batampos.co.id – RSUD Tanjunguban sangat keberatan jika dana operasional kesehatan yang akan dialokasikan melalui APBD Murni Pemprov Kepri hanya tersisa Rp 28 juta. Sebab dengan dana sisa sebesar itu tak akan mampu menjalankan pelayanan kesehatan secara maksimal kepada masyarakat.

“Pastinya pelayanan kesehatan tak akan maksimal dengan uang segitu. Kita harapkan Pemprov Kepri mau menambahkannya lagi agar semuanya bisa berjalan lancar,” ujar Kabag Tata Usaha (TU) RSUD Tanjunguban, Indra Sukma ketika dikonfirmasi, Jumat (20/1).

Dikatakannya, Pemprov Kepri berencana mengalokasikan dana kesehatan melalui APBD Murni 2017 yang akan disahkan bulan ini sebesar Rp 53 miliar. Besaran dana yang dialokasikan tersebut tidak sesuai dengan angka kebutuhan yang telah diusulkan RSUD Tanjunguban sebesar Rp 65 miliar atau menyusut sebesar Rp 12 miliar.

Jika besaran alokasi dana tetap diputuskan sebesar Rp53 miliar, kata dia, maka sisanya hanya Rp 28 juta untuk operasional kesehatan. Sebab alokasi itu akan dipotong lagi untuk membayar segala keperluan lainnya. Dengan sisa dana itu diyakininya akan berdampak besar terhadap operasional di RSUD Tanjunguban.

“Kita sudah banyak membatalkan kegiatan untuk menghemat anggaran. Tetapi jika sisanya hanya segitu, bagaimana bisa kita bayar listrik, air, telpon, makan dan minum pasien serta lainnya selama setahun. Bisa-bisa kita harus paksa menuranginya, ya otomatislah pelayanan akan terganggu,” bebernya.

Hal senada dikatakan Bagian Program TU RSUD Tanjunguban, Budianto apabila alokasi dana untuk RSUD Tanjunguban tidak ada penambahan maka pelayanan kesehatan di rumah sakit ini akan miring.

“Kami sudah ngadap Komisi IV DPRD Kepri. Mereka berjanji akan mencari sumber penambahan dana. Semoga saja dapat ditambahkan pagu dana untuk RSUD Tanjunguban,” katanya.

Dana yang dialokasikan APBD Kepri 2017 untuk operasional kesehatan RSUD Tanjunguban tidak sesuai dengan besaran yang diusulkan. Bahkan menyusut Rp 12 miliar sehingga bisa berdampak pada pelaksanaan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Namun penentapan angka alokasi dana itu belum fiks 100 persen karena ada perencanaan penambahan dana dari sumber lainnya.

Tetapi jika alokasi dana itu tak berubah, Kata dia, maka dengan terpaksa RSUD Tanjunguban memangkas dana untuk pengadaan obat-obatan yang dipagukan sebesar Rp 4 miliar. Itu terpaksa dilakukan agar proses pemberian pelayanan kesehatan tetap berjalan lancar walaupun tidak maksimal.

“Dana alokasi sebesar itu sudah tak ada lagi pengadaan dan kegiatan. Tapi kalau tak ditambah kita harus potong biaya beli obat untuk mendukung pelayanan kesehatan,” ungkapnya. (ary)