
batampos.co.id – Pasangan Evi Darmayanti dan Sumarlin hanya bisa pasrah. Anak kelimanya lahir dalam kondisi tidak normal, Jumat (27/1) lalu di RS Elisabeth, Batam Center. Bagian otaknya keluar dari kepala. Jemari tangan kiri dan kaki kanan masih menyatu. Organ dalam tubuh, seperti jantung dan paru-paru juga tidak berfungsi maksimal.
“Cuping telinga kanannya juga terlipat karena kepalanya menengok ke kanan terus,” tutur Evi Darmayanti, Minggu (29/1).
Evi tidak memiliki firasat apapun tentang bayinya itu. Anaknya juga tak bisa dibilang belum cukup umur. Sebab, usia kandungan Evi mencapai 44 minggu ketika ia tiba di dokter. Dokter segera memintanya melakukan operasi untuk mengeluarkan si jabang bayi.
Waode lahir melalui operasi sesar. Beratnya mencapai 2,6 kilogram. Evi merasakan kontraksi hebat ketika melahirkannya. Beberapa kali ia hampir tak sadarkan diri. Namun, tim medis terus membuatnya terjaga.
Kondisi bayi yang tidak normal itu hanya disampaikan ke suaminya, Sumarlin. Pria asal Sulawesi itu kemudian memberitahukannya ke Evi. Evi membutuhkan waktu dua minggu untuk mempersiapkan mental bertemu bayinya. Ia mengaku kaget melihat kondisi bayinya itu.
“Sempat jatuh air mata saya tadi. Saya bukannya malu punya anak seperti itu. Seorang ibu mana boleh malu bagaimanapun kondisi anaknya,” tuturnya.
Begitu melihat kondisi Waode, Evi segera saja teringat dengan kejadian yang menimpa dirinya ketika mengandung dua bulan lalu. Ia terpeleset di kamar mandi ketika usia kandungannya hampir mencapai 9 bulan.
Lantaran tidak memiliki uang, ia mengurungkan niat memeriksakan diri ke dokter kandungan. Ia tidak melakukan USG ataupun sekedar konsultasi ke dokter. Meskipun, ia merasakan nyeri yang teramat sangat di pinggulnya. Ia juga bahkan tidak bisa berjalan selama satu minggu.
“Saya urut-urut sendiri saja pinggul saya. Karena tak mungkin kan saya nyuruh suami saya mencuri,” ujarnya.
Rasa sakit itu kembali terulang saat ini. Bedanya, di perutnya tak lagi tersimpan bayi. Bayi itu berada di dalam inkubator. Pernapasannya dibantu dengan selang oksigen. Sementara air susu dimasukkan melalui selang suntik.
“Saya ingin cepat pulang. Supaya biaya tak nambah banyak,” tutur wanita yang juga asal Sulawesi itu.
Namun, sebelum meninggalkan rumah sakit, pasangan Evi dan Sumarlin harus terlebih dahulu melunasi biaya persalinan. Maklum ketika itu, mereka masuk dengan menggunakan biaya pribadi. Keduanya belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Kondisi Evi yang mengalami kontraksi hebat membuat mereka panik dan masuk rumah sakit dengan biaya pribadi.
Tim dokter membantu persalinan namun sebelum memberikan perawatan lebih lanjut, Evi diharuskan membayar uang muka. “Alhamdulillah semalam dapat bantuan dari masjid dan warga. Jumlahnya Rp 2 juta,” kata Sumarlin.
Sumarlin dan Evi mengaku tidak memiliki banyak dana. Baru empat bulan mereka tinggal di Batam. Mereka merantau dari Kota Bau-bau di Sulawesi. Mereka hendak mencari peruntungan di kota industri ini.
Mereka menempati sebuah kamar kos di Perumahan Cendana Tahap 7. Sumarlin bekerja sebagai buruh cuci mesin pendingin (AC). Sementara Evi menjaga rumah. Setiap hari, penghasilan mereka hanya berkisar Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu.
“Kalau mengharapkan dari dana pribadi sudah nggak mungkin karena penghasilan kami sangat tidak menentu. Kadang kami tidak dapat penghasilan apa-apa sehari,” ujar pria berusia 34 tahun itu lagi.
Mereka masih membutuhkan banyak uang untuk membayar biaya persalinan Evi dan membayar biaya perawatan anaknya, Waode. Setiap hari, biaya perawatan Waode berkisar Rp 2 juta. Sebab, ia harus tetap berada di inkubator.
Dokter menyarankan supaya Waode dioperasi. Biaya operasi itu, namun demikian, diperkirakan mencapai Rp 50 juta. Sumarlin harus membayar uang muka terlebih dahulu. Besarnya, minimal, Rp 10 juta.
“Rp 10 juta itu untuk memastikan ada tempat atau tidak dan ada dokter spesialisnya atau tidak,” katanya.
Dokter tidak mengatakan tenggat waktu Waode harus mendapatkan operasi. Namun, dokter mengatakan, operasi itu harus dilakukan. Meskipun, harapan hidup sang bayi sangat tipis.
Sumarlin berharap baik ibu maupun anaknya segera keluar dari rumah sakit sehingga biaya perawatan dapat ditekan. Namun, ia juga memahami, anaknya harus mendapatkan pelayanan medis terbaik. Ia berharap ada uluran tangan dari masyarakat Batam untuk membantu operasi anaknya.
“Semoga ada jalan terbaik dari Allah. Kami pasrah,” tuturnya. (ceu)
