Iklan
Pekerja merapikan gas 3 Kg (gas melon) di salah satu distributor LPG yang berada di Ruko Anugrah Park, Bengkong, Senin (13/2). F.Rezza Herdiyanto/Batam Pos

batampos.co.id – Dalam beberapa kesempatan, Rahma terpaksa merogoh kocek lebih banyak untuk dapat Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram (Kg). Pasalnya,  pangkalan sering kehabisan stok dan memaksa dia membeli gas subsidi pemerintah itu di kedai yang harganya jauh lebih mahal.

Iklan

Di pangkalan resmi hanya Rp 18 ribu pertabung sementara di kedai lebih mahal yakni Rp 25 ribu.

“Bedanya Rp 7 ribu, kalau nggak begitu (beli di kedai) nggak masak kita,” ucap warga Marina Sekupang Rahma.

Yang buat dia heran, sering dia mendapati ketersediaan LPG di kedai ada, namun di pangkalan sudah habis. Namun dia memilih untuk tidak berburuk sangka.

“Yang jelas kami butuh gas itu. Yang tahu pemerintah mungkin ya?” katanya, mengira.

Jika konsumen rumah tangga seperti Rahma kerap tidak dapat, sebaliknya konsumen usaha mikro terbilang cukup. Seperti warga Bengkong Nasrul yang sehari-hari berjualan gorengan di ruas Jalan Raja M Tahir dekat Komplek Greenland Batamcenter.

Nasrul mengaku dia mendapat jatah LPG dua hari sekali. Jumlahnya yang dia dapat sembilan hingga sepuluh tabung.

“Habis itu terpakai,” kata pedagang asal Semarang Jawa Tengah ini.

Tidak hanya dirinya, teman-temannya baik yang satu pangkalan maupun pangkalan lain juga tidak pernah tidak dapat jatah gas.

“Tetap dikasih,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam Zarefriadi mengira adanya penjualan LPG di luar pangkalan resmi karena ada warga yang jual kembali kuota yang mereka dapat.

“Kan rumah tangga sebulan tiga tabung, yang lebih dan tak terpakai mereka jual lagi,” kata Zarefriadi.

Ditanya berapa tabung untuk usaha mikro, mantan Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) ini mengaku tak hafal dan menyarankan ditanya ke Provinsi karena bagian Energi dan Sumberdaya Mineral sudah ke Provinsi.

Dikonfirmasi, Sales Eksektuit Elpiji PT Pertamina (Persero) Branch Marketing Kepulauan Riau R Kibar Adhiharsa juga mengaku tak tahu berapa tabung untuk rumah tangga dan usaha mikro yang merupakan konsumen yang berhak mendapatkan LPG 3 kg.

“Kalau tentang itu bisa ditanyakan ke Disperindag atau ESDM,” ucapnya.

Terkait kedai penjual LPG, dia mengatakan Pertamina hanya tahu soal agen dan pangkalan yang memiliki izin dari pemerintah dan pertamina.

“Pangkalan harus punya rekomendasi ke pemerintah dan memiliki izin kotak kerjasama dengan agen, kalau dua syarat ini tak ada bukan pangkalan itu,” paparnya.

Area Manager Communication dan Relations Sumbagut Fitri Erika dalam suatu kesempatan mengatakan, terkait persoaaln harga yang tinggi di kedai bukan lagi wilayah kerja Pertamina. Menurutnya, Harga Eceran Tertinggi (HET) Pertamina hanya bisa mengawasi hingga tingkat pangkalan.

“Di eceran, toko dan lainnya tak bisa, itu sudah di luar lembaga resmi kita. Tugas kita hanya sampai pangkalan yang harus jual sesuai HET,” terangnya.

Untuk itu pihaknya tak bisa berbuat banyak tentang kedai-kedai yang menjual LPG di atas HET. Namun jika pangkalan yang menetapkan harga di atas HET pasti akan ditindak. Tak hanya itu, jika ada yang diketahui main mata dengan pengecer atau kedai akan diberikan sanksi tegas.

Pemberlakuan sanksi tergantung tingkat pelanggaran yang dilakukan pangkalan.

