Perintah tembak di tempat terhadap setiap pelaku kejahatan jalanan (street crime) oleh Kapolresta Barelang Kombes Asep Safrudin belum membuat jera para pelaku kejahatan, terutama anak-anak geng motor. Bahkan mereka makin sadis dan tidak pandang bulu dalam beraksi.

 

Anggota Jatanras Polresta Barelang menggiring 15 preman dalam razia di Jodoh dan Nagoya, Selasa (27/1).  foto: dalil harahap / batampos
Anggota Jatanras Polresta Barelang menggiring 15 preman dalam razia di Jodoh dan Nagoya, Selasa (27/1).
foto: dalil harahap / batampos

 

Korban terus berjatuhan. Sekitar pukul 05.00 WIB pada Minggu (25/1) lalu, warga Taman Raya Batam Center bernama Madi nyaris menjadi tumbal keberingasan geng motor.

Diceritakan Madi, saat melintas dari arah Simpang Frengki menuju Masjid Raya Batam Center, sepeda motornya tiba-tiba dipepet dua pria yang mengendarai sepeda motor dari arah yang sama.

Satu dari mereka sambil mengacungkan parang lalu berteriak meminta Madi untuk menepi.

“Mereka teriak-teriak pada saya supaya berhenti. Yang di belakang ancam mau potong leher saya kalau tak menyerahkan uang atau barang berharga,” cerita Madi, kemarin.

Untung saja pria 35 tahun itu tidak mengikuti perintah dua penjahat jalanan ini. Ia tetap tancap gas sambil membunyikan klakson motor dan berteriak minta tolong mencari perhatian pengendara atau orang lain yang melintas.

“Sampai di Graha Pena, saya langsung masuk. Karena banyak orang di depan Graha Pena, orang itu lalu balapan ke simpang Masjid Raya kemudian berbelok ke arah My Mart,” katanya.

Madi mengaku sangat ketakutan dengan aksi para berandal ini. Nyawanya sangat terancam. Ini bukan pertama kali terjadi di jalan raya di kota ini. Korban telah berjatuhan bahkan ada yang tewas karena dijambret dan lainnya.

Premanisme di Batam akhir-akhir bikin polisi kian gerah. Kombes Asep Syarifuddin kembali mengintruksikan jajarannya terutama tim Buru Sergap (buser) Satreskrim Polresta Barelang untuk bertindak tegas lagi dengan tembak di tempat alap-alap jalanan yang menghantui warga Batam ini.

“Kalau tertangkap basah, tak ada ampun. Tembak di tempat saja. Semalam (Senin, 26/1) sudah saya kumpulkan lagi kasat, kapolsek dan jajarannya untuk membahas masalah ini. Tak ada ampun lagi. Peringatan sudah dilakukan, sosialisasi ke sekolah-sekolah dan orangtua sudah kami lakukan, sekarang akan kami tindak tegas,” ujar Asep, Selasa (27/1).

Asep rupanya belum puas karena korban terus berjatuhan. Ia mengaku telah mengerahkan semua potensi baik personil maupun peralatan untuk mencegah kriminalitas jalanan tersebut dengan memerintahkan digelarnya razia premanisme secara rutin dan besar-besaran serta meningkatkan patroli rutin dan pemantauan di jalan raya.

Anggota yang diterjunkan tentunya dengan persenjataan lengkap. Kemarin (27/1), razia preman digelar di bilangan Jodoh. Tim buser yang dikerahkan menggunakan senjata api laras panjang.

“Biasanya pakai pistol tapi mulai saat ini buser tenteng laras panjang,” ujar Kasat Reskrim Polresta Barelang Kompol Didik Erfianto di sela-sela razia tersebut.

Target operasi, kata Didik, adalah penjambret, pemecah kaca mobil, pencuri motor dan tentunya geng motor.

“Jadi sekali lagi saya tegaskan tak ada ampun lagi buat geng motor, jambret, pemecah kaca mobil, ranmor dan pelaku kriminal jalanan umum lainnya,” kata Didik.

Didik mengatakan, operasi akan digelar siang dan malam hari untuk mengeliminir pergerakan pelaku kejahatan. Dalam razia kemarin, pihaknya telah mengamankan 75 orang preman. Polisi terpaksa mengeluarkan tembakan peringatan karena para preman yang disinyalir sering berbuat onar di Nagoya-Jodoh berusaha kabur.

“Kami minta dukungan masyarakat untuk operasi-operasi pemberantasan pelaku kriminal saat ini. Laporkan secepat mungkin jika menjadi korban,” kata Didik.

Di salah satu ruko di Kampung Utama, tim pemberantasan premanisme mengamankan tujuh anak punk. (eja)

Respon Anda?

komentar