Histeris
Salah satu karyawan PT Sanmina histeris dalam aksi unjukrasa di perusahaan tersebut siang tadi (13/1). Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

 

 

Aksi mogok kerja para buruh di PT Sanmina, Mukakuning sepertinya bakal terus berlangsung hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Ini terjadi akibat upaya mediasi yang difasilitasi Walikota Batam Ahmad Dahlan tak membuahkan hasil.

Pasalnya menurut Ahmad Dahlan, pihak perusahaan tetap ngotot untuk memecat pimpinan serikat pekerja di perusahaan tersebut bernama Darmo Juwono. Mediasi dilakukan tertutup di lantai IV kantor walikota.

“Permintaan manajemen Sanmina agar pekerja kembali lagi beraktifitas dan tak mogok kerja ditolak. Pekerja mau berhenti¬† mogok kerja asalkan Darmo kembali dipekerjakan di PT Sanmina dan posisi kerjanya dikembalikan seperti semula,” terang Dahlan.

Dahlan mengaku sempat meminta managemen PT Sanmina untuk mempekerjakan kembali Darmo hingga tiga bulan ke depan sambil mengevaluasi kedisiplinannya tapi ditolak.

“Opsi kami tadi seperti itu kalau Darmo disiplin bekerja, maka boleh lah dipekerjakan kembali. Ternyata¬† manajemen tak mau lagi menerima Darmo bekerja. Kami dari Disnaker kembali menawarkan opsi bagaimana kalau pekerja yang mogok, kembali bekerja untuk memberi kesempatak manajemen mengambil keputusan,” kata Dahlan.

Namun penawaran opsi penawaran tersebut ditolak pekerja yang tetap menyatakan diri untuk mogok kerja sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Sementara, Darmo Juwono menyatakan, dirinya tak pernah menyandera aset perusahaan. “Yang benar itu kami menjalankan hak kami secara undang-undang ketenagakerjaan yakni hak mogok kerja. Dalam mogok kerja itu pengusaha tak boleh menjalankan produksi. Yang kedua pengusaha tak boleh mengganti pekerjanya selama mogok kerja. terakhir ekerja tak boleh berproduksi di luar. Artinya mesinnya tak boleh dibawa keluar. Itulah aturan ketenagakerjaannya,’ ujar Darmo.

Darmo tak mau dituduh dirinya yang menggerakkan pekerja untuk mogok kerja di PT Sanmina. Ia menegaskan mogok kerja itu muncul karena bentuk solidaritas dari pekerja karena dirinya dikeluarkan atau diberhentikan secara sepihak.

“Kalau saya maunya ikuti jalur mediasi. Karena saya yakin saya itu benar. Kawan-kawan ditingkat bawah mereka menolak saya dikeluarkan. Mereka yang mempertahankan saya. Saya tak mengatakan kalau saya itu salah atau saya itu benar.(gas)

Respon Anda?

komentar