Iklan
Zaharudin dan koleksi museum sri serindit Natuna. foto : batampos.

batampos.co.id – Pulau Natuna ternyata sudah dikenal sejak lama dimata dunia, terutama di Asia Tenggara. Pernah mengalami puncak masa kejayaan perdagangan maritim dunia. Dengan banyaknya peninggalan ditemukan di Natuna.

Iklan

Diantara peninggalan tersebut menjadi koleksi Zaharuddin, warga di Kelurahan Ranai Darat. Setiap hari ia melakukan rutinitasnya merawat barang-barang antik berupa pecah belah dirumahnya dari berbagai negara.

“Dulu rumah ini tempat tinggal saya, tapi sekarang sebagian diperuntukkan jadi museum,” tutur Zaharuddin ditemui Batampos, Rabu (1/2).

Rumah beton bercat putih dengan luas sekitar 20 meter kali 20 meter tersebut disulapnya menjadi museum artepak yang diberi nama Sri Serindit sekaligus satu satunya lembaga kajian sejarah Kabupaten Natuna sejak tahun 2000 lalu. Kini museum tersebut sudah terdaftar di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dantermasuk memiliki koleksi terlengkap di Kepri.

Dari museum Sri Serindit ini, terungkap misteri artefak yang tertimbun didasar tanah dan dasar laut Natuna ratusan tahun lalu. Ternyata Natuna pernah menjadi tempat persinggahan puncak kejayaan perdagangan dunia. Yang sering ditemukan warga, saat menggali pondasi rumah, menggali parit, pesisir pantai dan menyelam tripang.

Ketua museum Sri Serindit ini mengatakan, pada abad ke 11 silam Natuna sudah menjadi bagian dari lintasan perdagangan di Asia Tenggara. Dan masa puncak kejayaannya pada abad ke 14, dikenal sebagai jalur sutera atau maritime silk route.

Dalam peta maritime silk route yang ditunjukkan Zaharuddin, Natuna menjadi pulau persinggahan dengan perubahan cuaca dan mendapatkan perbekalan seperti air minum dan makanan. Perdagangan Asia Tenggara dimulai sejak abad ke 11 masehi hingga di abad ke 14 masehi. Dalam peta India, pulau Natuna masih bernama Nalma.

Perdagangan maritim Asia Tenggara terus berlanjut hinga abad ke 15 dan abad ke 16. Dalam peta perdagangan Hindia Belanda, pulau Natuna diubah menjadi pulau Niawa. Artepak perjalanan perdagangan maritim Asia Tenggara masih ditemukan disepanjang pantai kepulauan Natuna dan dasar laut. Baru lah pada abad ke 17 dan abad ke 18 dalam peta dunia berganti menjadi pulau Natuna.

“Sejak abad ke 11, Natuna menjadi rute persinggahan perdagangan Asia Tenggara. Mulai selat Malaka, Sriwijaya, Natuna, Cina, India, Uni eropa dan negara bagian Timur. Semua artepak masih lengkap ditemukan di kepulauan Natuna, memang lebih banyak ditemukan di pulau Bunguran,” sebut Zaharudin.

Zaharudin mengatakan, tim peneliti Arkenas Kemendikbud mencatat, saat ini sudah teridentifikasi sebanyak 1.400 jenis artepak peninggalan dari abad ke 8 yang ditemukan di Natuna. Dari 10,000 koleksi museum yang belum selesai diidentifikasi Arkenas.

Artepak peninggalan yang ditemukan juga terdapat berupa peralatan rumah tangga, alat kesenia, perlatan perang, perhiasan. Dengan bahan mulai dari logam, titanium, emas, tembaga dan tembaga.

Artepak yang ditemukan adalah barang dagangan komoditi berbentuk keramik dari berbagai negara di Asia Tenggara. Diantaranya Cina, Vietnam, Thailand, India, Belanda, Jepang, Persia dan negara di Uni Eropa. Namun artepak yang paling diburu adalah pada masa dinasti Sung abad ke 12 dan dinas Yuan di abad ke 13 dan 14.

Saat ini terdapat atepak dinasti Yuan yang tenggelam di perairan Kelarik. Kini menjadi buruan kolektor dari perusahaan. Artepak dinasti Yuan dan Sung sangat diburu kolektor, dan direncanakan akan dilakukan pengangkatan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk penyelamatan.

“Saat ini koleksi di museum Sri Serindit mencapai 10 ribu buah. Tapi baru 1.400 teridentifikasi oleh Arkenas. Hal ini untuk menyimpulkan masa kejayaan perdaganan maritim Asia Tenggara di Natuna. Dan Natuna diibaratkan roda pedati, masanya akan kembali keatas seperti abad ke 14 masehi lalu jika konsep pembangunan mekngarah pada maritim dunia,” sebut Zaharudin.(arn)