batampos.co.id – Sejumlah nelayan di Kecamatan Jemaja memilih menyandarkan kapal motornya di dermaga, ketimbang melaut mencari ikan. Hal ini dilakukan karena kondisi gelombang yang masih tinggi dilaut yang diprediksi mencapai 2,5 meter bahkan sampai 4 meter.

“Kami tidak ingin ambil resiko, biarlah kami sandarkan kapal didermaga dari pada akan mengalami musibah dilaut,” ungkap Kasni, yang terlihat pesimis untuk melaut, Kamis (16/2).

Meski dirinya tidak berani melaut, namun dirinya juga tahu, jika saat ini masih ada nelayan yang nekat mencari ikan dengan kondisi gelombang saat ini. Pasalnya gelombang yang tinggi seperti ini justru ikan semakin mudah didapatkan, tapi harus menerima resiko yang tinggi pula. “Saat gelombang seperti ini ikan kuat makan, jadi lebih banyak dapatnya,” ungkapnya.

Diakuinya meski nelayan masih nekat kelaut, tapi tidak sejauh pada saat gelombang teduh. Pada saat gelombang teduh, biasanya nelayan harus menempuh jarak sekitar 8 mil dari pantai. Namun untuk saat ini hanya 4 mil sudah dapat ikan. “Kalau saya biarlah memilih istirahat saja,” ujarnya.

Sejak sepekan terakhir ini dirinya tak melaut, tapi mencari kesibukan sendiri seperti dengan mengurus kebun dan lain-lain. Dirinya mengaku trauma pada tahun sebelumnya pernah mengalami musibah dilaut dan hampir tenggelam, masih beruntung ada kapal nelayan lain menolongnya.

Ketika itu kapal motor yang dibawanya mengalami kerusakan mesin selama satu jam dilaut dan dirinya hanya bisa pasrah, karena dihantam gelombang besar secara terus-menerus. Ia hanya bisa membuang air laut yang sudah masuk ke kapalnya dan ikan yang dihasilkannya harus dibuang kembali untuk mengurangi muatan kapal.

Setelah ada kapal nelayan lain melintas dan menghampirinya, ia langsung naik kapal itu dan yang dia pakai ditinggalkan begitu saja di
laut.

“Masih beruntung ada kapal lain menolong saya ketika itu, kalau tidak saya akan tenggelam dengan kapal yang saya bawa itu. Masih terbayang dengan kajadian itu dan tidak akan pernah saya lupakan,” kenangnya.

Sementara pantauan media ini pasar ikan terlihat sepi. Biasanya pasar ikan Siantan ramai hingga pukul 11.00 WIB masih beraktifitas, tapi akhir-akhir ini pada pukul 10.00 saja sudah tampak sepi.

Asmirwan Sekretaris HNSI Anambas membenarkan jika harga ikan di Anambas meningkat saat ini, buka hanya itu penampung juga saat ini kesulitan untuk mengirimkan ikan ke ke Tanjung Pinang karena kapal Kargo tidak bisa berlayar karena cuaca ekstreem. Sepinya ikan di pasaran membuat harga ikan naik.

“Harga ikan tongkol dipengepul saat ini mencapai Rp10.000 sampai dengan Rp11.000/Kg yang biasanya hanya Rp6000 sampai dengan Rp7000 saja. Ikan tenggiri yang besar Rp40.000, Tenggiri yang kecil Rp25.000. sedangkan ikan Angoli mencapai Rp65.000kg,” kata Asmirwan yang didampingi Tarmizi Ketua HNSI Anambas Senin (13/2)

Nelayan yang berani melaut adalah memang nelayan yang nekat. Namun untuk turun kelaut itu nelayan mesti menanggung resiko yang sangat besar. Bahkan baru-baru ini ada nelayan asal Kecamatan Siantan Timur yang sempat hilang namun sudah ditemukan karena berteduh sedang berteduh di salah astu pulau yang ada di kecamatan Siantan Selatan. “Memang saat ini adalah musim panen ikan namun resiko yang dihadapi juga besar,” tuturnya.

Selain itu lanjut Mantan Anggota DPRD Natuna Dapil Anambas itu saat ini banyak Fiber ikan milik penampung yang masih belum dapat dibawa ke Tanjung Pinang, karena Kapal kargo yang tak bisa berlayar. (sya)

Respon Anda?

komentar