Larangan edar untuk buah apel jenis Granny Smith dan Gala dari California, Amerika Serikat berpangkal pada sebuah kasus keracunan di Amerika Serikat usai mengonsumsi apel karamel jenis tersebut. Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit (CDC-Centre for Disease Control and Prevention) Amerika Serikat merilis kabar, 32 orang dari sebelas negara bagian Amerika Serikat terinfeksi bakteri Listeria Monocytogenes, Jumat (9/1). Mereka pun harus dilarikan ke rumah sakit.

Masruchin. (foto: cecep mulyana / batampos)
Masruchin. (foto: cecep mulyana / batampos)

Apa sebenarnya bakteri Listeria Monocytogenes itu? Hmm namanya cantiknya, Listeria bandingkan dengan nama Asteria misalnya, sama sama cantik bukan?!

Dosen Bakteriologi Akademi Analis Kesehatan Putra Jaya Batam, Masruchin mengatakan, bakteri Listeria Monocytogenes, sejatinya, tidak berbahaya bagi manusia berusia lima belas tahun ke atas. Sebab, tubuh manusia dewasa mengandung bakteri tersebut. Jumlahnya mencapai sepuluh persen. Dan tidak pernah ditemukan gejala-gejala klinis yang berarti karena kandungan itu.

Bakteri ini baru akan berbahaya bagi bayi, anak-anak, dan ibu hamil. Bagi bayi dan anak-anak, penyakit ini dapat menginfeksi selaput otak atau, dalam bahasa medis, dikenal dengan nama Meningitis Granulomatosis Infantiseptica. Sementara bagi ibu hamil dapat menyebabkan keguguran atau kematian bayi saat dilahirkan. Sebab, bakteri Listeria Monocytogenes itu dapat menembus janin.

”Nah, masalahnya, anak-anak dan ibu hamil itu suka sama apel jenis ini,” kata Masruchin saat berkunjung ke kantor redaksi Batam Pos, Kamis (29/1).

Bakteri Listeria Monocytogenes merupakan jenis bakteri yang hanya dapat berkembang di apel, bukan di buah jenis lain seperti sawo atau mangga. Sebab, apel memiliki kandungan gula, biasa disebut manitol, yang cocok untuk perkembangan bakteri jenis ini.

Menurut Masruchin, bakteri ini bersumber dari tanah. Bentuknya seperti drum berekor. Ini memungkinkannya bergerak bebas dan berpindah tempat. Dari tanah, ia bisa bergerak masuk ke dalam buah. Ketatnya aturan Amerika Serikat terhadap penggunaan insektisida dan pestisida pada produk pertaniannya bisa jadi melancarkan pergerakan bakteri tersebut ke dalam tanaman lalu masuk ke buah.

”Ini beda dengan Tiongkok yang bebas saja menggunakan insektisida dan pestisida untuk produk makanannya. Insektisida dan pestisida itu disemprot di sana-sini. Jadi, sejak di dalam tanah, bakteri itu sudah mati,” kata pria yang juga mengampu mata kuliah Mikologi, Biologi Medik dan Biologi Molekuler, serta Instrumen Media dan Reagensia itu lagi.

Masruchin mengatakan, kontaminasi bakteri tersebut dalam apel sangat sulit dilihat secara kasat mata. Sebab, sifatnya melebur ke dalam kandungan apel. Namun, ada karakteristik bakteri yang dapat mempengaruhi penampilan apel tersebut.

Bakteri ini memungkinkan apel tidak mudah busuk. Ia tahan lama. Bahkan dalam hitungan minggu. Saat dipotong, apel yang terkontaminasi bakteri ini tidak akan mudah berwarna cokelat, merah, atau tanda kelayuan lainnya. Melainkan, putih bersih.

Lantaran penampilannya yang menarik, buah apel dengan kandungan bakteri ini cocok dipajang di etalase toko atau mal atau hotel. Padahal, penempatan apel tersebut dalam suhu ruangan, justru mempersubur perkembangan bakteri tersebut. ”Inilah yang menyulitkan konsumen untuk mengenali apakah apel itu terkontaminasi,” katanya.

Satu-satunya solusi menghindarkan diri dari kontaminasi bakteri tersebut adalah dengan selektif memilih buah apel. Terutama untuk apel-apel yang memang sudah dilarang beredar. Selain itu, juga dengan menerapkan pola hidup sehat.

”Kalau memang sudah dilarang beredar, jangan lagi dipilih. Walaupun harganya lebih murah,” pungkasnya. (ceu)

Respon Anda?

komentar