Iklan
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Foto: istimewa

batampos.co.id – Fundamen ekonomi Indonesia diproyeksi lebih stabil seiring dengan pertambahan arus modal masuk (capital inflow). Bank Indonesia (BI) mencatat capital inflow mulai Januari hingga pertengahan Februari mencapai Rp 26 triliun.

Iklan

Aliran modal tersebut masuk lewat foreign direct investment (FDI) atau investasi asing langsung dan portofolio di pasar modal. Sepanjang tahun lalu, capital inflow ke Indonesia tercatat Rp 126 triliun.

Di sisi lain, Indonesia juga mengirimkan komoditas ekspornya sehingga pasokan valuta asing meningkat. Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo menyatakan, naiknya harga komoditas cukup membuat investor optimistis akan prospek perekonomian Indonesia.

Dia menjelaskan, investor masih melihat capaian fundamental tahun lalu. Misalnya, pertumbuhan ekonomi yang naik dari 4,8 persen pada 2015 menjadi 5,02 persen pada 2016. Lalu, inflasi 3,02 persen yang masih sejalan dengan sasaran BI. Juga, cadangan devisa yang naik menjadi USD 116,4 miliar.

Sementara itu, defisit transaksi berjalan menyempit pada 0,8 persen dari produk domestik bruto (PDB).

”Kami juga mengikuti IMF (Dana Moneter Internasional, Red) atau lembaga survei Bank Dunia yang sudah melakukan kajian soal ekonomi Indonesia. Kan hasilnya positif,” kata Agus setelah menggunakan hak pilih dalam pilkada DKI Jakarta kemarin.

”Kami juga melihat Moody’s Rating maupun Fitch yang semuanya mengonfirmasi tentang kesehatan Indonesia tetap sebagai investment grade. Malah outlook-nya berubah dari netral menjadi positif,” terangnya.

Agus menilai, secara fundamental, nilai tukar masih stabil. Nilai tukar rupiah juga masih dipengaruhi faktor global. Mata uang dolar AS terus menunjukkan penguatannya. Berdasar kurs tengah BI, rupiah masih melemah.

Sejak 9 Februari 2016, kurs tengah BI menunjukkan nilai tukar rupiah berada di Rp 13.308 per USD dan terus melemah hingga Selasa (14/2) ke level Rp 13.330 per USD.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menjelaskan, pemerintah harus bisa menjaga optimisme investor. Apalagi, investor masih melihat yield investasi Indonesia secara jangka panjang.

Capital inflow tahun ini bisa tumbuh positif dari tahun lalu selama investor melihat confidence dari Indonesia dan juga fundamental perekonomian yang kuat.

”Kuncinya stabilitas. Investor juga melihat pemerintahannya, bisa menjaga sentimen positif atau tidak,” ujarnya. (rin/c25/sof/jpgrup)