batampos.co.id – SG mengaku terpaksa menjadi kurir sabu. Ia menyimpan barang haram itu di dalam anus.

Bukan, itu bukan pekerjaan utama SG.

Sejatinya ia ialah penjual jeruk. namun ia sedang bangkrut. Ia butuh modal.

“Upah yang dijanjikan Rp 6 juta,” ujar terdakwa.

Ia berharap upah itulah yang akan jadi modal.

Sebagai ongkos, terdakwa menerima biaya Rp 2 juta dari Dedi (sedang dikejar). Dengan dana itu, terdakwa berangkat ke Malaysia menemui Inal, lalu dua paket sabu yang dibalut dalam kondom sudah disiapkan.

“Inal memasukkan dua paket itu ke dubur saya dan rasanya sangat sakit,” ungkap SG, ayah beranak dua ini.

Dari Johor, terdakwa langsung kembali ke Batam menggunakan ferry yang berlabuh di Pelabuhan Harbour Bay, (15/10) 2016 lalu. Namun dengan jalan yang tertatih-tatih, terdakwa di curigai petugas Bea dan Cukai yang kemudian dibawa ke RS Awal Bros untuk di ronsen. Hasilnya, tampak dua benda mencurigakan yang diketahui adalah sabu dengan total berat 106 gram.

Hal ini terungkap dalam sidang terdakwa di Pengadilan Negeri Batam, Selasa (14/2) sore.

Sidang beragendakan pemeriksaan terdakwa itu digelar dihadapan majelis hakim yang dipimpin Syahrial, didampingi Taufiq dan Jasael.

Terdakwa mengatakan, akibat terdesak kebutuhan ekonomi, ia menerima tawaran menjadi kurir dari rekannya Inal (dicari) di Malaysia.

Ungkapan terdakwa tersebut, menegaskan bahwa dakwaan penuntut umum dan keterangan saksi-saksi yang dihadirkan adalah sama dan benar. Selanjutnya, persidangan terdakwa beragenda tuntutan yang digelar pekan depan. (nji)

Respon Anda?

komentar