Iklan
Inilah kelapa yang menurut Herman memiliki batu di dalamnya. Foto Widisandika/jpg

batampos.co.id – Diyakini memiliki buah kelapa yang langkah, seorang warga di Kelurahan Kotabumi Kota, Lampung Utara, Bandarlampung, menawarkan buah kelapa tersebut senilai Rp25 juta.

Iklan

Kelapa milik Herman itu begitu dibelah memiliki semacam tonjolan keras yang menyerupai batu berwarna putih.

Yang lebih aneh, menurut Herman, bagian daging kelapa di dekat benda mirip batu itu tak busuk atau basi meski sudah dibelah dan tak disimpan di lemari pendingin.

Diungkapkannya, ia tak menyangka kalau pohon kelapa milik adiknya bakal berbuah. Sebab, menurutnya, pohon kelapa yang diperkirakan berumur puluhan tahun itu tak pernah berbuah.

Warga Jl. Imam Bonjol Gg. Prono, Tanjungkarang Barat, Bandarlampung, ini semakin terkejut ketika tahu pohon kelapa itu berbeda dengan kelapa lain.

’’Buahnya ini jatuh pada September 2016. Sampai sekarang ini nggak basi-basi,” katanya saat menyambangi Graha Pena Lampung kemarin.

Menurutnya, kelapa ’’aneh’’ tersebut saat ini dipegang olehnya. Dia mengaku tak habis pikir kenapa daging kelapa di sekitar benda keras mirip batu itu tak basi. ’’Saya juga nggak tahu. Kok bisa ada kayak batunya gini,” katanya.

Lantaran menganggap kelapa miliknya langka, Herman lantas membanderol Rp25 juta bagi kolektor yang tertarik memilikinya. ’’Bisa datang langsung ke rumah,” katanya.

Terpisah, guru besar dari Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila) Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banua, M.Si. angkat bicara terkait fenomena kelapa yang tak basi itu.

Dia menjelaskan, tanaman biasanya menyerap unsur hara. Baik mikro maupun makro. Unsur hara tersebut akan disimpan di dalam batang, daun, dan buah.

’’Yang memungkinkan dia (buah kelapa) memiliki sejenis batu dalam buahnya itu karena adanya akumulasi dari unsur kalsium yang ada di dalam tanah,” katanya kepada Radar Lampung (Jawa Pos Group), Selasa.

Batu tersebut, sambung dia, kemungkinan berwarna putih dan terkandung dalam buah kelapa. Hal tersebut memungkinkan terjadi secara fisiologi terhadap tanaman.

Meski begitu, diakui Irwan, fenomena ini memang sangat jarang terjadi pada tanaman. ’’Memang jarang terjadi, tetapi memungkinkan untuk terjadi pada tanaman,” tukasnya. (jpnn)