Nofirman dan istrinya Efi memperlihatkan mesin pengopek kacang di rumahnya jalan Kijang lama Tanjungpinang, Minggu (12/2). F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Terbatasnya kemampuan anggaran, tidak menyurutkan pasangan suami istri (pasutri) di Tanjungpinang untuk berkreativitas. Adalah Nofirman dan Evi, lewat kolaborasi keduanya, dengan memanfaatkan barang-barang bekas, mereka berhasil menciptakan mesin pengupas kulit ari kacang. Hasil karya tersebut juga mengantarkan mereka mengangkat piala juara II pada ajang Teknologi Tepat Guna (TTG) Nasional tahun 2016 lalu di Lombok, Nusa Tengga Barat.

Iklan

Lewat bicang-bincang santai dengan Batam Pos, Minggu (12/2) siang kemarin, Nofirman menceritakan lahirnya gagasan brilian untuk menciptakan sebuah alat yang bisa membantu usaha rumahannya. Maklum usaha jipang yang sudah digelutinya selama lebih kurang delapan tahun, sangat menguras waktu untuk memulai produksinya. Pasalnya, menghabiskan waktu satu setengah hari untuk berjibaku mengupas kulit kacang tanah yang menjadi bahan baku jipang.

Kesukaran yang dihadapi, membuat dirinya terpikir untuk membuat sebuah mesin yang fungsinya bisa mengupas kulit kacang yang sudah digonseng. Keinginan tersebut kemudian diutarakan kepada istrinya, Evi. Seakan sudah sejiwa, Evi juga sangat menginginkan adanya alat tersebut. Akhirnya percobaan tersebut bermula di awal 2016 lalu. Sebelumnya, Pasutri tersebut juga sudah berjaya menciptakan mesin penggonseng kacang.

“Pemikiran kita sederhana, bagaimana kacang yang sudah di gonseng bisa cepat dipisahkan dari kulit arinya. Sehingga proses membuat jipang bisa lebih cepat selesainya,” ujar Nofirman dikediamannya di Perumahan Pondok Kelapa, Tanjungpinang.

Pria 45 tahun tersebut mengungkapkan, selain harus memisahkan kacang dengan kulit arinya, kacang juga harus dalam kondisi terpecah ketika sudah selesai. Berangkat dari keingian tersebut, Nofirman mulai memutar otaknya. Tidak harus menguras kantung terlalu dalam, Nofirman kemudian memanfaatkan barang-barang bekas yang tidak terpakai. Seperti bekas ember cat, paralon. belender pemecah, blower.

“Kita melakukan tiga kali bongkar pasang, Alhamdulillah pada percobaan ketiga berhasil dilakukan. Tentu ini sesuatu yang sangat kami syukuri,” ungkap Nofirman sambil memperlihatkan hasil karyanya.

Bapak tiga anak tersebut mengatakan, untuk mempercantik tampilan mesin pengupas kulit kacang, dirinya kemudian membalut alat-alat yang ada, dalam sebuah bok aluminium berdiameter satu meter kali setengah meter. Sedangkan tingginya bok tersebut adalah sepinggang orang dewasa. Sangat disyukurinya, karena hadirinya alat tersebut, bisa menekan biaya pengeluaran usaha rumahannya.

“Karena selama ini, kita harus mempekerjakan orang untuk mengupas kulit kacang. Tetapi dengan adanya ini, kita bisa menyelesaikan 50 kilo gram kacang tanah dalam satu jam,” paparnya.

Pria kelahiran Sumatera Barat itu, juga menjelasakan, selain menghemat waktu, kehadiran mesin ini juga bisa menghindari terjadi resiko kerusakan pada kulit tangan. Karena terlalu lama mengupas kacang yang sudah digonseng. Lebih lanjut katanya, kapasitas listrik pada mesin tersebut adalah 500 watt, karena ada dua mesin digunakan.

