah ideal operasi pasar untuk kebutuhan masyarakat.

Sementara itu, dalam sidak Komisi II DPRD Provinsi Kepri bersama Pertamina Kepri ke agen dan pangkalan di Batam, kemarin, juga terungkap bahwa kelangkaan gas elpiji subsidi kemasan 3 kg di masyarakat dalam beberapa waktu terakhir, karena adanya migrasi pengguna gas non-subsidi kemasan 12 kg ke gas melon. Itu karena, terjadi disparitas harga yang terlampau jauh pasca Pertamina mengumumkan kenaikan gas 12 kg terhitung sejak 2 Januari lalu.

”Perbandingannya empat tabung gas subsidi 3 kg (total berat12 kg) yang harganya Rp 70-an ribu dibanding dengan gas non-subsidi 12 kg itu harganya sangat jauh, selisihnya hampir Rp 100 ribu (sehingga mereka beralih),” kata Sirajudin Nur, Wakil Ketua Komisi II DPRD Provinsi Kepri saat sidak ke agen dan pangkalan di Batam, Jumat (9/1).

Hal senada juga diungkapkan oleh Andi, pemilik PT Amarta Anugrah Mandiri selaku agen gas 3 kg di wilayah Mega Legenda, Batamcentre. Dia mengatakan sejak kenaikan gas 12 kg beberapa hari lalu, permintaan gas melon meningkat pesat.

”Karena harganya jauh, jadi kemungkinan pada lari (berpindah) ke gas 3 kg. Kita kewalahan (mengatasi tingginya permintaan),” terangnya dihadapan rombongan Komisi II DPRD Kepri lainnya, seperti Rudi Chua, Onward Siahaan, Danir Tan, Ririn Warsiti, Sahat Sianturi, dan Widiastadi Nugroho di tempat usahanya tersebut.
Setiap hari, kata Andi, agen miliknya mendapatkan suplai 3.300 tabung gas melon yang kemudian didistribusikan ke 178 pangkalan yang tersebar di wilayah Batamcentre. ”Satu pangkalan biasanya kami antar dua atau tiga kali dalam seminggu,” sebutnya.

Sementara itu, Warni, pemilik pangkalan gas elpiji di Perumahan Hang Tuah, Batamcentre, mengaku kembali kehabisan gas melon, padahal baru Jumat (9/1) pagi kemarin mendapat suplai dari agen yang jumlahnya berkisar antara 50-70 tabung sekali antar.

”Datang langsung dibeli, ini saja tinggal tersisa tiga tabung tapi sudah jadi milik orang karena sudah dibayar dan belum diambil karena dia lagi tidak di rumah, pulang kerja dia ambil,” katanya ketika rombongan sidak mengunjungi pangkalan yang sekaligus jadi kediamannya tersebut.

Warni menambahkan, dia hanya melayani penjualan gas melon untuk warga sekitar. Jika masih tersisa, maka akan dia jual ke warga lain yang datang ke pangkalan tersebut. ”Dulu saya minta KTP (kartu tanda penduduk) pembeli, tapi sekarang tak lagi,” kata wanita berjilbab itu.

Hanya saja, Warni tak menampik jika pembelinya bukan hanya berasal dari kalangan bawah saja, tapi juga kalangan berada. ”Ada juga (kalangan menengah-atas), tapi ya gimana mereka warga sini jadi, ya susah mau menolak,” ujarnya.

Pangkalan Pasok Gas 3 Kg ke Penyuling
Rapat dengar pendapat (RDP) antara Komisi II DPRD Batam bersama Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Energi Sumber Daya Mineral (Disperindag ESDM) Kota Batam serta Pertamina, terungkap bahwa pangkalan masih nekat memasok gas elpiji 3 kilogram (kg) ke penyuling.

Seperti diungkapkan anggota Komisi II DPRD Batam, Budi Mardiyanto. Menurutnya, praktik penyulingan tabung gas 3 kg ke tabung non-subsidi 12 kg dan 50 kg. Modusnya, kata dia, ada kongkalingkong antara sopir armada pengangkut, agen dan pangkalan.

Menurut Budi, pelaku penyulingan gas subsidi mendapat pasokan ratusan tabung. ”Praktek ini selalu ada, karena keuntungannya menggiurkan. Penyulingan ini dilakukan dengan kerjasama antara sopir armada pembawa tabung elpiji 3 kg, pangkalan bahkan agen itu sendiri,” ujarnya.

Bahkan, sambungnya, pelaku penyulingan berani membeli gas elpiji 3 kg dengan tinggi dari harga pasaran. Kemudian dari keuntungan tersebut mereka bagi. ”Ini fakta bukan hanya cerita bual.

Ini marak terjadi di Batam. Sebab tak ada sanksi dari pihak berwenang baik Pertamina maupun Disperindag Batam,” terangnya.

Budi juga menyebutkan, bukan hanya praktik penyulingan yang menyebabkan kelangkaan gas elpiji 3 kg di pasaran. Bahkan di sejumlah restoran besar pun masih banyak ditemukan menggunakan gas bersubsidi ini. ”Hotel pun masih ada yang menggunakan tabung gas elpiji 3 kg. Ini kan sudah bukan pada peruntukannya,” jelasnya.(rna/gas)

Respon Anda?

komentar