
Mendapat angpao merupakan kesenangan tersendiri bagi warga etnis Tionghoa saat Imlek. Tak peduli seberapa pun isinya, amplop merah ini dipercaya datangkan rezeki dan terhindar dari hal yang tak baik.
Deshi senang bukan kepalang usai mendapat satu dari puluhan amplop merah yang dilempar dewa rejeki, di Batam City Square (BCS) Mall, Minggu (15/1) lalu. Bahkan, dia harus berjuang ekstra dengan ikut berdesakan dengan pengunjung mal lainnya, padahal isi amplop terbilang sedikit.
“Bukan karena isi, katanya kalau dapat ini (angpao) nambah rezeki,” kata wanita 24 tahun ini.
Sama seperti Deshi, puluhan pengunjung lain yang didominasi warga etnis Tionghoa terlihat cukup antusias.
“Aku dapat, aku dapat satu,” seru seorang di antaranya sembari menunjukkan ke temannya.
Ketua Himpunan Seni Budaya Suku Tionghoa Indonesia (Hisbuti) Batam Harsono mengatakan dalam budaya Tionghoa amplop merah itu disebut angpao.
Amplop ini dipercaya dapat membantu membuang sial atau menangkis hal yang tidak baik dan sebaliknya mendatangkan hal baik atau rejeki.
Selain itu, budaya orang Tionghoa memberikan angpao juga beragam. Ada yang mewakili kebahagiaan, berharap rejeki hingga balas jasa.
“Contohnya kalau di rumah sakit atau rumah duka, selain balas jasa juga berarti menghindarkan kesialan yang akan menimpa kita,” ucapnya.
Angpao yang diberikan saat imlek juga memiliki beragam tujuan, tergantung siapa yang menerima angpao itu. Misalnya, angpao dari rang tua ke anak yang bertujuan agar si anak terhindar dari hal yang tidak baik, cepat tumbuh besar dan pintar.
Lain halnya dengan pemberian angpao ke orang dewasa yang belum menikah, yang selain bertujuan untuk mendapatkan rejeki dan terhindar dari hal yang tidak baik, juga bertujuan agar si penerima cepat dapat jodoh. Selain itu, pemberian anak kepada orang tua bertujuan agar orang tua selalu sehat, bernasib baik juga panjang umur.
“Pokoknya, Angpao secara garis besar adalah budaya Tionghoa untuk mendoakan agar penuh rejeki, selamat, terhindar dari segala hal yang tak baik serta berbahagia selalu,” paparnya.
Dalam sejarah Tionghoa, lanjut Harsono, angpao punya cerita sendiri. Menurtunya, zaman dahulu ada cerita tentang binatang yang seperti monyet yang bernam ‘Shui’. Binatang ini, setiap tahun akan ke kampung untuk mengganggu anak yang sedang tidur.
“Kalau anak itu diraba Shui, dia akan demam selama berbulan-bulan, saat sembuh dia akan menjadi anak yang bodoh dan lupa ingatan,” katanya.
Hingga suatu saat pada saat malam imlek, ada orang tua yang menjaga anaknya dengan menempatkan amplop merah (angpao) yang berisi koin di bantal sang anak. Kalau Shui mendekat, angpao dan koin itu akan bersinar tajam, melihat sinar tersebut Shui kaget dan tak berani mendekat. Kejadian tersebut cepat menyebar dan diketahui oleh orang-orang kampung.
“Mulai lah orang sampai sekarang pada saat malam imlek memebrikan angpao yang namanya Ya Shui Qian, artinya menghindari maut dari Shui,” ucapnya.
Dia mengatakan, angpao yang biasanya dibagikan perumpamaan dewa rejeki yang diperankan oleh orang setiap imlek dan yang biasa diberikan dalam keseharian, berbeda dengan Ya Shui Qian.
“Yang itu angpao biasa, kalau Ya Shui Qian biasanya setiap malam imlek,” katanya.
Menurutnya, angpao juga disebut ‘Li se’ yang memiliki arti ‘bernasib baik, hindarkan segala yang tidak baik’. Saat imlek, selain ada angpao juga identik dengan jeruk yang dalam bahasa mandarin ‘Ji Zi’.
“Jeruk apabila digabungkan dengan angpao menjadi ‘Da Ji Da Li’, artinya penuh rejeki dan menghilangkan hal yang tak baik,” pungkasnya. (adiansyah, batam)
