Senin, 11 Mei 2026

Transportasi Kota Batam, Ditunggu namun Tak Berkembang

Berita Terkait

Bus Trans Batam
foto: cecep mulyana / batampos

batampos.co.id – Kadang kangen naik bus kota. Di batam boleh dibilang jarang naik moda transportasi besar ini.

Bus kota menjadi bagian dari kehidupan kota metropolitan, tapi di Batam belum.

Hingga saat ini transportasi darat di Batam yang tersedia hanyalah bus (Damri, Trans Batam, angkot) taksi, ojek.

Diantara keseluruhannya itu, angkot masih jadi pilihan favorit masyarakat Batam. Jika dilihat dari wujudnya, tidak ada perubahan yang menarik dari angkutan umum tersebut. Sebagaimana dimiliki sejak awal dan sudah terpakai lama, maka wujudnya pun bertambah jelek. Malahan, ada yang berpendapat jika melihat angkot yang terlihat ‘clink’ dan bersih, diartikan sebagai angkot baru.

“Milih angkot yang nyaman dinaiki ‘gampang’ di sini. Kalau udah ‘peot-peot’ berarti angkot lama dan biasanya naik angkot begitu serasa naik gerobak,” kata seorang Ibu rumah tangga, Sarni, yang biasa menggunakan angkot untuk berbelanja ke pasar.

Namun dari angkot yang ada, masih banyak masyarakat Batam yang belum tahu persis rute-rute angkot tersebut. Sesuai data Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batam, angkot di Batam dibedakan dengan warna mobilnya. Ada sembilan warna angkot yang mengartikan sembilan rute perjalanan.

Mulai dari trayek utama,

  • warna biru rute Jodoh-Tanjunguncang,
  • warna oranye untuk Jodoh-Telaga Punggur,
  • warna merah jambu (pink) untuk Jodoh-Nongsa,
  • warna merah untuk Jodoh-Dapur 12.

 

Trayek Cabang,

  • warna biru rute Muka Kuning-Tanjung Piayu,
  • warna pink untuk Muka Kuning-Batu Aji sebelah kiri,
  • warna coklat untuk Muka Kuning-Batu Aji sebelah kanan,
  • warna kuning untuk Batu Aji-Tanjunguncang,
  • warna hijau muda dan hijau tua untuk Bengkong-Jodoh,
  • warna kuning untuk Muka Kuning-Bengkong.

 

Sementara, trayek ranting hanya satu rute untuk kawasan industri Batamindo yang berwarna hijau tua kombinasi.

Ya, hanya warnalah yang menjadi patokan masyarakat menaiki angkot sesuai tujuan yang hendak di tuju. Untuk modifikasi, angkot Batam jauh dari kata itu. Alasan dari pemilik angkot, karena membutuhkan biaya yang sangat besar.

“Disini tidak sama dengan angkot di Padang. Kalau disana, semua berlomba-lomba modifikasi angkotnya biar menarik perhatian. Tapi disini, kami berpikir panjang untuk mengeluarkan biaya memperbarui mobil ini (angkot). Toh, yang penting penumpang sampai tujuan,” ungkap Madi, salah satu sopir angkot pink rute Jodoh-Nongsa.

Disamping itu, ada juga pemilik angkot yang pesimis terhadap gaya hidup masyarakat Batam. “Yang naik angkot juga orang biasa, karena banyak yang sudah punya kendaraan sendiri. Jadi gak perlu juga angkot di modifikasi,” sebut supir angkot ini.

Padahal, dilihat dari penggunanya, keberadaan angkutan umum ini masih digemari masyarakat, terutama kaula muda. Tak sedikit dari mereka mengaku memiliki cerita atau pengalaman berkesan. Sementara bagi kaum yang lebih tua, menaiki angkot dirasa lebih cepat dan murah untuk urusan berbelanja ke pasar. Tak heran, keberadaan angkot di Kota Batam masih terlihat menjamur hingga kini, apalagi disekitar area pasar basah. (cr15)

Update