Sejumlah pekerja memasang pipa SWRO di jalan Agus Salim Tanjungpinang, beberapa waktu lalu. f.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id -Lambatnya pergerakan Pemprov Kepri untuk menyelesaikan proses serahterima proyek percontohan nasional, Sea Water Riverse Osmosis (SWRO) Tanjungpinang, memberikan ancaman serius bagi kebutuhan air bersih di Ibu Kota Provinsi Kepri, Tanjungpinang. Februari mendatang, genap dua tahun SWRO tidak memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Kita mendorong supaya SWRO cepat diserahterimakan. Karena sudah hampir dua tahun, infrastruktur yang ada tidak memberikan manfaat kepada masyarakat di Tanjungpinang,” ujar Pengawas PDAM Tirta Kepri, Yudi Carsana menjawab pertanyaan Batam Pos di Kantor DPRD Kepri, Dompak, Tanjungpinang, Rabu (18/1).

Mantan Anggota DPRD Kepri tersebut mengatakan, Pemerintah Daerah harus bergerak cepat untuk menyelesaikan persoalan. Karena meskipun dilakukan serahterima pada tahun ini, belum tentu bisa dioperasionalkan langsung. Kondisi ini mengundang kekhawatiran, yakni akan berkaratnya infrastruktur SWRO yang sudah ada.

“Karena terbatasnya ketersediaan air bersih di Tanjungpinang ini, Pempda bersusah payah untuk mendapatkan proyek strategis tersebut. Padahal menyangkut tentang kesejahteraan masyarakat,” papar Yudi.

Masih kata Yudi, belakangan ini, pihaknya mendapat informasi, Gubernur Kepri, Nurdin Basirun masih berpikir kembali untuk menyerahkan pengelolaan SWRO ke Pemko Tanjungpinang. Bahkan kata Yudi, Gubernur meminta PDAM Tirta Kepri untuk melakukan kajian kembali, mengenai masalah tarif SWRO. Disebutkan Yudi, pada awal pembangunan SWRO, target pemasangan meteran adalah sebanyak 3.000 sambungan.

“Sebenarnya kita sudah mendekati target, yakni 2.845 sambungan. Itu artinya, masyarakat sangat membutuhkan aliran air bersih. Karena sebagian besarnya adalah masyarakat yang tinggal dikawasan pelantar,” paparnya lagi.

Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Kepri, Rudy Chua menambahkan, semasa Gubernur Sani, sudah dilakukan kajian-kajian. Yakni menyangkut masalah tarif. Namun demikian, sudah dilakukan perhitungan. Awalnya SWRO hanya untuk zona I, yakni kawasan pasar. Bagi masyarakat yang sudah tersambung aliran PDAM, tentu SWRO menjadi pilihan alternatif, ketika terganggungnya distribusi air oleh PDAM.

“Melihat hal itu, maka timbul inisiatif lainnya, bahawa pemasangan pipa bisa dilipat gandakan. Yakni untuk 8.000 pelanggan, makanya tersambunglah pipa sampai ke daerah Tanjungunggat,” ujar Rudy.

Masih kata Rudy, saat ini kemampuan Waduk Sei Gesek adalah 100 liter perdetik. Sedangkan Waduk Sei Pulai adalah 270 liter perdetik. Kemampuan tersebut tergantung pada curah hujan. Disaat seperti ini, kapasitasnya bertambah. Akan tetapi, disaat musim kemarau, kondisinya sangat memprihatinkan. Apalagi kawasan catchment area disekitar waduk sudah rusak.

“Ketersediaan air bersih di Tanjungpinang jangka menengah harapannya adalah estuaridam Dompak, dan Waduk Kawal. Sementara waduk kawal, progresnya masih belum berwujud,” papar Rudy.

Seperti diketahui, proyek percontohan pengolahan air laut menjadi air tawar Sea Water River Osmosis (SWRO) untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat Kota Tanjungpinang itu, dikerjakan sejak Juli 2013 lalu oleh PT Artha Envirotama. Dengan nilai kontrak sebesar Rp49 miliar. Seharusnya proyek tersebut selesai pada tahun yang sama. Akan tetapi kontraktor baru bisa menyelesaikan pekerjannya pada Februari 2014 lalu.

Meskipun selesai, SWRO yang bisa memproduksi air bersih dengan kapasitas 50 liter perdetik tersebut hingga sampai saat ini, belum bisa dipergunakan. Dan manfaatnya masih belum bisa dirasakan oleh masyarakat Tanjungpinang. Padahal proyek tersebut bisa memenuhi kebutuhan 4.000 pelanggan air bersih.(jpg)