A Tjan pengusaha Batam mengaku sering mendapat teror SMS dari nomor baru yang tak ia kenal. Si pengirim SMS mengaku kenal dekat dengan Kapolresta Barelang Kombes Pol Asep Safrudin.

SMS itu meminta A Tjan jangan memperpanjang masalah laporan penggelapan terhadap T. Hamzah Husen wakil ketua III DPRD Batam selaku pemimin PT Garuda Satria Perkasa. SMS ancaman muncul setelah A Tjan resmi membuat laporan penggelapan ke Mapolresta Barelang, Kamis (22/1) sore lalu.

Keluhan ini disampaikan kuasa hukum A Tjan, Roy Wright kepada wartawan saat dijumpai di Mapolresta Barelang, Kamis (29/1) siang.

“Klien saya sering dapat teror dari SMS gelap, peneror mengaku kenal dekat dengan Kapolres, dan memintah jangan perpanjang masalah penggelapan itu,” ujar Roy.

Meskipun sering mendapat teror SMS, namun jelas Roy, kliennya tidak gentar untuk tetap melanjutkan laporan penggelapan dan penipuan itu. “Hari ini kami dipanggil  oleh penyidik lagi. Mau kasih keterangan sebagai pelapor,” ujar Roy.

Kepada pihak kepolisian Roy berharap bekerja profesional karena dalam laporan itu kliennya merasa ditipu oleh terlapor.

“Mau ada pembelaan silahkan, kami punya bukti yang cukup kuat. Tagihan sekitar 42 ribu Dollar Singapura yang tidak dibayar terlapor sudah kami sampaikan ke penyidik,” ujar Roy.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Teuku Hamzah Husen wakil ketua III DPRD kota Batam dilaporkan ke Mapolresta Barelang, Kamis (22/1) sore. Politisi Partai Demokrat itu dilaporkan oleh A Tjan terkait penipuan dan penggelapan.

A Tjan dalam laporannya ke polisi mengaku, ditipu oleh Hamzah karena tidak membayar tagihan spare part pembuatan kapal dengan nilai sekitar 40 ribu Dolar Singapura. Keterkaitan Hamzah dalam laporan tersebut, pada status Hamzah sebagai pemilik PT Garuda Satria Perkasa.

Bulan Februari 2014 silam, PT Garuda Satria Perkasa membuat sebuah kapal. Spare part kapal tersebut diambil dari PT Speed Engineering Batam milik A Tjan.

“Pembuatan kapal sudah selesai sejak April tahun lalu, sejak saat itu, sudah empat kali kami tagih tunggakan spare part dengan total sekitar 40 ribu Dollar Singapura, tapi selalu ada alasan untuk menunda membayar,”kata Tjan.

Merasa dipermainkan oleh kelakukan Hamzah, A Tjan memutuskan untuk melapor ke Mapolresta Barelang dengan harapan, terlapor bisa segera melunasi tagihannya tersebut. (eja)

Respon Anda?

komentar