Jumat, 24 April 2026

Pegawai PLN Batam Ancam Mogok, Awal 2017 Batam-Bintan Bisa Gelap Gulita

Berita Terkait

ilustrasi

batampos.co.id – Pulau Batam dan Bintan terancam blackout di awal tahun 2017. Ini tidak boleh terjadi karena bisa melumpuhkan perekonomian Batam dan Bintan. Para pengambil kebijakan harus segera turun tangan!

Tapi ancaman itu telah dilontarkan dan bakal menjadi kenyataan. Aksi yang dilakukan selama tiga hari itu sebagai bentuk protes pegawai PLN Batam atas ketidakpastian penyesuaian Tarif Listrik Batam (TLB) yang diajukan sejak awal tahun 2016 lalu.

“Bila penyesuaian tak direalisasikan hingga akhir tahun, 480 karyawan dari sistem pembangkit hingga pelayanan akan mogok kerja di awal tahun nanti,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Serikat Pekerja PLN Batam, Bukti Panggabean.

Sebelum melakukan aksi unjuk rasa, mereka akan melayangkan surat pemberitahuan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri serta instansi terkait. “Tanggal pastinya masih kita koordinasikan dengan pengurus yang lain,” ungkap Bukti.

Bila aksi tersebut berhasil direalisasikan, suplai listrik dari PLN Batam yang sudah mencapai Pulai Bintan, Belakangpadang, hingga Sembulang akan terhenti. “Tidak ada lagi yang mengoperasikan pembangkit maupun pelayanan,” beber Head of Revenuew Assurance PLN Batam ini.

Ia mengatakan, upaya bright PLN Batam membuat tangguh listrik di Batam menemui banyak hambatan. Pengajuan penyesuaian tarif setara Tarif Listrik Nasional belum menemui titik terang.

Lambannya pembahasan menyebabkan keuangan anak perusahaan PT PLN Persero itu terus memburuk, menanggung kerugian akibat menjual listrik di bawah Biaya Pokok Produksi (BPP).

“BPP PLN Batam Rp 1.388, namun harus kita jual Rp 900-an Rupiah per kWh,” ungkapnya.

Sedangkan persero yang mendapatkan subsidi dari pemerintah saja, sudah menetapkan tarif Rp 1.459 per-kWh. “Padahal BPP nya sama, kita juga menggunakan pembangkit gas, solar, dan batubara” ungkap dia.

Sebelumnya, PLN bisa menutupi kerugian harga jual listrik rumah tangga dengan subsidi silang dari golongan industri, ditopang deposito dari tabungan yang saat itu mencapai Rp 1 triliun.

Kini, subsidi silang makin sulit dilakukan, karena persentase pelanggan rumah tangga terus menanjak dari 32 persen menjadi 37 persen. Sebaliknya, sektor industri terus menurun, dari 32 persen menjadi 25 persen.

Simpanan PLN pun terus tergerus, hingga keuangan mereka terseok-seok. Berdasarkan hasil audit Price Waterhouse Coopers (PWC), dari Januari hingga Juni 2016, keuangan PLN Batam sudah minus Rp 26 miliar.

Ketua Serikat Pekerja PLN Batam, Mulnawarman menambahkan, bila kondisi keuangan terus berlangsung, keandalan listrik di Batam akan terancam. Dengan keadaan ini, jangankan investasi pembangkit listrik untuk kebutuhan jangka panjang warga Batam, untuk membeli bahan baku saja mereka mulai kesulitan.

Jika tak disikapi dengan bijak, krisis energi seperti yang terjadi di dearah-daerah lainnya di Indonesia akan terjadi di Batam. Bila listrik sudah terganggu, otomatis perekonomian di Batam dan pulau Bintan  akan tersendat. Karena seluruh industri dan sektor perekonomian membutuhkan setrum.

Hal tersebut membuat 480 karyawan PLN Batam resah. “Kalau PLN kolaps, bukan nasib kami saja yang terancam, sistem kelistrikan di Batam, Bintan dan pulau sekitarnya juga akan terganggu,” katanya.

Mereka khawatir, nasib PLN Batam akan seperti saudara mereka di PLN Tarakan.
Karena tidak ada dukungan pemerintah, per 1 Januari 2017 pelayanan listrik tarakan diambil alih PLN Persero.

“Kalau Batam diambil alih persero, tarifnya bisa lebih tinggi dari tarif yang diajukan PLN Batam,” bebernya.

Di tangan persero, pengembangan jaringan ke pulau yang belum teraliri listrik akan semakin sulit, akibat birokrasi yang panjang. Setiap kebijakan yang diambil, harus ada persetujuan pusat.

“Contohnya Pulau Bintan dan Belakang Padang, akhirnya PLN Batam juga yang suplai listriknya,” ungkapnya.

Sebelum hal tersebut terjadi, para pekerja mengambil sikap untuk melakukan aksi mogok massal. “Kita tak ingin keandalan listrik di batam terganggu,” ungkapnya.

Karena itu, ia meminta seluruh pihak memahami kondisi PLN Batam. “Kami berharap, penyesuaian tarif bisa segera direalisasikan,” ungkapnya. (cew)

Update