Iklan
pengunjung memadati Vihara Ksitigarbha Bodhisattva Batu 13 Tanjungpinang, Jumat (10/2). F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Gubernur Kepri, Nurdin Basirun dan Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah meresmikan Vihara Ksitigarbha Bodhisattva di Jalan Asia-Afrika, Batu 13, Kecamatan Tanjungpinang Timur, Jumat (10/2). Tempat beribadah umat budha se Kepri itu akan dibuka untuk area rekreasi masyarakat umum.

Iklan

Vihara Ksitigarbha Bodhisattva dibangun dan dikelola oleh Yayasan Ling Shan Ji Yu Si. Pembangunannya sempat terkendala biaya sehingga menelan kurun waktu cukup lama untuk menyelesaikannya. Yaitu selama 14 tahun dari 2002-2016. Namun di tahun ini vihara yang berdiri megah diatas lahan eks tambang bauksit itu tercatat sebagai vihara terunik kedua se Asia Tenggara setelah Cina.

Ketua Yayasan Ling Shan Ji Yu Si, Bobby Jayanto mengatkan vihara yang dibangunnya merupakan tempat beribadah umat budha yang terunik kedua di Asia Tenggara. Namun untuk mencapai kesuksesaan itu dirinya mengalami sejarah panjang baik duka dan sukanya

‘Banyak kendala yang saya alami untuk dirikan vihara ini. Makanya proses penyelesaian pembangunannya menelan waktu 14 tahun,” ujar Bobby dihadapan tamu undangan.

Diceritakan Bobby, awal sejarah pembangunan vihara ini dirinya dihadapkan dengan para pemain tambang bauksit. Lahan yang digunakannya untuk membangun vihara akan dibebaskan untuk lokasi pertambangan biji besi tersebut. Ketika itu dirinya menolak keras dan mempertahankan agar lahan seluas dua hektare tidak jatuh ketangan pemain bauksit.

Berhasil pertahankan lahan tersebut, dirinya mulai menjalankan rencana pembangunan vihara dengan dana seadanya. Itu dilakukannya pada awal 2002 lalu. Beberapa tahun kemudian, dirinya dilanda krisis dana sebab berbagai usahanya mengalami kemacetan. Kendati demikian tak membuatnya patah arang, dengan jiwa yang semangat dia mencari donatur untuk mendulang bantuan dana.

“Dewa membantu saya. Banyak donatur yang siap membantu menyelesaikan pembangunan vihara ini. Disitulah semnagat saya kembali berkobar,” bebernya.

Dana yang terkumpul dari beberapa donatur itu digunakan untuk melanjutkan pembangunan. Dari membangun tempat ibadahnya, pondok-pondok sampai membeli patung-patung lohan beraneka ragam dan dewa-dewa. Patung lohan dan dewa itu dibelinya langsung dari Cina sebanyak 540 unit.

Insipari pembangunan vihara ini, lanjut Bobby, datang dari permintaan suhunya (guru) yang ada di Singapura. Kala itu beliau ingin mendirikan vihara besar di wilayah Tanjungpinang. Maka sebagai wujud memenuhi permintaan tersebut, dia mendirikan vihara seperti yang diinginkan suhunya.

“Dalam vihara ini ada 500 patung lohan berbeda wajah dan 40 patung dewa-dewa. Bahkan ada gedung dengan dewa yang berkapasitas besar. Inilah yang menjadikan vihara terunik kedua se Asia Tenggara setelah Cina,” sebutnya.

Dengan diresmikannya pengoperasian Vihara Ksitigarbha Bodhisattva, Bobby berjanji tidak hanya memanfaatkan vihara ini sebagai tempat beribadah umat budha saja. Tetapi akan diperuntukan sebagai area rekreasi masyarakat umum.

Besar harapan Bobby vihara ini juga bisa dijadikan salah satu objek wisata religi di Indonesia bahkan sampai ke seluruh dunia. Karena nilai jual vihara ini untuk kepariwisataan sangat tinggi. Baik bentuk dan isinya maupun sejarah yang tersirat disetiap bangunan dan patung-patung lohan dan dewa.

“Sudah 3000 orang yang datang kesini. 80 persennya agama muslim. Jadi vihara ini sangat bernilai tinggi makanya kami buka untuk umum. Bahkan akan dijadikan sebagai objek wisata religi di dunia,” ungkapnya.

Gubernur Kepri, Nurdin Basirun mengaku kagum dengan dibangunnya vihara diatas lahan eks bauksit. Sebab vihara yang didirkan Yayasan Ling Shan Ji Yu Si tersebut mampu terkenal sampai di Asia Tenggara.

“Vihara ini akan dijadikan objek wisata religi tingkat internasional. Namun diharapkan juga bisa meningkatkan gairah kepariwisataan di Tanjungpinang,” katanya.

Nurdin menjelaskan selama ini sektor kepariwisataan di Kepri masih dipegang Kota Batam dan Kabupaten Bintan. Sebab kedua daerah tersebut memiliki inovasi-inovasi tinggi untuk menarik kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Diharapkan Nurdin, hadirnya Vihara Ksitigarbha Bodhisattva ini bisa memacu semangat Kota Tanjungpinang untuk mengejar kedua daerah tersebut. Dengan begitu Pemko Tanjungpinang akan memiliki sumber PAD baru di sektor pariwisata.

“Kami mendukung Pemko Tanjungpinang menjadikan Pulau Penyengat sebagai wisata religi. Semoga dukungan itu mampu menjadikan ibukota semakin maju dibidang pariwisata,” harapnya.

Sementara itu, Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah mengucapkan terimakasih kepada Yayasan Ling Shan Ji Yu Si yang berhasil membangun vihara terkenal di Kota Tanjungpinang. Vihara ini akan dijadikan salah satu objek wisata religi dengan Pulau Penyengat.

“Kami juga akan membenahi Pulau Penyengat. Jadi dengan adanya vihara ini akan kami kemas dalam satu paket wisata religi,” akunya.

Pemko Tanjungpinang, kata Lis, akan membantu Yayasan Ling Shan Ji Yu Si untuk mempromosikan Vihara Ksitigarbha Bodhisattva sebagai wisata religi ke seluruh dunia. Kemudian juga akan menjadikan Pulau Penyengat sebagai wisata religi khusus ziarah, sejarah dan tempat beribadah umat muslim.

Dengan cara itu, lanjut Lis, Pemko Tanjungpinang sangat optimis, wisata religi yang dikemas Kota Tanjungpinang mampu menyumbang banyak kunjungan wisatawan untuk Indonesia.

“Pemko kekurangan dana untuk kembangkan sektor pariwisata. Tapi kami akan bergotongroyong untuk menjadikan daerah ini sebagai wisata religi satu-satunya di Indonesia,” pungkasnya. (ary)