Iklan
Seorang petugas melakukan pemeriksaan atas terbakarnya masjid Victoria Islamic Center di Victoria, Texas. (Mohammad Khursheed / REUTERS)

batampos.co.id – Satu-satunya masjid di Victoria, Negara Bagian Texas, Amerika Serikat (AS), terbakar Sabtu (28/1/2017) pagi tempo setempat.

Iklan

Agar umat Muslim bisa beribadah 5 kali dalam sehari, umat Yahudi di kota denganĀ  populasi penduduk 65 juta jiwa tersebut meminjamkan tempat ibadah mereka, sinagoge.

“Ketika bencana seperti ini terjadi, kita harus saling mendukung,” tutur Presiden Kuil B’nai Israel di Victoria Robert Loeb.

Dia mengungkapkan bahwa hampir semua orang di Victoria saling kenal. Dia bahkan mengenal beberapa pengurus masjid Islamic Center Victoria yang terbakar tersebut. Karena itulah, ketika musibah kebakaran tersebut terjadi, mereka merasakan kesedihan yang sama dengan umat muslim.

Umat Yahudi menyerahkan kunci sinagoge sehingga umat muslim bisa mendapatkan tempat untuk beribadah sembari menunggu pembangunan masjid yang baru

Di Victoria ada 25 hingga 30 penduduk Yahudi, sedangkan umat muslim ada sekitar 100 orang. Kami memiliki gedung yang luas untuk umat Yahudi yang sedikit itu,” terangnya.

Salah seorang pendiri masjid yang terbakar tersebut, Shahid Hashmi, membenarkan bahwa anggota komunitas Yahudi telah datang ke rumahnya dan memberikan kunci sinagoge.

Bukan hanya bantuan tempat, pengumpulan donasi online untuk pembangunan kembali masjid itu juga sudah melampaui target. Saat ini donasi yang terkumpul sudah lebih dari USD 900 ribu (Rp 12 miliar).

“Hati kami dipenuhi rasa syukur atas dukungan luar biasa yang kami terima. Curahan cinta, kata-kata yang baik, pelukan, bantuan, dan kontribusi finansial ini adalah contoh dari semangat Amerika yang sesungguhnya,” ujar Omar Rachid.

Dia adalah orang yang membuat donasi online di halaman GoFundMe untuk membangun kembali masjid di Victoria.

Sementara itu, koalisi umat muslim-Yahudi yang tergabung dalam Muslim Jewish Advisory Committee datang ke Washington kemarin (1/2). Mereka adalah gabungan pebisnis, pemimpin keagamaan, dan politikus. Termasuk di antaranya mantan Senator Demokrat dari Connecticut Joe Lieberman dan mantan Senator Republik dari Minnesota Norm Coleman.

Bukan tanpa alasan mereka datang ke Gedung Capitol. Komite itu mendesak legislator merespons tingginya kejahatan atas nama kebencian terhadap agama-agama minoritas. Dalam surat yang diberikan kepada Kongres AS, komite tersebut mengungkapkan bahwa kejahatan terhadap umat muslim di AS pada 2015 melonjak hingga 67 persen. Data itu diketahui berdasar paparan dari FBI. Umat Yahudi juga menjadi target kejahatan karena kebencian agama.

Mereka ditemui Senator Ben Cardin dari Demokrat dan Orrin Hatch dari Republik. “Kami berkomitmen memerangi kejahatan karena kebencian dan memastikan masyarakat mengerti bahwa orang Yahudi dan muslim memiliki kontribusi yang signifikan untuk membangun Amerika,” ujar anggota komite sekaligus CEO Henry Schein Inc Stanley Bergman.

Kelompok itu juga menyuarakan keresahan mereka atas pemberlakuan perintah eksekutif tentang imigrasi yang ditandatangani Presiden AS Donald Trump baru-baru ini. Sebab, perintah tersebut justru memperuncing masalah dan meningkatkan kejahatan-kejahatan yang berlatar kebencian. Utamanya terhadap minoritas. Bergman dan beberapa anggota komite lainnya adalah imigran. Bergman sendiri lahir di Afrika Selatan.

“Tujuan kami di sini bukan untuk mengkritik siapa pun. Tujuan kami adalah untuk melakukan aksi dan melihat bagaiĀ­mana kami bisa menyatukan semua orang,” ujar CEO Ethan Allen Global Farooq Kathwari. Pebisnis sukses tersebut juga merupakan imigran. Dia berasal dari Kashmir. (Independent/USA Today/sha/c9/any)