“Jika jual di atas HET, kita kenakan sanksi administratif hingga hentikan suplai, kalau sudah pidana ke pihak yang berwajib,” tuturnya.

Di Batam, kebutuhan LPG 3 Kg cukup tinggi, maka dari itu dalam beberapa kesempatan Pertamina menaikkan pasokan. Terhitung sejak 1 Desember 2016 Batam mendapat tambahan pasokan 1.742 tabung perhari dari yang semula penyaluran November 2016 sebanyak 34.720 tabung perhari, penambahan ini otomatis menambah pasokan ke Batam hingga 36.462 tabung per hari.

Tak berhenti di situ, dalih memenuhi kebutuhan konsumen rumah tangga, Pertamina bahkan khusus pada periode 16 hingga 24 Desember 2016 menambah pasokan 47.040 tabung atau 5.880 tabung per hari. Artinya selama tiga hari tersebut Batam mendapat 42.342 tabung setiap harinya.

Mengingat pasokan yang demikian tinggi, dia menghimbau agar masyarakat dapat membeli gas pada pangkalan yang memiliki identitas resmi serta harga jual mengacu HET yang ditetapkan pemerintah.

“Di Batam saat ini pelayanan LPG 3 kilogram melalui 11 agen dan 1.632 pangkalan resmi,” ucapnya.

Untuk tahun penyaluran LPG 3 Kg tahun 2017, Erika mengatakan pihaknya masih menunggu kuota yang ditetapkan pemerintah dalam hal ini Kementrian ESDM.

Menurutnya, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri ESDM nomor 26 tahun 2009 tentang penyediaan dan pendistribusian LPG, maka peruntukan LPG 3 kg hanya bagi sektor rumah tangga dan usaha mikro. Pertamina hanya sebagai badan usaha yang menyalurkan dan mendistribusikan sesuai kuota yang ditetapkan oleh kementrian ESDM.

“Kalau tahun sebelumnya, realisasi LPG 3 kg di Kota Batam tahun 2016 sebesar 32.100 metric ton atau naik 7 persen dari 2015 sebesar 29.900 metric ton,” kata Erika.

Secara umum, di Kepri  ada tiga daerah yang melaksanakan konversi LPG 3 kg yaitu Batam, Bintan dan Tanjung Pinang.

Tahun 2016, penyaluran 3 kg LPG pada tiga daerah ini sebesar 42.771 metric ton atau naik 8 % dari tahun 2015 yang realisasinya sebesar 39.772 metric ton. Jumlah tahun 2015 ini juga mengalami kenaikan sebesar 9 % dibandingkan tahun sebelumnya 2014 sebesar 36.508 metric ton.

Dia menambahkan untuk memberikan pilihan bagi masyarakat atau konsumen menggunakan bahan bakar gas rumah tangga, Pertamina menyiapkan Bright gas kemasan 5,5 kg non subsidi.

Di Batam, pihaknya telah mendistribusikan Bright gas kemasan 5,5 kg non subsidi tersebut melalui 220 outlet pada  1 Februari lalu .

“Tahap awal disediakan 3.000 tabung dengan harga jual 55 ribu rupiah di ex agen atau 61 ribu rupiah di outlet,” ucapnya.

Dia mengatakan Bright gas 5,5 kg memiliki kelebihan, di antaranya lebih aman dengan fitur katup ganda yang mengadopsi teknologi double spindle valve system sehingga 2 kali lebih aman.

Fitur keamanan diperkuat dengan adanya tambahan segel resmi Pertamina yang dilengkapi dengan hologram fitur optical color switch (OCS) yang telah memperoleh paten dan tidak dapat dipalsukan.

“Nyaman juga, ini solusi bagi konsumen yang membutuhkan kemasan lebih ringan dan praktis. Harganya juga terjangkau,” ucapnya.

Bright gas 5.5 kg merupakan varian kemasan baru yang melengkapi Bright gas kemasan 12 kg yang telah ada sebelumnya.

“Bright Gas 5,5 kg termasuk dalam kategori LPG umum (non subsidi),” pungkasnya. (cr13)