Wajah Pasar Induk Jodoh

Kondisi Pasar Induk Jodoh kian memprihatinkan. Hampir semua bagian pasar ini rusak berat. Perlu perbaikan menyeluruh.

Pesona pasar yang diresmikan 2004 silam perlahan redup, tertutupi kios-kios yang juga kumuh yang berdiri tepat di sekelilingnya. Bangunannya sudah tidak sekokoh dulu.

Batam Pos mencoba melihat keadaan pasar yang sudah ditinggal penyewanya.

Membelah pasar, bau pesing langsung menusuk hidung. Sekumpulan lalat beterbangan di pinggir-pinggir jalannya. Masuk ke tengah bangunan bergaya campuran Eropa dan Timur Tengah ini, asap pembakaran sisa sayuran sudah dianggap biasa oleh beberapa penghuni Pasar Induk.

“Sepuluh tahun lalu, saya pindah ke sini. Kondisinya masih bagus, sekarang tak terurus lagi,” kata pengupas bawang, Leni, kepada Batam Pos, Sabtu (4/2).

Atap-atap yang seharusnya menaungi justru malah memicu kekhawatiran. Penghuni di bawahnya bisa saja terkena atap yang jatuh.

“Kemarin sore, ada atap yang jatuh. Untung saja, sudah tidak ada lagi yang kerja di sini,” katanya.

Di beberapa sudut pasar, banyak pria yang tengah mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur.

“Mereka itu kerja di sini mas, angkut-angkut barang kalau ada barang-barang masuk,” jelas perempuan berjilbab itu.

Sementara itu, pijakan tangga menuju ke lantai dua sudah tidak bisa dilewati lagi. Air pekat berwarna hitam dan sampah berserakan di anak tangganya. Namun, menurut Leni beberapa orang justru ada yang menjadikan Pasar Induk sebagai tempat tinggal.

“Di lantai dua ini, ada orang tinggal juga. Anak-anak muda begitulah,” katanya.

Di sudut lain, banyak juga anak-anak yang masih bermain di persimpangan jalan sambil menunggu orangtua mereka bekerja.

“Karena sebagian dari kami juga tinggal di rumah liar,” ujar Leni.

Salah satu pekerja, Ahmad mengatakan sangat mendukung jika pemerintah mau merapikan dan memperbaiki pasar tersebut.

“Kami pasti mendukung, kalau sudah diperbaiki otomatis pembeli juga betah,” kata Ahmad.

Jumlah pedagang yang masih betah di Pasar Induk ini, bisa dihitung dengan jari. Jumlahnya tidak lebih dari 10 pedagang yang rata-rata menjual pisang, bumbu dapur dan sembako.

“Para pedagangnya lebih memilih jualan di Pasar Tos 3000 atau di kios liar, karena pembeli juga malas ke sini,” tutup Leni. (cr18)

Respon Anda?

komentar