Iklan
Jam dinding salah satu hasil kreasi putra Dabo Singkep yang dipajang di CPL. F, Wijaya/batampos.

batampos.co.id – Kumpulan anak muda Dabo Singkep menggelar bazar kesenian dengan tema Cari Pasar Lagi (CPL) di Gedung bekas Implasmen Dabo Singkep, sejak Jumat (3/1). Uniknya, seluruh barang hasil seni yang ditampilkan berasal dari barang bekas.

Iklan

“Seluruh barang kami jual sebagai modal untuk kegiatan selanjutnya. Seluruh kegiatan ini murni dari dana kami dan sejumlah donatur,” ujar ketua defisi acara CPL, Wendy Febrian di lokasi kegiatan, Minggu (5/1) siang.

Di lokasi bazar terlihat sejumlah barang kesenian yang dihasilkan oleh putra daerah yang cukup menarik. Diantaranya kesenian jam dinding dari kayu belas dengan berbagai bentuk, line art berbagai berbentuk ragam yang menarik, meja dan sofa, serta gantungan baju dari limbah kayu kota kemasan barang, serta lampu belajar dari kayu bekas.

Selain itu, pengunjung yang datang juga disuguhi hiburan band yang diisi oleh sejumlah pemuda termasuk dalam panitia.

“Selanjutnya hasil produk seni anak tempatan ini akan kami pajang di online. Itu kegiatan selanjutnya, sekarang masih ngumpul uang dulu,” kata Wendy.

Lebih lanjut Wendy menambahkan, CPL ini dilakukan untuk menjawab kondisi saat ini yang semakin sulit. Lapangan pekerjaan tidak ada, pemuda semakin banyak yang menganggur. Melihat ini sekelompok pemuda Dabo Singkep menggelar kegiatan tersebut.

Tak disangka, Wendy mengaku terkejut setelah melihat antusias pemuda Dabo Singkep yang banyak menyimpan kreatifitas bernilai ekonomi. Hingga saat ini sejumlah barang seni yang dipajang juga telah banyak terjual.

Dari seluruh barang yang dijual berkisar dari harga termahal Rp 5 juta yakni sofa santai, hingga harga termurah Rp 60 ribu yakni telenan untuk ibu memotong ikan dan sayur.

Sementara itu panitia CPL lainnya, Tundangun Jaya Saputra, menambahkan, barang bekas yang ada disekitar kita semua memiliki nilai ekonomis yang tinggi jika diolah dengan baik. Terlebih jika si pengolah memiliki jiwa seni dan kreatif yang tinggi.

“Walau kami tinggal di pulau tapi tidak menghalangi kami untuk berkreasi,” ujar Tundangun. (wsa)