ilustrasi
foto: rezaa herdiyato / batam pos

batampos.co.id – Kamis (16/2), beberapa warga sengaja datang ke gedung DPRD hendak bertemu para wakilnya untuk menyampaikan aspirasi.

Akan tetapi niat itu harus terganjal dengan beberapa prosedur yang rumit, karena pelayanan di DPRD Batam terlalu berbelit-belit. Buktiinya untuk mencari informasi keberadaan ruang pimpinan dan sekretariat saja, tak ada satu pun pegawai yang mengarahkan mereka. Penerima tamu tidak ada yang berjaga di sana.

“Ini yang jaga resepsionis mana? Masak sudah jam tiga sore masih istirahat,” gerutu salah seorang warga di depan meja resepsionis DPRD Batam.

Menurut warga Botania itu, dia ingin ke lantai dua ruang protokol. Namun dia tak mengetahui posisi persis ruangan protokol tersebut, sehingga haru mencari tahu ke resepsionis.

“Heran, masak tak ada satupun yang jaga. Gimana kalau yang datang pejabat,” keluhnya.

Senada itu, dua orang pemuda lainnya juga merasa bingung saat menanyakan ruangan salah seorang anggota DPRD. “Katanya di Komisi III. Kebetulan baru pertama ke sini, jadi tak tahu,” ucap warga itu.

Pantauan Batam Pos (Jawa Pos Group), gedung wakil rakyat itu memang tampak sepi, begitu juga dengan pos penjagaan penerima tamu. Papan bertuliskan ‘istirahat’ masih terpampang di depan meja resepsionis. Padahal sudah pukul 15.00 WIB, jam istirahat pun sudah habis.

“Pada kemana nih orang,” ujar Wini, seorang wanita yang mengaku dari salah satu Hotel di Batam.

“Mau nawarin paket hotel. Ruang anggota dewan dimana ya,” tanya dia.

Sebelumnya, Ketua Komisi IV DPRD Kota Batam, Riky Indrakari mengatakan, jumlah tenaga harian lepas di DPRD Batam di atas 100 orang.

“Kalau tak salah 162 orang,” kata Riky.

Riky juga mengusulkan agar setiap penerimaan tenaga harian lepas (THL) harus memuat hak dan kewajiban yang jelas. Sehingga menjadi tolak ukur menentukan kinerja mereka.

“Termasuk juga kewajiban untuk datang ke kantor. Pola kerja yang terukur, hasil (output) kinerja yang dilakukan,” kata Riky. (rng/iil/JPG)

Advertisement
loading...