“Tetapi kita bisa menghemat hampir Rp80 ribu biaya upah untuk mengupas kacang. Meskipun kapasitas listriknya besar, durasi pemakaiannya hanya dalam hitungan jam,” beber pria yang akrab disapa Nopri tersebut.

Evi turut menamabahkan, hasil produksi mereka kini sudah mengantongi merek, yakni Ayam Jago. Disebutkan Evi, pangsa pasarnya bukan hanya di Tanjungpinang saja, tetapi juga sampai ke Tanjunguban, Bintan. Dikatakannya, dirinya juga memberikan banyak masukan-masukan kepada suaminya dalam proses pembuatan mesin tersebut.

“Untuk mempertahankan, home industri yang kita geluti. Tentu kita harus lebih kreatif, sehingga usaha kita bisa terus berjalan. Alhamdulillah dengan adanya mesin ini, pekerjaan semakin mudah,” ujar Evi menambahkan.

Ternyata, hasil karya Nofirman memang sudah menjadi langganan pada kontestan TTG, baik itu tingkat Kota Tanjungpinang, Provinsi, maupun Nasional. Diungkapkan Nofirman, khusus mesin pengupas kulit kacang ini, dirinya belum bisa mempatenkan haknya. Karena masih terbentur pada beberapa persoalan. Salah satunya adalah gambar tekni mengenai mesin tersebut.

“Kalau untuk mesin penggonseng kacang sedang dalam proses hak patennya. Sementara untuk mesin pengupas kulit kacang, belum bisa. Karen saya tidak bisa membuat gambar tekniknya. Untuk mesin penggonseng dibantu oleh pihak sekolah SMK. Sekarang ini masih belum bisa,” keluh Nofirman.

Ditanya apakah pembinaan yang sudah diberikan oleh Pemko Tanjungpinang maupun Pemprov Kepri, Novirman mengaku belum ada sampai saat ini. Bahkan dirinya baru berinisiatif untuk meminta dukungan dari Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah. Karena dirinya butuh peralatan-peralatan pendukung, seperti las.

“Untuk aktivitas bengkel, tentu butuh las, gerinda, dan sebagaimana. Senin baru dikomunikasikan lagi dengan Pak Wali,” tutur Nofirman. Disinggung apakah sudah ada pihak-pihak yang berminat dengan hasil karyanya, Nofirman mengaku belum ada yang memesan kepada dirinya sampai ke saat ini.

Seperti diketahui, Provinsi Kepri kembali keluar menjadi yang terbaik dengan meraih dua gelar bergengsi pada ajang Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat nasional yang diselenggarakan di Kota Mataram, Nusa Tengga Barat (NTB). Capaian tersebut menunjukan program pemberdayaan masyarakat melalui TTG di Kepri sudah berjalan dengan baik.

Juara pertama disabet oleh Pos Pelayanan Teknologi (Posyantek) Gerbang Madani, Batam yang digawangi oleh Yogi Suwaduwon. Kemudian untuk diraih dari bidang Inovasi TTG. Yakni Alat Pengopek Kacang K/5 hasil kreasi Nofirman dari Ibu Kota Provinsi Kepri, Tanjungpinang. Penghargaan kepada Pemerintah Provinsi Kepri diserahkan langsung oleh Menteri Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sanjojo.

Prestasi ini, tentunya menjadi pelecut bagi pihaknya untuk terus melakukan pembinaan yang sama secara berkelanjutan. Ia berharap melalui program TTG 2017 mendatang, akan melahirkan inovasi-inovasi baru yang tentunya bermanfaat bagi masyarakat. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kepri, Sardison mengatakan hasil karya yang kita miliki harus dipatenkan. Selain itu juga harus memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Sehingga penemuan yang didapat tidak sia-sia. Kami akan terus mendorong masyarakat untuk terus berkreativitas lewat TTG,” ujar Sardison belum lama ini, kepada Batam Pos.(Jailani)