Iklan

batampos.co.id – Dibawah kepimpinan Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, Pemko Tanjungpinang sudah menyusun sejumlah rencana pembangunan strategis di Ibu Kota Provinsi Kepri, Tanjungpinang. Salah satunya adalah Masjid Terapung. Namun apa daya, keinginan besar tersebut tidak ditopang dengan kekuatan anggaran yang menjanjikan. Sebagai hiburan, meskipun Masjid Terapung tak kunjung jadi, di kawasan Teluk Keriting, Tanjungpinang sudah tegak berdiri Mushala terampung.

Iklan

Bangunan diatas laut tersebut boleh dibilang cukup menyita perhatian masyarakat Tanjungpinang. Karena pembangunan terapung yang digadang-gadang mulai dilakukan pada Tahun Anggaran (TA) 2016 oleh Pemko Tanjungpinang gagal dilaksanakan. Apalagi Jumat (3/2) lalu, Gubernur Kepri, Nurdin Basirun berkunjung langsung untuk melihat mushala terapung tersebut. Tentu kabar kedatangan Gubernur kesana, mengundang penasaran masyarakat untuk melihatnya.

Batam Pos, Minggu (5/2) langsung menuju lokasi untuk melihat bangunan mushala tersebut. Dari seberang Jalan Yos Sudarso atau tepatnya dengan Restauran Sei Enam, bangunan warna putih tersebut terlihat sangat jelas. Apalagi dicat warnah putih, semakin terlihat jelas keberadaanya. Bangunan yang luasnya sekitar 20×15 meter tersebut dibangun oleh birokrat yang bertugas di Pemprov Kepri.

Selain bisa beribadah sambil didendangkan oleh demburan ombak kecil, dari luar bangunan yang menatap langsung Pulau Penyengat, Tanjungpinang itu. Siapapun yang datang bisa sambil menikmati lalu lalang kapal-kapal yang melintas di depan Teluk, Keriting, Tanjungpinang. Boleh dikatakan, kehadiran bangunan tersebut menjadi pengobat kerinduan. Karena masyarakat sudah tidak sabar menunggu berdirinya Masjid Terapung yang digadang-gadangkan menjadi ikon barunya Ibu Kota Provinsi Kepri, Tanjungpinang.

“Sejak 2015 yang lalu Pemko Tanjungpinang sangat berhasrat untuk membangun Masjid Terapung. Tapi sampai saat ini, masih sekedar angan-angan saja,” ujar Nazaruddin salah satu warga Teluk Keriting, Tanjungpinang.

Ditanya mengenai berdirinya Mushala Terapung, pria yang akrab disapa Udin tersebut mengaku mushala tersebut dibangun secara pribadi oleh seorang pejabat. Bahkan lokasinya juga bersebelahan dengan kediaman pribadinya yang memang letaknya di laut. Diakuinya, meskipun mushala, tetap saja mengundang penasaran untuk melihat.

“Apalagi mendengar kata-kata Mushala terampung, pasti akan mengingatkan rencana pembangunan Masjid Terapung. Kita berharap cita-cita tersebut bisa terwujud, sehingga tidak menjadi janji-janji politik saja,” papar Udin.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Tanjungpinang, Ashadi Selayar, mengatakan rencana pembangunan Masjid Terapung sebenarnya belum matang. Apalagi Detail Engineering (DED) yang dilakukan pada 2015 lalu tak sempurna. Kemudian pada 2016 Pemko terkesan memaksakan rencana pembangunan tersebut dengan membuat anggaran sebesar Rp20 miliar untuk tahap pertama.

“Kenyataanya, pada perjalan APBD Kota Tanjungpinang mengalami defisit. Konsekuenisnya tertundanya rencana pembangunan tersebut. Secara keseluruhan membutuhkan anggaran sebesar Rp75 miliar,” ujar Ashadi.

Politisi Partai Golkar Tanjungpinang tersebut juga mengatakan, untuk penyusunan DED dan kajian lingkungan Masjid Terapung sudah menelan APBD Kota Tanjungpinang hampir setengah miliar. Dijelaskannya juga, keinginan Pemko Tanjungpinang untuk melakukan pembangunan Masjid Terapung lewat dua tahun anggaran tanpa melalui Perda Multi years juga menjadi pergunjungan di lingkungan DPRD Kota Tanjungpinang.

“Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kita menyarankan Masjid Terampung diusulkan untuk masuk dalam perencanaan pembangunan strategis nasional. Yakni mengharapkan dukungan APBN,” jelas Ashadi.

Ditambahkannya, gol atau tidaknya keingian besarnya, tentunya tergantung pada kepiawian Pemko Tanjungpinang lewat Musrenang Nasional (Musrenbangnas) nanti. Pihaknya juga akan mengawal, sehingga pembangunan yang sudah dijanjikan bisa terlaksana. Apabila ini gagal, tentu menjadi penilaian minus dimata masyarakat Tanjungpinang.

“Apabila ini jadi, Masjid Terapung akan menjadi iko baru tentunya bagi Tanjungpinang yang merupakan Ibu Kota Provinsi Kepri,” tutup Ashadi.(Jailani)