batampos.co.id – Belum genap dua pekan menjabat, Presiden Donald Trump, 70, Presiden AS membuat Negeri Paman Sam tersebut panen kritik dan jadi bahan omongan masyarakat global.

Iklan

Itu disebabkan Trump tidak hanya menerbitkan kebijakan-kebijakan kontroversial, tapi juga memantik permusuhan dengan negara-negara sekutu.

Rabu malam waktu setempat (1/2), Washington Post membeberkan fakta tidak menyenangkan yang terjadi dalam perbincangan telepon Trump dan Perdana Menteri (PM) Australia Malcolm Turnbull pekan lalu. Kabarnya, percakapan yang dijadwalkan berlangsung satu jam itu terputus pada menit ke-25. Trump menutup telepon saat Turnbull mulai membahas Syria.

”Ini adalah percakapan terburuk sepanjang hari ini,” kata pemilik Trump Tower itu kepada Turnbull sebelum mengakhiri perbincangan. Akhir pekan lalu, Trump bertelepon dengan empat pemimpin negara yang lain. Salah satunya adalah Presiden Rusia Vladimir Putin. Konon, empat perbincangan telepon yang lain berjalan mulus. Hanya percakapan dengan Turnbull lah yang berakhir tegang.

Begitu Washington Post memublikasikan berita tentang Trump dan Turnbull itu, presiden ke-45 AS tersebut langsung bereaksi di Twitter. Rabu malam itu, dia menyebut kesepakatan AS-Australia tentang pengungsi sebagai kesepakatan dungu. Dalam tweet-nya, Trump menyebut pengungsi sebagai imigran gelap. Cuitan itu langsung menuai kritik. Salah satunya dari Bana Alabed.

Bocah perempuan asal Kota Aleppo, Syria, itu kecewa karena Trump menerapkan kebijakan diskriminatif terhadap kaumnya.

”Apakah saya seorang teroris?” tulis gadis tujuh tahun tersebut lewat akun Twitter resminya.

Sebelum mengomentari cuitan Trump, Bana lebih dahulu mengunggah ulang tulisan penguasa Gedung Putih itu tentang kebijakan imigrasi yang diklaimnya sebagai cara paling efektif menangkal terorisme.

Bana yang kini tinggal di Turki bersama orang tua dan dua adiknya belakangan memang rajin mengkritisi Trump. Itu terjadi setelah surat terbukanya untuk pengganti Barack Obama tersebut tidak ditanggapi Washington. Saat terjadi serangan di masjid Kota Quebec, Provinsi Quebec, Kanada, pada Minggu (29/1), Trump diam saja. Itu membuat Bana tergelitik untuk menyindirnya.

Donald Trump bercanda dengan Mike Pence (kiri) setelah mengangkat Rex Tillerson (duduk) sebagai menteri luar negeri. (Reuters)

”Saya tidak melihat tweet Donald Trump tentang serangan teror di Quebec. Mengapa Tuan @realdonaldtrump? (Apakah) Karena para korbannya adalah muslim?” sindir Bana lewat @AlabedBana.

Namun, kritik itu tak menuai reaksi apa pun dari Gedung Putih. Trump yang lebih banyak mencuit lewat @realdonaldtrump ketimbang @POTUS pun tidak menanggapi pertanyaan Bana. Padahal, Trump biasanya reaktif.

Jika Trump mengomentari laporan Washington Post lewat Twitter, Turnbull memilih cara yang lebih elegan. Kemarin (2/2) pemimpin 62 tahun itu mengadakan jumpa pers untuk mengklarifikasi berita tentangnya. Sebelum mengomentari kesepakatan yang Trump sebut sebagai kesepakatan dungu tersebut, Malcolm lebih dahulu meluruskan laporan tentang etika bertelepon Trump.

Saya sangat menyayangkan bocornya informasi terperinci tentang percakapan yang terjadi antara kami. Tapi, saya ingin menggarisbawahi satu hal. Tidak benar jika Presiden (Trump) menutup telepon dengan tiba-tiba. Perbincangan kami berakhir dengan baik dan sopan,” paparnya dalam jumpa pers di Kota Canberra seperti dilansir stasiun radio Sydney 2GB.

Sementara itu, Trump kembali menebar ancaman baru di dalam negeri. Setelah dengan kota-kota suaka yang ramah pengungsi dan imigran, kini dia bermusuhan dengan UC Berkeley. Dia mengaku tidak akan segan menghentikan aliran dana bantuan ke kampus tersebut. Rabu lalu, pecah unjuk rasa yang melibatkan kekerasan di universitas di Negara Bagian California itu.

”Jika UC Berkeley tidak menganut prinsip kebebasan berbicara dan malah menerapkan kekerasan terhadap orang tak berdosa yang punya pendapat berbeda dengan mereka,tidak akan ada dana bantuan federal lagi,” tulis Trump dalam akun Twitter-nya kemarin. Unjuk rasa itu dipicu kedatangan petinggi Breitbart News, Milo Yiannopoulos. Rencananya, pendukung Trump tersebut akan menjadi pembicara di kampus itu.

”Kami menolak keras pandangan-pandangan Yiannopoulos tentang supremasi kulit putih, transfobia, dan kebencian. Kami menolak ideologinya. Maka, kami mendesak pembatalan acara yang menghadirkan dia sebagai pembicara,” bunyi petisi mahasiswa yang menolak jurnalis asal Inggris tersebut.

Sementara itu, office of inspector general pada Departemen Keamanan Dalam Negeri AS bakal meninjau penerapan perintah eksekutif Trump tentang imigrasi. Tepatnya, yang berkaitan dengan moratorium visa tujuh negara Islam. Peninjauan itu dilakukan atas perintah Kongres AS yang menerima banyak komplain dan masukan dari masyarakat serta para pakar politik. (AFP/Reuters/BBC/CNN/hep/c6/any/tia)