Minggu, 5 April 2026

Batam Bentuk Komite Peduli Rohingya, Palestina, dan Aleppo

Berita Terkait

Anak-anak etnis Rohingya yang kehilangan keluarga dan tempat tinggal akibat kekerasan yang mereka terima. Foto: Soe Zeya Tun/reuters

batampos.co.id – Gabungan lembaga penyalur zakat dan organisasi masyarakat Islam se-Batam membentuk Komite Peduli Rohingya, Palestina, dan Aleppo, Rabu (21/12) malam. Ini wadah menggalang dana untuk umat muslim di Rohingya, Palestina, dan Aleppo.

“Semua masjid galang dana. Mahasiswa galang dana di kampus. Tapi nanti distribusinya satu pintu,” kata Ketua Komite, Ustaz Syarifuddin, Kamis (22/12).

Penggalangan dana itu akan dimulai serentak hari ini Jumat (23/12). Dan akan berlanjut hingga tiga minggu ke depan. Komite tidak memiliki target dalam jumlah khusus. Mereka berharap dapat mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya.

Dana yang terkumpul kemudian akan disalurkan secara langsung.Komite akan mengirimkan satu atau dua orang untuk mengawal penyaluran dana tersebut. Mereka kemudian akan membelanjakannya di Ibukota Rohingya. Umat muslim di sana membutuhkan, antara lain, baju, makanan, dan obat-obatan.

“Kalau dapat Rp 1 miliar kan bagus,” tuturnya.

Disampaikan Syarif, pembentukan komite itu berawal dari datangnya dua orang asal Rohingya ke Batam, sekitar sepuluh hari lalu. Mereka bertandang ke Kantor Lembaga Amil Zakat (LAZ) Masjid Raya Batam. Kedua orang itu meminta rekomendasi LAZ untuk dapat menggalang dana ke masyarakat Batam.

Syarif yang menjabat sebagai Direktur LAZ MRB menolak memberikan rekomendasi. Sebab, ketika itu, LAZ tengah disibukkan dengan penggalangan dana gempa Aceh. Selain itu, keduanya hanya mengantongi paspor kunjungan.

“Saya khawatir ada pelanggaran administrasi. Makanya, saya meminta mereka menunggu hingga kami selesai dengan (penggalangan dana) gempa Aceh,” katanya lagi.

Dua orang asal Rohingya itu bukan korban. Mereka anggota lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang sengaja dikirim ke negara-negara lain untuk mencari bantuan. Mereka datang ke Indonesia sebab sebagian besar bantuan yang sampai ke Rohingya itu dari Indonesia.

“Namun, bantuan itu sifatnya G to G (pemerintah ke pemerintah) jadi tidak sampai ke pelosok. Makanya mereka keluar untuk mencari bantuan lagi,” tambahnya.

Para lembaga penyalur zakat dan ormas Islam sepakat membuat komite bukan hanya sekedar untuk membantu. Tetapi juga mencari jaringan umat muslim di negara-negara konflik tersebut. Jaringan itu dapat mempermudah komunikasi dan bantuan ke umat-umat muslim di negara tersebut.

“Sekarang dua orang itu tidak lagi tinggal di Masjid Raya. Ia tinggal di mess Hang Tuah,” katanya. (ceu)

Update