BATAM CENTER (BP) – Rumah bermasalah atau sering disebut rumah liar (ruli) kembali meningkat di sejumlah titik di wilayah Kota Batam. Hingga saat ini, Dinas Tata Kota (Distako) Kota Batam mendata sekitar 36.742 ruli tersebar di seluruh kecamatan di wilayah mainland. Jika ini tidak segera diantisipasi, maka akan menjadi bom waktu mengingat tanah di Batam yang sudah habis untuk pemukiman.

Di Kecamatan Batuampar misalnya, jumlah ruli mencapai 10.660 unit. Di mana sebaran ruli paling banyak di kecamatan ini berada di Tanjungsengkuang dan Batumerah.

”Yang paling banyak di wilayah Tanjungsengkuang dan Batumerah. Masing-masing ada sekitar 2.000 unit lebih,” kata Kepala DistakoKota Batam, Gintoyono Batong, beberapa hari lalu.

Pertumbuhan ruli juga terjadi di Kecamatan Bengkong. Terdapat empat daerah penyebaran ruli di wilayah ini, di antaranya Bengkong Harapan, Bengkong Abadi, Bengkong Indah, dan Bengkong Laut. Secara keseluruhan di Kecamatan Bengkong, rumah bermasalah mencapai 2.410 unit.

Sementara itu, di Kecamatan Batamkota jumlah rumah bermasalah mencapai 1.714. Di kecamatan ini, sebaran ruli terdapat di pinggir jalan besar dan sangat dekat dengan perumahan. ”Yang paling jelas itu misalnya di daerah Kampung Nanas dan Sukajadi,” katanya.

Di Kecamatan Nongsa, sebaran rumah liar paling banyak di daerah Batubesar, di Kampung Jabi dan Panau. Secara keseluruhan jumlah rumah bermasalah di sini sebanyak 4.738 unit. Sedangkan di Kecamatan Sagulung ada sekitar 667 unit rumah bermasalah, sebagian besar di daerah Tembesi.

Di Seibeduk jumlah rumah bermasalah ada sekitar 4.461 rumah. Sebagian besar di daerah Tanjungpiayu dan Bidaayu. Selain itu, di seputaran Dam Mukakuning dan Dam Duriangkang juga sangat banyak rumah liar yang jelas-jelas dilarang untuk dibangun.

Adapun di kawasan Batuaji, ada sekitar 2.360 rumah bermasalah. Di mana sebagian besar ada di daerah Kelurahan Kibing, Cunting, dan Bukit Tempayan. Ruli di sini sebagian besar didirikan berdekatan dengan perumahan milik pengembang.

Di wilayah Kecmatan Sekupang ada sekitar 3.528 unit, dimana ruli paling banyak dibangun di sekitar gedung Indosat dan juga belakang PKP. ”Di sekitar kawasan industri Sekupang juga banyak, serta sekitaran Gedung Beringin,” kata Gintoyono.

Penyebaran ruli juga terjadi di Kecamatan Lubukbaja yang mencapai 5.324 unit. Keberadaan ruli di wilayah ini, sebagian besar berada di daerah Baloi Center atau Baloi Kebun dan di sekitar Tanjunguma.

Gintoyono mengatakan rumah bermasalah di sejumlah kecamatan tersebut dibangun tanpa ada izin dan bukan di lahan pemilik. Sebagian besar bangunan ini adalah bangunan semi permanen. Menurutnya, kalau ini tidak segera ditertibkan, maka akan semakin banyak dan akan menjadi permasalahan besar ke depan.

”Pemko dan BP Batam akan bekerja keras untuk menyelesaikan masalah ini (ruli). Karena bila dibiarkan akan menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu akan meledak. Makanya, harus ada koordinasi dalam upaya mengatasi hal ini,” tuturnya.

Direktur PTSP dan Humas BP Batam, Dwi Djoko Wiwoho mengakui banyak ruli di Batam. Untuk itu, pihaknya akan mengadakan pertemuan dan berkoordinasi dengan semua pihak untuk mengantisipasi dan mencari jalan keluar terkait hal tersebut.

”Kita akan berkoordinasi dengan semua pihak untuk mengatasi masalah ini,” ucapnya.

Menurut Djoko untuk penertiban pihaknya saat ini sudah tidak memberikan lahan pengganti bagi warga. Ia juga berharap kepada warga yang ada di Batam untuk tidak ada lagi yang membangun rumah sembarangan tanpa ada izin.

Sementara itu, anggota Komisi III DPRD Kota Batam, Jurado Siburian, juga mengakui permasalahan ruli ini tinggal menunggu waktu kapan saja bisa meledak dan menjadi persoalan akan semakin rumit untuk diselesaikan. Menurutnya BP dan Pemko Batam harus serius mengantisipasi ini.

”Sekarang ini sudah sulit menertibkannya, tetapi kalau semakin lama akan semakin sulit untuk menertibkannya,” jelasnya.

Meski demikian, dalam penertibannya, ia juga meminta Pemko tetap untuk mengedepankan kemanusiaan. Di mana semua hal harus dipertimbangkan, termasuk kelangsungan hidup warga yang tinggal di ruli. (ian)

Respon Anda?

komentar