MUHAMMAD Husein, balita penderita pembengkakan hati itu terkulai lemas di gendongan ibunya, Dita Haryanti, 40, di kediamannya di Perumahan Griya batuaji Asri, Sagulung, Rabu (21/1).

Akibat dari pembengkakan hati dan limfa, putra bungsi dari pasangan Suriyanto dan Haryanti ini mengalami pembengkakan bola mata sebesar telur ayam di sebelah kanannya. Akibatnya, ia tak dapat melihat normal lagi.

Muhammad Husein digendong ibunya, Dita Haryanti di kediamannya di Perum Griya Batuaji Asri, Sagulung, Rabu (21/1). Foto: Yofi Yuhendri/Batam Pos
Muhammad Husein digendong ibunya, Dita Haryanti di kediamannya di Perum Griya Batuaji Asri, Sagulung, Rabu (21/1).
Foto: Yofi Yuhendri/Batam Pos

BOBOT badan Husein berkurang drastis. Pertumbuhan lambat dan perut yang terus membengkak membuatnya sulit bergerak. Sampai mata, telinga, dan mulutnya terus mengeluarkan cairan dan darah. Penyakit ini sudah diderita Husein sejak berusia enam bulan. Terlahir bersama pasangan kembarnya, Muhammad Hasan, Husein diklaim mengidap penyakit sesak nafas atau Tuberculosis (TBC).

Penyakit itu terus dirasakan Husein hingga dokter Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) mengklaimnya menderita pembekakan hati dan limpa. Bahkan kini bocah tersebut kekurangan darah putih atau Leukimia.

”Awalnya sesak nafas dan dokter mengatakan TBC. Pada pengobatan selanjutnya dokter mengklaim penyakit pembengkakan hati dan limpa. Dari situ bobot badannya berkurang dan perut terus membesar,” kata ayah Husein, Suriyanto di kediamanya di Perum Griya Batuaji Asri, Sagulung, Rabu (21/1) pagi.

Pengobatan terus dilakukan pasangan suami istri (pasutri) yang dikaruniai empat orang ini. Dimulai dari pengobatan medis, konsumsi obat alternatif. Namun, penyakit yang diderita bocah kelahiran Batam 6 April 2011 lalu itu, tak kunjung membaik.

Usaha pengobatan Husein juga dilakukan dengan membawanya menuju rumah sakit M. Djamil Padang pada Oktober 2014. Hanya saja, saat itu, pihak rumah sakit menyatakan Husein harus dirawat selama dua bulan untuk mendeteksi penyakit yang dideritanya.

”Saat itu ruang rawat inapnya juga penuh. Ditambah dengan biaya tidak ada. Jadi kita memutuskan untuk kembali ke Batam dan sampai sekarang Husein tidak mengonsumsi obat apapun,” tuturnya.

Suriyanto menambahkan sampai saat ini pengobatan anaknya terbentur biaya. Sejak ia mengalami kecelakaan kerja pada tahun lalu, kaki kanan Surianto patah dan menyebabkan ia terlepas dari pekerjaan sebagai anak buah kapal (ABK).

Bagaimana, Anda berminat membantu?  (cr5)

Respon Anda?

komentar