ilustrasi

batampos.co.id – Petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) meminta agar program Transmigrasi Lokal (Translok) segera direalisasikan Pemko Batam. Sedikitnya, 300 orang petani sudah bersedia direlokasi ke hinterland untuk membuka lahan pertanian.

“Kita minta sesuai RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Walikota Batam, awal 2018 translok sudah dibentuk. Kami 300 petani sudah siap dipindahkan,” ujar petani, Arif saat menghadiri reses anggota dewan di Sekretariat Forum Petani, Batamkota, Kamis (9/2).

Arif mengatakan, secara internal mereka telah melakukan pendaftaran kelompok-kelompok yang siap diverifikasi pemerintah. Mereka berharap pemerintah daerah berperan terutama di dalam penyediaan pupuk dan bibit yang bersubsidi dengan melibatkan kerjasama pihak perusahaan.

Mengingat peran petani tersebut sebagai pejuang-pejuang pangan di Kota Batam yang mampu menyediakan hasil pertanian yang murah dan berkualitas, guna menurunkan laju inflasi.

Petani lainnya juga berharap diadakannya asuransi pertanian. Asuransi pertanian memang sangat dibutuhkan petani, terutama petani yang menanam di lahan yang penuh dengan resiko.

Tujuan dari asuransi pertanian ini adalah memberikan perlindungan kepada petani dalam bentuk bantuan modal kerja apabila terjadi gagal panen dari berbagai resiko yang tidak direncanakan. Sehingga petani dapat memulai lagi usahanya setelah terjadi gagal panen.

“Sebagaimana negara maju seperti Jepang, Malaysia, juga melakukan perlindungan kepada profesi petani,” ujar dia.

Sikaryo, anggota dewan yang melakukan reses mengatakan, para petani menyambut antusias rencana relokasi translok petani ini. Sebagaimana yang diamanatkan di RPJMD Walikota Batam roadmap pengendalian inflasi dengan membuka lahan yangg akan melibatkan seluruh FKPD.

“Saat kami reses kemarin, respon petani sangat luar biasa. Mereka sangat siap untuk segera di translokan. Salah satu harapan, mereka meminta akses permodalan untuk petani dengan dibentuk pendampingan lembaga keuangan mikro (LKM),” kata Sukaryo.

Pendampingan ini dalam bentuk penyuluhan untuk meningkatkan produk pertanian menuju petani yang modern. Sehingga tak hanya mencukupi kebutuhan Batam, juga diharapkan mampu meramaikan komoditas ekspor negara tetangga.

“Hal ini tadi dijawab perwakilan BI,” kata dia.

Diketahui, sesuai RPJMD Walikota dan Wakil Walikota Batam, tahun 2018, dicanangkan dibentuk kawasan translok petani. Tidak tanggung-tanggung, tiga pulau di hinterland Batam, tepatnya di seberang pulau Punggur, Batubesar, dijadikan lokasi cadangan bagi para petani translok. (rng)

Respon Anda?

komentar