SMP 2 Binaan yang sudah menerapkan FDS, para pelajar sedang melaksanakan proses belajar mengajar. foto :Tri Haryono/batampos.

batampos.co.id – Recana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia, akan menerapkan Full Day School (FDS) atau belajar mulai hari Senin hingga Jumat secara Nasional dengan sistem piloting (percontohan). Proyek percontohan FDS tersebut, mulai diterapkan tahun pelajaran 2017/2018 mendatang termasuk di kabupaten Karimun.

Kepala Dinas Pendidikan Karimun Bakri Hasyim ketika dikonfirmasi mengatakan, pihaknya belum merealisasikan program FDS yang diwacanakan oleh Kemendikbud RI. Sebab, semuanya harus diperhitungkan mulai dari tenaga pengajar, fasilitas pendukung disekolah dan anak didik itu sendiri.

“Penerapan FDS belum kita laksanakan. Masih tetap seperti biasa, Senin hingga Sabtu. Tapi ada beberapa sekolah yang sudah menerapkan, baik swasta maupun negeri,” jelas Kepala Dinas Pendidikan Karimun Bakri Hasyim, Rabu (18/1).

Sebab katanya lagi, di kabupaten Karimun banyak sekolah-sekolah yang berada di hinterland. Sehingga, apabila dilaksanakan apakah semua pihak sudah siap. Artinya, proses belajar mengajar disekolah harus ditambah jam belajarnya. Dan itu akan berdampak terhadap tenaga pengajar maupun anak didik.

“Kebetulan pekan depan ada rembuk Nasional dari Kemendikbud RI. Kemungkinan membahas FDS, untuk memberikan masukan dari seluruh Indonesia. Dan daerah kita termasuk yang sangat penting, mengingat wilayahnya banyak pulau-pulau yang berbatasan langsung dengan negara tetangga,” ungkapnya.

Terpisah pemerhati pendidikan Karimun Raja Zuriantiaz saat dimintai tanggapannya mengungkapkan, tidak efektif apabila diterapkan diwilayah kepulauan seperti di Karimun. Dan penerapan FDS seharusnya tidak diterapkan secara Nasional, namun diterapkan didaerah atau wilayah yang benar-benar siap. Seperti di pulau jawa maupun kota-kota besar.

“Anda bisa bayangkan, anak-anak di pulau pasti kaget proses belajar mengajar ditambah waktunya hingga sore. Terutama keluarga yang sudah terbiasa, anaknya membantu orangtuanya untuk bekerja ketika pulang sekolah,” katanya.

Lanjutnya, Indonesia ini merupakan negara yang beragam sosial dan budaya serta kondisi geografis yang antara satu dan lainnya berbeda. Tidak usah jauh-jauh di Provinsi Kepri saja, antara kabupaten/kota saja sudah berbeda dari kulkur orangnya.

“Perlu diingat, daerah kita banyak anak sekolah yang berjuang menyeberangi laut untuk menuju ke sekolah. Belum lagi kondisi ekonomi keluarga, Dan ini harus bisa direspon oleh Pemkab Karimun, untuk memberikan masukkan ke Kemendikbud nantinya,” tegas mantan anggota DPRD Karimun. (tri)