BATAM (BP) – Demam berdarah dengue (DBD) kembali menyerang warga Batam. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, hingga 19 Januari 2015 ini, sudah 16 orang yang terjangkit penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk aedes aegipty ini. Umumnya, penyakit demam berdarah menyerang anak-anak.

”Dari data yang kami terima terdapat 16 orang yang menederita DBD, sementara yang meninggal ada satu orang” kata Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Kota Batam, Sri Rupiati saat dihubungi Batam Pos, Senin (19/1).

Dia mengatakan, kendati hingga pertengahan bulan Januari sudah 16 orang teridentifikasi terserang DBD, tapi dibanding tahun lalu terjadi penurunan jumlah penderita DBD yang cukup signifikan. Sebab, pada tahun lalu di bulan yang sama, angka penderita DBD cukup tinggi, yakni sekitar 50 orang.

”Jadi, berdasarkan data yang kami miliki, maka cukup banyak berkurang dibanding tahun lalu pada bulan yang sama,” ujarnya.

Meski demikian, sambungnya, ia menyarankan supaya masyarakat bisa sedini mungkin mencegah penyebaran penyakit demam berdarah ini, dengan menerapkan program 3M plus (menguras penampungan air, mengubur barang bekas, dan menutup tempat penampungan air, serta plus menghindari gigitan nyamuk).

Nilai plus yang bisa kita lakukan, sebenarnya tergantung kreativitas masyarakat, seperti pemberdayaan setiap individu dalam menggunakan daya upayanya mencegah gigitan nyamuk penyebar virus dengue. Misalnya dengan menggunakan obat anti nyamuk atau kelambu saat tidur.
Menata ruangan di dalam rumah sedemikian hingga cukup terang dan tidak sumpek, menjadikan nyamuk tidak memiliki tempat bersembunyi.

Menurutnya, bila program 3M plus dijalankan, maka dapat menangkal perkembangan demam berdarah. ”Karena ini sedang musim hujan, saya harap masyarakat Kota Batam dapat menerapkan program 3M plus ini,” jelasnya.

Sri mengatakan, untuk fogging atau pengasapan, bukanlah cara untuk mencegah, namun hanya untuk mematikan nyamuk dewasa. Sedangkan jentik-jentik nyamuk akan tetap hidup.

Masih menurut Sri, untuk fogging sesuai dengan anjuran World Health Organization (WHO), kalau ada tiga orang di satu tempat yang sama diserang demam, maka dilakukan fogging. Namun, untuk Kota Batam bisa melakukan fogging kapan saja, bahkan apabila ditemukan satu penderita DBD, maka harus langsung dilakukan pengasapan.

”Masalahnya, ketika kami melakukan fogging, banyak warga yang tidak mau rumanya di fogging. Ada yang beralasan mereka barusan selesai masak, atau menutup pintu rumahnya. Akhirnya, kami hanya melakukan fogging di luar rumah saja,” terangnya. (cr3)

Respon Anda?

komentar