Petugas Pertamina menyusun tabung gas 3 Kg untuk dijual di Tanjungunggat Tanjungpinang, belum lama ini. F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Kepala Dinas perindustrian dan Perdagangan (Disprindag) Provinsi Kepri, Burhanuddin mengatakan realiasi kebutuhan gas elpiji 3 kilogram (kg) di Provinsi Kepri tahun 2016 lalu mencapai 42.770 Metrik Ton (MT) atau sekitar 42.770.00 kg. Disprindag sudah membuat perencanaan kebutuhan di 2017

“Karena tingginya kebutuhan gas elpiji 3kg, maka di 2017 ini kami mengajukan penambahan kuota kepada pemerintah pusat. Karena kita perhitungkan kebutuhan di 2017 ini adalah 49.141 MT atau 49.141.000 kg,” ujar Burhanuddin menjawab pertanyaan Batam Pos di Kantor Gubernur Kepri, Dompak, Tanjungpinang, Kamis (16/2).

Dijelaskannya, kewenangan untuk mengatur hilir mudik kuota gas 3 kg di Provinsi Kepri, tidak lagi berada di bawah Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben). Tetapi sudah dibawah kendali Disprindag Provinsi Kepri. Diberikan tanggungjawab ini, tentu menjadi pekerjaan besar bagi pihaknya. Karena belum semua daerah di Provinsi Kepri mendapatkan Kuota gas elpiji 3 kg.

Burhanuddin menyebutkan, di tahun 2016 lalu, kuota gas yang diperoleh Kabupaten Bintan adalah 4.789 MT. Sedangkan kebutuhan riilnya adalah 5.091 MT (106 persen). Kemudian peruntukan bagi Kota Batam adalah 32.269 MT, dan realiasinya adalah 32.100 MT (99 persen). Selanjutnya Tanjungpinang mendapatkan 5.738 MT, sedangkan realiasinya adalah 5.579 MT (97 persen).

“Secara keseluruhan jumlah kuotanya adalah 42.796 MT. Adapun jumlah yang terpakai 42.770 MT. Artinya hanya sedikit yang tersisa dari kuota yang diberikan,” papar Burhanuddin.

Mantan Kepala Penghubung Provinsi Riau tersebut juga mengatakan, pihaknya sudah membuat ancang-ancang kebutuhan gas elpiji 3 kg, untuk kebutuhan tahun ini. Karena tahun 2016 lalu, Pemprov Kepri sudah mengusulkan kuota tambahan yang diperuntukan bagi Kabupaten Karimun dan Kabupaten Lingga.

Dipaparkannya, kuota gas 3 kg bagi Provinsi Kepri di 2017 ini yang terdiri dari Bintan 5.409 MT, Batam 33.649 MT, Tanjungpinang 5.993. Sementara Karimun mendapatkan bagian konversi gas elpiji dari minyak tanyak sebanyak 4.090 MT. Ditanya kenapa daerah kawasan Natuna, Anambas Lingga (NAL) belum mendapatkan kuota gas, Burhanuddin mengatakan sarana pranasaran penunjung masih belum memadai ditiga daerah tersebut.

“Karena yang melakukan penilaian adalah Dirjen Pembinaan Minyak dan Gas, Kementerian ESDM. Melakukan konversi di kawasan NAL masih perlu persiapan,” papar Burhanuddin.

Dijelaskannya, infrastruktur-infrastruktur pendukung yang dibutuhkan NAL adalah seperti depot, Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPBBE/SPBE). Selain itu juga membutuhkan agen serta pangkalan. Karena Kuota yang diusulkan, berdasarkan pengajuan dari panggkalan dan agen yang ada di kabupaten/kota.

“Persentase kenaikan yang kita ajukan masih dibawah 15 persen. Kita juga berharap pemerintah pusat, khususnya dapat melakukan pembangunan sarana dan prasarana penunjang seperti SPBBE/SPBE,” tutup Burhanuddin.(jpg)

Advertisement
loading...